Berlibur ke Kuala Lumpur


KLCC1Menurut para master fengsui, Tahun Baru Cina 2016 kali ini merupakan tahun monyet. Salah satu karakter utama si monyet adalah gerak-geriknya yang lincah nan gesit. Dari hal tersebut muncullah tafsir bahwa tahun monyet merupakan tahun petualangan. Para petualang akan plesir kesana-kemari bagaikan monyet yang lincah bergerak, berlari, berlompatan, berloncatan dari satu dahan ke dahan lain, dari satu pohon ke pohon lain, bahkan sari satu hutan ke hutan lain.

Meskipun tidak sepenuhnya menganut tafsiran fengsuinya Tahun Baru Imlek kali ini, tetapi ada pola persamaan yang bahkan menjadi suatu obsesi dan cita-cita. Apalagi kalau bukan soal keinginan untuk berpetualang mengenal berbagai belahan bumi karunia ciptaan Sang Maha Pencipta ini. Bahkan mungkin setiap orang memiliki keinginan terpendam untuk sebanyak-banyaknya mengenal negeri orang, berkunjung ke luar negeri.

Tidak secara sadar ternyata sebuah perjalanan wisata keluarga yang kami canangkan justru sangat berdekatan dengan momentum Imlek dan Cap Go Meh. Atas beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali beranjangsana ke negeri Jiran yang pernah juga kami kunjungi di awal tahun 2015 silam. Berbeda dengan kunjungan pertama yang kami fokuskan untuk mengenal lebih dekat Kuala Lumpur, pada kunjungan yang ke dua ini kami sedikit melebarkan kunjungan ke wilayah Putra Jaya meskipun untuk tempat menginap pilihan masih jatuh di Kuala Lumpur.

Kenapa dolan ke Malaysia lagi? Ada beberapa catatan yang menjadikan kami ingin mengunjungi negeri Upin-Ipin ini untuk kedua kalinya. Dari segi jarak, Malaysia pastinya merupakan salah satu negeri yang sangat berdekatan dengan Indonesia. Waktu tempuh penerbangan dari Soekarno-Hatta ke KLIA2 tidak lebih dari dua jam. Jarak dan waktu tempuh ini menurut kami masih sangat reliable buat si Bungsu kami yang baru menginjak usia dua tahun. Perjalanan yang terlalu lama masih kami hindari mempertimbangkan si Bungsu yang mudah boring dengan suasana yang berlangsung terlalu lama.

Pertimbangan ke dua, soal biaya. Terus terang keluarga kami merupakan keluarga sederhana yang hidup tidak senantiasa berkelimpahan. Dengan demikian kami harus mengatur segala arus pendapatan dan pengeluaran secara cermat. Maka sudah semenjak jauh hari, istri bertugas untuk memantau kemungkinkan tawaran tiket promosi dari beberapa maskapai yang sering memberikan layanan perjalanan berbaget terjangkau.

Tidak sebatas biaya tiket pesawat, biaya akomodasi dan transportasi lokal di negeri tujuan juga pastinya menjadi pertimbangan yang penting pula. Soal tempat penginapan, dari pengalaman kepergian kami di tahun sebelumnya, masih sangat memungkinkan mendapatkan layanan penginapan untuk keluarga dengan harga yang sangat terjangkau dan pastinya terletak di tempat yang strategis untuk mengakses berbagai destinasi yang menjadi tujuan wisata kami. 

Bagaimana dengan transportasi lokal di sana? Off course, tentu saja jika dibandingkan dengan Jakarta maupun kota besar lainnya di tanah air, sarana dan prasarana transportasi di Malaysia jauh lebih maju dan tertata. Perihal layanan, ketepatan waktu, dan tarif cukup bersaing dan tidak menguras kantong para pelancong. Khususnya di wilayah pusat kota Kuala Lumpur bahkan tersedia layanan bus GoKL, sebuah bus yang dirancang untuk melayani para wisatawan secara percuma alias gratis tis!

Pertimbanga lain berkaitan kondisi makro, baik sosial budaya maupun ekonomi Malaysia yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Bagaimanapun Malaysia memiliki banyak akar sejarah yang sama dengan Indonesia. Malaysia dengan komponen bangsa Melayunya berkerabat dekat dengan masyarakat Melayu di Sumatera. Maka dari segi bahasa dan beberapa tampilan seni dan budayanya banyak memiliki kesamaan. Salah satu hal yang menyamankan wisatawan Indonesia ketika berkunjung ke Malaysia ya tidak perlu dipersyaratkan memiliki skor TOEFL yang tinggi. Dengan bahasa Indonesiapun kita bisa bercakap-cakap dengan lancar dengan para pakcik dan makcik.

Soal ekonomi memang Malaysia sudah sedikit melesat di depan Indonesia. Meskipun di masa awal berdirinya Perserikaran Kerajaan Diraja Malaysia masih serba di belakang kondisi negeri kita, namun saat ini negeri yang pernah diperintah PM Mahathir Muhammad ini terus melesat dengan berbagai kemajuan di berbagai sektor pembangunan. Dari sisi ini, perjalanan pengelaan ke Negeri Jiran juga merupakan sebuah studi banding untuk memperluas wawasan dan pengalaman kami, terutama sebagai bekal pembelajaran yang sangat berharga bagi anak-anak di masa kelak.

Bagi sampeyan yang pernah merambah Malaysia, mungkin sedikit banyak sampeyan setuju dengan beberapa catatan saya di atas. Bagi yang belum berkesempatan ke sana, monggo silakan berburu tiket promo yang dapat mengantarkan kita ke negeri tetangga dengan low cost flight alias penerbangan berbiaya yang terjangkau. Bukankah bahkan salah satu maskapai penerbangan menggaungkan pesan “Now Everyone can fly!” Tunggu apa lagi? Monggo! Tentu saja, berkelana ke negeri orang tidak akan sama sekali melunturkan rasa nasionalisme di dada kita.

Ngisor Blimbing, 22 Fabruari 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s