Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan


Citra adalah gambaran, persepsi atau pandangan mengenai sesuatu atau seseorang berdasarkan pengamatan dari sudut pandang, jarak pandang, cara pandang, ataupun resolusi pandang tertentu. Citra jelas bukan sesuatu yang sedang diamati atau dipandang. Citra sejatinya sebuah bayangan dari hasil suatu pantulan maupun resonansi yang dilakukan. Nah, bagaimana dengan pencitraan?

Jika citra lebih merupakan hasil proses melihat sesuatu dari sudut pandang pihak pengamat di luar sosok yang sedang diamati. Maka pencitraan bisa dimaknai sebagai sebuah tindakan, rekayasa, hingga manipulasi agar citra yang dilihat oleh pihak luar terlihat baik dan bagus dari segi suatu kepentingan tertentu. Pelaku pencitraan bisa pribadi yang bersangkutan maupun pihak lain yang berkepentingan agar seseorang tertutupi fakta ketidak-baikannya atau keburukannya. Dengan demikian ada sebuah kebohongan dan ketidakjujuran, ada rekayasa dan manipulasi dalam suatu pencitraan.

Kita bisa menyebutkan banyak contoh-contoh perbuatan pencitraan di sekitar kehidupan kita sehari-hari, terutama di ranah kehidupan sosial kemasyarakatan. Seorang artis selalu ingin diliput hingga terhadap setiap kegiatan kecil dalam kesehariaannya. Ia ingin terkenal dan semua orang tahu akan kehidupannya. Dengan popularitas tersebut ia merasa memiliki akses lebih untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Dengan terkenal semakin terbuka peluang kontrak atau job-job baru. Dengan demikian uang akan lebih banyak mengalir untuk memenuhi pundi-pundi kekayaannya.

Maka kita tidak usah heran jika mendengar atau melihat berita tentang seorang artis yang tengah melaksanakan umrah diliput tuntas pada sebuah acara infotainment. Ataupun jika seorang artis tengah berlibur bersama keluarganya di suatu akhir pekan. Atau kabar mengenai seorang artis yang tengah menggelar acara selamatan dan pengajian sambil membagi-bagikan amplop kepada kaum fakir. Atau juga bahkan dengan berita seorang artis yang tengah menjalani detik-detik proses persalinan. Dari sudut kaca mata publik sebagai pemirsa, apakah kita perlu tahu sampai sedetail-detailnya kehidupan seorang artis?

Jika seorang artis ingin diketahui perbuatan atau kehidupan pribadinya sekecil dan sedetail mungkin, namun hal tersebut tidak berlaku untuk sisi keburukan kehidupannya. Untuk sisi negatif kehidupannya, seorang artis akan berusaha sekuat mungkin untuk menutupinya. Bahkan tak jarang demi tetap ingin kelihatan sempurna dan tak pernah memiliki kesalahan, mereka melakukan berbagai tindak kebohongan. Soal perselingkuhan, perceraian, narkoba, hingga tindakan asusila beragam artis akhirnya terbongkar satu per satu dan seolah-olah tidak pernah ada habisnya. Intinya seorang artis ingin selalu tercitrakan sebagai orang baik di mata umum.

Pencitraan di kalangan artis hanyalah contohnya kecil yang ingin penulis hadirkan sebagai contoh yang konkrit. Di tengah masyarakat, di bidang kehidupan yang lain, mulai politik, ekonomi, hukum, sebenarnya juga banyak pencitraan-pencitraan yang dilakukan. Menjelang pemilihan wakil rakyat ataupun kepala daerah, bukankah dalam setiap kampanye setiap calon selalu menggembar-gemborkan dirinya sebagai sosok yang bersih, berkompeten, dan ideal untuk dipilih. Padahal nanti ketika kursi kekuasaan benar-benar telah digenggamnya, barulah kelihatan wajah aslinya sebagai “penggarong” harta rakyat. Bukankah banyak contoh seperti ini di sekitar kita?

Dalam kaidah agama Islam, tindakan memanipulasi informasi dengan menutup-nutupi fakta yang sebenarnya agar kita nampak sebagai orang baik merupakan tindakan ketidakjujuran. Ketidakjujuran tentu saja termasuk ke dalam perbuatan bohong. Dan bukankah salah satu ciri dari seorang munafik adalah melakukan kedustaan? Lebih jauh jika rekayasa pengingkaran itu dilakukan terhadap eksistensi Tuhan Allah SWT, maka yang bersangkutan pula akan terperosok kepada sifat kekufuran.

Kira-kira landasan dan pola pikir sebagaimana saya uraikan inilah pokok-pokok diskusi yang mengambil tema “Kufur Awrads: Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan” dalam acara Kenduri Cinta edisi Februari 2016 di Taman Ismail Marzuki pekan lalu.

Ngisor Blimbing, 14 Februari 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan

  1. kusumah wijaya berkata:

    begitulah hidup, seperti melihat panggung sandiwara

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s