Menyusur Jawa Barat Bagian Selatan


Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk ke dua berdasarkan etnik kesukuan di Indonesia tentu sangat menarik untuk dijelajahi. Dinamika perkembangan sosial budaya masyarakat Sunda tentu saja tidak bisa dilepaskan sama sekali dengan keberadaan bentang alam Parahyangan dengan topografi tanahnya yang bergunung-gunung. Sebelum lebih jauh mendalami sisi kehidupan sosial masyarakat Jawa Barat, tentu secara selayang pandang kita perlu mengnal bentang alamnya terlebih dahulu.

Wilayah Pantura Jawa Barat yang terbentang mulai Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, hingga Bekasi merupakan jalur lintasan akses utama menuju ibukota Jakarta dari berbagai kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Hal ini tentu saja menjadikan infrastruktur di jalur ini lebih mendapat perhatian pemerintah. Saat ini bahkan telah beroperasi jalur tol Cikampek hingga Palimanan yang juga dikenal sebagai Tol Cipali. Mungkin bisa dibilang setiap orang yang bepergian dari Jakarta ke Jawa Tengah – Jawa Timur melalui darat, baik dengan kendaraan jalan raya maupun kereta api, pernah melintas jalur Pantura dan telah mengenal meskipun serba sedikit mengenai wilayah utara Provinsi Jawa Barat. Bagaimana dengan wilayah Jawa Barat bagian selatan?

Sekian tahun tinggal di Kota Kembang Bandung dan wira-wiri Bandung – Magelang tidak membuat pengenalan saya terhadap wilayah selatan Jawa Barat memadai. Perjalanan bus yang sering saya lakoni di malam hari semakin membuat hal tersebut terbatas. Sekedar beberapa nama daerah dan hapal urutan letaknya, seperti Cileunyi, Nagreg, Malangbong, Gentong, Ciawi, Tasik, Ciamis, hingga Banjar Patroman mungkin ya, tetapi tidak pernah mengenal secara mendalam. Benar-benar hanya sekedar lewat selintas di malam hari tanpa pernah menyinggahinya.

Jika alasan kurang tahu tentang wilayah selatan Jawa Barat dikarenakan berperjalanan melintasi daerah ini di malam hari, maka apakah tidak pernah ingin mencoba melintasinya di saat siang hari? Keinginan tersebut tentu saja ada. Akan tetapi keterbatasan ruang dan waktu membuat niatan tersebut senantiasa tertunda.

Bersamaan dengan liburan pergantian Tahun Baru Imlek, kebetulan saudara saya yang tinggal di Cilacap menyelenggarakan sebuah hajatan selamatan sederhana. Dikarenakan sudah diwanti-wanti untuk datang jauh-jauh hari, maka sayapun menyempatkan diri untuk dapat datang. Awalnya ingin pergi dengan kereta api Serayu jurusan Pasar Senen – Purwokerto via Bandung dan Cilacap. Namun karena liburan akhir pekan panjang sudah dilirik banyaj orang, maka sayapun kehabisan tiket. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dengan bus. Agar dalam perjalanan tersebut sekaligus saya ingin mengenal lebih seksama wilayah selatan Jawa Barat, maka saya memilih menempuhnya pada siang hari. Riangnya lagi, saya ditemani si Ponang dalam perjalanan tersebut.

Dengan segala keterbatasan mengena bus-bus yang beroperasi di lintas selatan Jawa Barat, saya memutuskan untuk naik bus dari Terminal Kali Deres atau Kampung Rambutan. Akhirnya kami memilih berangkat dari Kampung Rambutan, meskipun lebih jauh dari titik keberangkatan kami di Tangerang. Pertimbangan sederhana yang kami ilih dikarenakan di Kampung Rambutan bus yang akan berangkat biasanya start agak lebih siang dibandingkan yang berangkat dari Kali Deres. Ada beberapa pilihan bus, seperti Damri, Doa Ibu, Budiman, juga Gapuraning Rahayu.

Ketika tiba di Terminal Kampung Rambutan sekitar pukul 07.15 pagi, ternyata bus yang masih tersedia hanyalah Gapuraning Rahayu. Ndilalahnya pucuk dicinta ulam tiba, bus tersebut melayani trayek dengan tujuan akhir ke Kawunganten. Karena tujuan kepergian kami adalah Gandrung Mangu, tentu saja kami dapat langsung turun di Sampir tepat di seberang rumah saudara yang akan saya kunjungi.

Akhirnya kesampaian juga melintas Jawa Barat bagian selatan di siang hari. Jadinya kami menjadi lebih paham tentang suasana jalur Bandung, Nagreg, Malangbong, Ciawi, Gentong, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Citanduy, Wanareja, Majenang, Cimanggu, Karang Pucung, Sidareja, hingga Gandrung Mangu. Dan perjalanan panjang dengan jalanan sempit berkelok dan turun naik harus kami tempuh lebih dari 12 jam. Namun dengan panorama alam yang cantik eksotik di kanan-kiri jalanan, kami merasa menikmati perjalanan dengan tambahan wawasan dan pengetahuan baru mengenai salah satu sisi keindahan bumi Nusantara. Kami merasa suatu saat jalur ini harus kami eksplore lebih dalam dan lebih sering lagi, entah dengan kereta api ataupun bus kembali.

Ngisor Blimbing, 10 Februari 2016

Gambar dipinjam dari sini, sini, dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s