Dongeng Momoking dan Momoqueen


Pada suatu hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Momoking dan Momoqueen berjalan beriringan pada suatu jalan di pinggiran hutan. Mereka ingin sekali menuju ke desa terdekat untuk turut merayakan kegembiraan datangnya tahun baru. Pergantian tahun senantiasa mengundang Momoking dan Momoqueen untuk turun gunung. Mereka selalu gembira menyambut perayaan.

Semenjak dari kejauhan sudah terdengar sayup-sayup kesibukan warga desa dalam mempersiapkan perayaan tahun baru. Perayaan kali ini pastinya akan jauh lebih meriah. Terlebih bagi kedua Momo, tahun yang akan datang merupakan tahun bershio monyet. Mereka sangat berharap akan datangnya kelimpahan kebahagian di sepanjang tahun yang akan datang.

Sepanjang perjalanan, Momoking tak henti-henti berlompatan sambil bercanda riang dengan Momoqueen. Sesekali keduanya saling main tebak-tebakan kata. Pada kesempatan yang lain keduanya bermain petak umpet sambil berjalan.

Nah, pada saat petak umpet inilah Momoking mendapat giliran jaga sedangkan Momoqueen harus secepat mungkin bersembunyi. Setelah menghitung sekian lama, Momoking segera mencari dimana Momoqueen bersembunyi. Sebatang pohon beringin besar ia teliti, namun Momoqueen tidak ada. Di balik sebongkah batu besar iapun tidak menemukan Momoqueen. Akhirnya Momoking memeriksa semua semak belukar di pinggiran jalan setapak. Tetap juga nihil. Momoqueen yang dicarinya tidak juga nampak.

Setelah merasa lelah dengan pencariannya, Momoking sedikit jengkel. Ia mulai berteriak memanggil-manggil Momoqueen. Beberapa saat setalah ia memanggil-manggil nama Momoqueen, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan. Ia terkejut, terperangah dan segera memalingkan pandangan ke seluruh sudut hutan. Suara itu adalah jeritan Momoqueen. Momoking sangat hafal dengan suara Momoqueen.

Sesaat kemudian, Momoking berhasil menangkap bayang sosok Momoqueen. Namun alangkah terkejutnya Momoking. Momoqueen tengah meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari dua sosok manusia yang menangkap tubuhnya. Otak Momoking langsung berpikir cepat, pasti dua orang tersebut ingin menculik Momoqueen. Momoking langsung berlari secepat kilat menuju tempat Momoqueen. Namun sungguh sayang seribu sayang, kecepatan lari Momoking kalah cepat dengan lari kedua penculik yang langsung menghilang di balik rerimbunan pohon di hutan. Momoking hanya gigit jari sambil menahan nafasnya yang terengah-engah.

Menghadapi kenyataan pahit yang tiba-tiba datang tersebut, Momoking menjadi sedih. Namun ia menyadari bahwa bagaimanapun kejadian tersebut benar-benar di luar kemampuan dirinya. Semua sudah menjadi kenyataan takdir. Sekhawatir dan secemas apapun dirinya, Momoking harus mencoba untuk tenang dan berpikir lapang. Jika dirinya tidak mampu mengatasi masalahnya, bukankah ia dapat meminta bantuan orang-orang desa. Mereka adalah sahabatnya. Apapun yang menjadi masalahnya, biasanya para warga dengan ringan tangan berkenan membantu.

Akhirnya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang Momoking melangkah pelan menhampiri desa di tepian hutan. Di sana para warga tengah sibuk bergotong royong dalam menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Para orang dewasa sibuk membersihkan jalanan dan memperbaiki pagar rumah masing-masing. Ada pula yang memasang umbul-umbul warna-warni lengkap dengan lampion-lampion indahnya. Anak-anakpun tidak mau ketinggalan. Mereka turut menghiasa tepian jalan dengan warna-warni lampu hias yang cantik. Singkatnya semua orang nampak ceria mengerjakan pekerjaan secara bersama-sama. Ringan sama dijinjing, beratpun sama-sama mereka pikul.

Kedatangan Momoking tanpa Momoqueen sedikit mengundang tanya diantara beberapa warga desa. Akhirnya bersamaan dengan waktu istirahat, semua warga berkumpul sambil mengitari Momoking yang nampak menjadi pendiam tidak seperti biasanya. Beberapa orang dewasa mewakili warga lain menanyakan keberadaan Momoqueen dan mengapa Momoking tidak seceria biasanya.

Sambil menghela nafas, Momokingpun berkisah tentang perjalanannya menuju desa. Di tengah perjalanan, ia kehilangan Momoqueen karena ada gerombolan penculik jahat yang membawa lari Momoqueen. Dengan cermat diceritakannya pula ciri-ciri pakaian serta gerak-gerik para penculik Momoqueen.

Beberapa warga langsung paham tentang ciri-ciri para penculik Momoqueen. Satu diantaranya memberikan saran agar semua warga turut membantu membebaskan Momoqueen. Ia juga memberi tahu bahwa kelemahan para penculik tersebut ada pada bubuk berwarna biru milik kepala desa. Jika serbuk tersebut ditebar dan mengenai tubuh para penculik, maka seketika kekuatannya akan berkurang bahkan bisa sirna.

Akhirnya Momoking dengan didampingi beberapa warga desa kembali masuk ke dalam hutan. Mereka berjalan menelusuri sungai yang konon di hulu sungai itulah tempat persembunyian para penculik. 

Singkat cerita Momoking dan warga desa berhasil menemukan sarang para penculik. Perkelahianpun tidak dapat terhindarkan lagi. Kawanan penculik tersebut terlihat sangat tangguh. Meskipun jumlahnya lebih banyak, tetapi kekuatan Momoking dan warga desa tidak dapat mengimbangi kekuatan lawan. Banyak warga desa yang menderita luka oleh sabetan senjata para penculik. Lama kelamaan kekuatan warga desa semakin menipis dan posisi mereka semakin terdesak.

Di saat yang kritis itulah, Momoking segera mengeluarkan serbuk biru dari kantong bajunya. Dengan penuh rasa emosi, ia menebarkan serbuk ke arah tubuh para penculik. Ajaib! Seketika, tiba-tiba saja tubuh lawan-lawan yang perkasa itu langsung tersedot tenaganya. Merekapun jatuh terkulai bagaikan terlepas tulang belulangnya. Mereka lumpuh di sekujur tubuhnya. Mereka menjadi tidak bisa bergerak sama sekali. Akhirnya Momoking berhasil membebaskan Momoqueen dari cengkeraman para penculik.

Bersama para warga desa, Momoking dan Momoqueen berjalan beriringan kembali menuju desa. Di sana kemeriahan perayaan tahun baru ternyata sudah dimulai. Merekapun segera larut dalam kegembiraan yang meluap-luap. Tidak lupa tentu saja mereka mengucapkan syukur kepada para dewa. Tahun barupun membentangkan masa depan yang cemerlang di depan mata. Inilah keberkahan Tahun Monyet, tahunnya Momoking dan Momoqueen.

Lor Kedhaton, 3 Februari 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s