Numpak Andong Klinang-Klinong


Andong1Andong memang kini menjadi sarana transportasi yang semakin langka. Keberadaannya makin terpinggirkan oleh  moda transportasi lain yang berbasis mesin. Andong hanya tersisa di kota-kota kecil, maupun di pinggiran kota besar. Mungkin karena sudah semakin langka tersebut, maka anak-anak begitu girang ketika melihat andong yang melaju di jalanan. Kegirangan tersebut tentu akan bertambah riang ketika mereka berkesempatan naik andong keliling jalanan.

Andong memiliki beberapa nama sebutan dari andong, dokar, saldo, delman, dan mungkin masing-masing daerah di tanah air memiliki bahasanya masing-masing untuk menyebut jenis kendaraan tradisional yang ditarik oleh kuda ini. Jaman kecil dulu, kesempatan naik andong juga merupakan hal yang sangat langka bagi kebanyakan anak-anak.

Di Muntilan, daerah kelahiran saya, andong kala itu hanya melewati rute trayek yang sangat terbatas, yaitu daerah wetan pasar hingga Gulon. Namun hampir dalam setiap kesempatan diajak ke pasar Muntilan, orang tua kami senantiasa mengajak kami naik andong hingga Gulon untuk dilanjutkan dengan angkutan colt.

Di kampung tempat simbah tinggal, kebetulan ada tetangga simbah yang memiliki profesi sebagai kusir andong. Namanya Slamet atau sering juga dipanggil Pak Eko karena anak sulungnya bernama Eko. Sebagai kusir andong, Pak Eko sekaligus juga bertindak sebagai pemelihara kuda. Setiap hari ia mencari rumput, merajangnya, kemudian dicampur dengan dedak atau bekatul untuk makanan kudanya. Pada saat tidak sedang narik, maka kuda tersebut ditambatkan di gadhok atau kandang kuda yang pojokan dusun depan rumah Pak Eko.

Andong di masa itu senantiasa dilengkapi dengan berbagai asesoris yang semakin mempercantik tampilan sang kuda beserta keretanya. Ada berko yang merupakan wadah lampu minyak untuk penerangan di malam hari.  Ada pula klinong. Klinong merupakan bel khusus terbuat dari tembaga yang diinjak seperti pedal untuk membunyikannya. Klinong berfungsi selayaknya klakson pada kendaraan bermotor saat ini.

Dari klinong inilah telah tercipta sebuah tembang dalam bahasa Jawa yang menurut saya sangat legendaris dan senantiasa mengundang memori di masa kecil. Klinang-klinong numpak andong muter kutho…..thing-thong!…dst. Bahkan sudah setengah lupa dengan syair tembang tersebut.

Andong2

Pergeseran jaman rupanya hingga kini belum bisa sepenuhnya meminggirkan keasyikan naik andong, setidaknya bagi sebagian besar anak-anak kita. Di beberapa sudut dan pinggiran kota, andong memang masih setiap mengantarkan para bakul dan simbah-simbah yang pulang atau pergi ke pasar. Namun di berbagai tempat, andong secara perlahan telah mengalami pergeseran peran dan fungsinya. Andong di masa kini lebih berperan sebagai sarana hiburan yang dianggap sebagai aset atraksi pada suatu tempat wisata. Andong telah bergeser dari alat transportasi menjadi alat hiburan.

Di ibukota Jakarta, selain eksis di Taman Monas, andong kini semakin terdesak di kawasan pinggiran. Salah satu tempat yang masih memberikan ruang bagi keberadaan andong khas betawi adalah kawasan Graha Raya di sudut Kota Tangerang Selatan. Menyertai aktivitas warga yang ber-car freeday di hari Minggu pagi, beberapa pemilik delman sengaja turut meramaikan suasana dengan menjajakan jasa untuk mengantar penumpang keliling jalanan. Berbeda dengan andong di Malioboro yang besar dan cukup lebar, kereta kuda khas Betawi berukuran sedikit lebih sempit, meskipun keduanya ditarik oleh satu ekor kuda. 

Dengan iringan rintik gerimis pagi yang telah membalut Minggu pagi itu sedari semalaman, saya berkesempatan nuruti keinginan si Genduk untuk numpak andong. Memang di umurnya yang baru lewat dua tahun, itulah kali pertamanya anak perempuan kami tersebut berkesempatan naik andong. Beberapa kali berpapasan dengan andong pada saat kami berboncengan sepeda, ia nampak sangat berhasrat kepingin naik andong. Tak heran ketika hasratnya kesampaian, si Genduk nampak sangat riang dan gembira. Ia tidak mau dipangku dan memilih duduk sendiri di sudut sadel belakang sambil lirih berdendang…..pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka, kududuk di samping pak kusir yang sedang bekerja,mengendali kuda supaya baik jalannya.

Akh, tentu saja saya sangat bersyukur dapat menikmati suasana syahdu bersama Genduk meski setelahnya kami diguyur hujan lebat yang seolah iri dengan kebahagiaan kami. Siapa ingin bernostalgia naik andong lagi? Hayuuuk…..

Lor Kedhaton, 25 Januari 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s