Terpedaya Kaya Raya


Kantong UangSadar tidak sadar, pola pikir manusia masa kini memang jauh lebih maju. Dari sisi latar pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman hidup yang lebih luas, sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhan yang lebih terjangkau, tentu pola pikir manusia masa kini lebih dinamis dalam menjalani hidup. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman, banyak godaaan iklan-iklan melalui televisi, media koran, hingga media sosial yang secara sangat gencar bin masif menggiring opini kita sehingga seolah manusia modern membuat konsensus bahwa kesuksesan hidup tertinggi adalah menjadi kaya raya!

Jika agama mengajarkan bahwa setinggi-tingginya derajat manusia terletak pada tingkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Tuhan yang termanifestasi dalam bentuk keluhuran akhlak serta budi pekerti, maka teori tersebut sudah dianggap usang terhadap kemajuan jaman. Orang menempuh pendidikan setinggi-tingginya untuk meraih pekerjaan yang enak. Dengan pekerjaan yang enak, manusia berharap bisa mendapatkan gaji yang tinggi. Gaji yang tinggi senada dengan kemampuan untuk memiliki rumah mewah, kendaraan mewah, dan pastinya gaya hidup juga serba mewah.

Demikian halnya dengan popularitas. Orang ingin menjadi terkenal, menjadi artis atau selebritis, ataupun profesi lainnya. Dengan keterkenalannya, orang tersebut mengharapkan memiliki banyak relasi atau kenalan untuk memperbesar peluang mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya. Dan ujungnya, dengan uang yang melimpah ia bisa membeli apa saja dan hidup dengan penuh kemewahan. Jika memungkinkan bahkan kaya raya penuh foya-foya.

Begitupun setali tiga uang dengan seseorang yang berusaha meraih kekuasaan atau jabatan politik. Dengan penuh liku, jika perlu mempergunakan strategi politik uang atau tindakan apapun, demi menduduki suatu kursi kekuasaan. Kemudian dengan kekuasaan yang tergenggam tersebut, ia ingin memperluas peluang bisnis keluarga atau kolega pendukungnya. Kekuasaan merupakan suatu investasi untuk memperlancar urusan bisnisnya. Bahkan tidak sedikit penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, rekan, kelompok atau golongannya sendiri. Bukankah tidak sedikit para pejabat aktif maupun mantan pejabat yang kemudian terungkap keterlibatannya dalam berbagai tindak pidana korupsi?

Menjadi kaya raya memang bukan sama sekali larangan Tuhan. Akan tetapi jika manusia kemudian memakai segala cara, menghalalkan semua upaya, menginjak ke bawah, sikat-sikut ke kanan dan ke kiri, juga menjilat ke atas untuk mencapai kekayaannya pasti rusaklah semua tatanan pranata kehidupan. Hukum dan peraturan diinjak-injak seenak perutnya sendiri. Jika hal demikian yang terjadi, dunia tentu akan menjelma menjadi rimba raya tanpa tegaknya nilai-nilai keadilan. Hukum yang ada adalah hukum rimba dimana yang besar akan memangsa yang kecil, yang kuat akan menindas yang lemah, yang kaya akan menggilas yang miskin, yang pintar akan ‘minteri‘ yang bodoh, bahkan pemimpin akan menikam rakyatnya sendiri. Bukankah kurang lebih hal seperti ini yang kini semakin menggejala di tengah kehidupan kita?

Di tingkat negara, yang merupakan tingkatan sistem sosial kemasyarakatan yang tertinggi, ambisi menjadi kaya raya yang dilakukan dengan menghalalkan segala macam cara akan berakibat jauh lebih fatal, sistemik, dan masif. Kekayaan negara berupa anugerah sumber daya alam yang melimpah tidak akan menjadi berkah kemakmuran bagi seluruh rakyat karena dikuasai oleh segelintir orang saja. Akibatnya terjadi sentralisasi kekayaan yang menyebabkan jurang ketimpangan ekonomi. Alih-alih mewujudkan pemerataan ekonomi yang berkeadilan, justru yang terjadi adalah pola pemiskinan sistemik terhadap kaum lemah. Anda tentu sama sekali tidak terkejut dengan fakta bahwa satu persen kelompok kaya raya di tanah air kita menguasai sembilan puluh sembilan persen aset ekonomi bangsa dan negara.

Mau terus-terusan dengan kondisi seperti ini? Jika jawabnya adalah ya, maka tunggulah kehancuran bangsa yang konon subur makmur, murah sandang, papan dan pangan ini.

Ngisor Blimbing, 23 Januari 2016

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s