Siapa Berani Dengan Teror?


Indonesia sebagai tempat yang senantiasa stabil keamanannya, kembali terusik oleh aksi teroris pada beberapa hari yang lalu. Sebuah kafe dan sebuah pos penjagaan polisi lalu lintas di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, menjadi sasaran penyerangan. Dalam adu baku tembak yang cukup dramatis, akhirnya para pelaku tindakan laknat tersebut berhasil dilumpuhkan oleh aparat keamanan. Tujuh orang dinyatakan tewas. Lima diantaranya merupakan para pelaku aksi teror, sedangka dua orang merupakan korban orang sipil. Total korban dalam peristiwa berdarah tersebut lebih dari 25 orang menderita luka-luka dan harus menjalani perawatan di beberapa rumah sakit.


Masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, memang tergolong manusia yang “super berani”. Bagaimana tidak bisa dikatakan demikian, jika di berbagai media, baik elektronik, massa, maupun sosial terlihat ribuan massa justru berkerumun turut “menonton” baku tempak antara aparat dan teroris. Sebagian diantara mereka justru aktif dan agresif berfoto ria untuk mengunggahnya di akun sosial media yang dimilikinya.


Andaikata dalam penyerangan yang terjadi tersebut, di samping para pelaku yang tertembak seketika dan yang terlibat dalam baku tembak, juga terdapat pelaku lain yang telah siap siaga untuk meledakkan kerumunan para penonton, kejadian tentu akan jauh lebih tragis dan memilukan. Korban sia-sia pasti akan bergelimpangan di jalanan. Kenapa jika terjadi peristiwa entah kecelakaan, entah bencana, entah tawuran, tembak-menembak, selalu ada warga yang ingin menjadi penonton langsung di tempat kejadian perkara. Apakah benar-benar mereka para pemberani?
Keberadaan kerumunan warga sesaat setelah serangan terjadi, justru menjadi sarana yang sangat mudah bagi para pelaku yang lain untuk menyusup, berbaur, dan kemudian melarikan diri. Mereka juga secara sadar maupun tidak dapat pula merusak berbagai bukti lapangan yang seharusnya nantinya bisa menjadi alat petunjuk untuk mengungkap lebih jauh jaringan dalang di balik peristiwa penyerangan. Belum lagi jika tujuan aksi teror benar-benar ingin membunuh kerumunan massa.
Tidak hanya warga biasa, sesaat selepas para pelaku berhasil dilumpuhkan juga nampak beberapa pejabat tinggi, seperti menteri, kepala intelijen, gubernur, juga muncul di tempat kejadian. Bukankah seandainya terjadi serangan tahap berikutnya, mereka justru akan menjadi sasaran empuk?
Memang untuk peristiwa Sarinah kemarin kita secara awam dapat memperkirakan aksis teror yang dilakukan ditujukan terhadap simbol-simbol tertentu, bukan untuk membunuh secara membabi buta. Namun di tengah booming penggunaan media sosial untuk berekspresi diri dan bernarsis ria saat ini, warga semakin kehilangan pertimbangan rasional yang matang ketika menyangkut kepentingan bersama yang lebih besar.
Semenjak drama pengepungan pelaku di gedung Cakrawala berlangsung, jalur media sosial tanah air dipenuhi oleh berbagai hasil aksi selfie para penonton di lapangan. Diantara para pengguna media sosial tersebut yang mengekspresikan aksi teror Jakarta dengan hastag #PrayforJakarta, #TidakTakutTeror, dll. Aksi itupun terus bergulir hingga semakin meluas dan menguat ketika kemudian beberapa tokoh mengeluarkan pernyataan ‘tidak takut dengan teror’.
Benarkah kita tidak takut teror? Benarkah kita benar-benar berani berhadapan langsung dengan teror? Apakah keberanian itu hanya cukup diekspresikan di media sosial? Langkah kita secara nyata dalam turut mencegah aksi teror seperti apa?
Sebagai makhluk Tuhan, adalah sebuah kewajaran manusia bahwa manusia memiliki rasa takut sekaligus berani. Ketika kita menegaskan berani dengan teroris, seringkali ungkapan tersebut hanya sebatas ungkapan di lisan atau paling banter ekspresi kita di media sosial. Kita menyatakan berani karena kita tidak di posisi sebagai korban langsung dari tindakan teror atau setidaknya satu diantara keluarga, saudara, teman atau kenalan kita yang menjadi korban. Benarkah jika kita disandera kelompok teroris kita masih akan berkata lantang ‘tidak takut dengan teror’?
Apakah jika kita tidak takut dengan teror itu hebat? Benarkah jika kita berani berhadapan dengan teroris itu hebat? Kemudian jika ada yang menyatakan ketakutan dengan tindakan teror itu kemudian jelek atau bahkan berdosa?
Karena takut dan berani adalah sifat normal dari seorang manusia normal, maka orang yang takut ataupun yang berani dengan teror itu sama-sama orang normal. Nah sikap normal tersebut bisa berubah menjadi tidak normal ketika ada unsur berlebihan dalam rasa takut ataupun berani yang kita miliki. Takut ataupun berani harus ditakar atau ditempatkan dalam konteks ruang dan waktu yang tepat. Apakah jika menonton peristiwa baku tembak antara aparat dan para pelaku teroris itu bisa disebut sebagai tindakan berani? Atau justru sebuah tindakan kurang perhitungan tanpa berpikir risiko yang lebih panjang?
Keberanian yang berlebihan justru seringkali mendorong manusia kepada sikap sombong, takabur, meremehkan, kurang perhitungan, bahkan kekonyolan. Secara pribadi saya ingin mengatakan bahwa saya takut dengan perbuatan teror. Dengan rasa takut yang sewajarnya, tanpa berlebihan, saya berharap saya bisa lebih bersikap dengan hati-hati dan penuh perhitungan seandainya ada aksi teror sedang berlangsung di sekitar kita. Di samping itu kita juga lebih antisipatif untuk turut mendukung tindakan pencegahan aksi teror di lingkungan kita masing-masing.
Terorisme akan semakin tumbuh subur di tengah lingkungan masyarakat yang semakin individualis. Tidak mengenal tetangga, tidak saling bertegur sapa, tidak saling berinteraksi, bersikap asosial dan lebih mementingkan kehidupan di dunia maya bisa jadi merupakan situasi yang akan semakin membiakkan benih-benih terorisme. Bukankah banyak diungkap markas para pelaku teror di tengah kos-kosan atau lingkungan yang kurang terbina kehidupan sosialnya secara benar dan wajar?
Takut dan berani adalah sifat manusia dari manusia. Tidak berlebihan dan berusaha menyeimbangkan antara rasa takut dan rasa berani adalah sikap bijak dalam menyikapi maraknya aksi teror yang ke depan mungkin akan semakin sering terjadi. Terorisme memang harus kita lawan dengan keberanian bersama. Kita harus rekatkan lagi kehidupan sosial kemasyarakatan kita dengan lebih baik. Hanya dengan cara itu kita dapat bersama-sama mencegah tumbuhkembangnya simpul-simpul kelompok teroris yang baru. Monggo sedoyo!

Ngisor Blimbing, 17 Januari 2016

Foto dipinjam dari situs ini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s