Sukabumi Pulang Pergi


Masih ada satu tema tulisan yang perlu saya tuliskan berkaitan dengan Sukabumi yang sempat kami kunjungi di akhir tahun kemarin. Keberangkatan kami ke kota di selatan gunung Gede – Pangrango ini salah satunya berkaitan dengan ketertarikan untuk merasakan sensasi kereta api jalur Bogor – Sukabumi. Jalur tua warisan Belanda ini dapat mengantarkan penumpang ke Sukabumi dari titik keberangkatan di Bogor selama kurang lebih dua jam perjalanan.

Dari berbagai pengalaman warga lokal maupun wisatawan yang pernah mengunjungi daerah Sukabumi, kereta api Argo Pangrango merupakan satu-satunya moda transportasi yang paling handal untuk mencapai kota kelahiran artis Desy Ratnasari tersebut. Apa pasal penyebabnya?

Berbeda dengan kota-kota lainnya di Jawa Barat, seperti Bogor, Bandung, Tasikmalaya, ataupun Cirebon, kota Sukabumi bukanlah kota penghubung atau transit ke wilayah lain. Sukabumi tidak terletak di jalur perlintasan yang menghubungkan antar daerah di sekitarnya. Kalau orang mau bepergian dari Bandung ke Jakarta, tentu sangat jarang yang menempuh jalur Bandung-Cianjur-Bogor, kemudian ke Jakarta. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab utama sedikit tertinggalnya pembangunan infrastruktur jalan raya ke Sukabumi.

Dengan kontur wilayah yang bergunung-gunung, jalanan yang telah ada bisa dibilang sangat lambat berkembang, baik dari sisi lebar, kaulitas badan jalan, maupun keberadaan jalan baru. Kondisi inilah yang menjadikan akses jalan yang ada, khususnya pada hari libur, senantiasi padat bahkan macet. Jarak antara Sukabumi – Bogor yang terbentang tidak lebih dari 62 km harus ditempuh dalam waktu 5-7 jam. Dalam kondisi normal tanpa kemacetanpun jarak tersebut rata-rata harus ditempuh selama 3 jam.

Khusus untuk moda transportasi jalan raya, sebenarnya banyak armada angkutan umum yang membuka trayek dari Bogor, Depok, Jakarta, Cianjur, maupun Bandung. Namun kisah kemacetan yang terus terjadi berlarut-larut sering menjadikan calon wisatawan urung untuk mengunjungi Sukabumi.

Dalam liburan kami ke Sukabumi beberapa waktu lalu, keberangkatan kami menuju Sukabumi menggunakan kereta api Argo Pangrango dari stasiun Paledang Bogor. Berhubung liburan akhir tahun juga bersamaan dengan liburan anak sekolah, maka okupansi kereta tersebut menjadi sangat tinggi. Meskipun kami kebagian tiket keberangkatan, namun kami terpaksa gigit jari untuk urusan kepulangan dari Sukabumi. Dengan sedikit nekad, kami tetap berangkat dengan rencana kepulangan naik bus.

Dari beberapa rekan dan kolega yang pernah menjalani pengalaman perjalanan Sukabumi-Bogor menggunakan bus, mereka menyarankan agar kami agak sedikit pagian untuk menghindari kemacetan. Akhirnya pada hari kepulangan kami, sekitar pukul 07.30 kami sudah stand by di sekitar terminal bus Sukabumi.

Pada area terminal sudah berjajar berbagai bus dengan berbagai kota tujuan. Untuk tujuan Jakarta, ada yang ke Kalideres, Kampung Rambutan, Lebak Bulus, Pulogadung, dan Tanjung Priok. Ada pula bus jurusan Bandung via Cianjur. Bus-bus besar yang ada rata-rata merupakan bus patas kelas eknomoni non AC. Selain bus arah Bandung ber-AC, ada bus MGI dan PArung Indah, bus ukuran tiga perempat arah Lelak Bulus dan Depok juga dilayani armada yang dilengkapi dengan AC.

Selain naik bus umum, ada pula pilihan angkutan jalan raya yang menuju Bogor menggunakan ELF. Armada ini justru dikenal lebih handal untuk menembus kemacetan yang senantiasa terjadi. Di samping ukurannya yang lebih kecil dan jumlah penumpang yang lebih sedikit, konon mobil ELF dapat melewati berbabagai jalur alternatif ataupun jalan tikus untuk sampai tujuan dengan lebih cepat. Kendaraan ini sudah menjadi langganan orang asli Sukabumi yang sering bermudik di akhir pekan dari Jabodetabek. Namun bagi penumpang dengan bawaan barang yang banyak maupun membawa anak kecil, kenyamanan di kendaraan ELF ini sangat tidak recomended.

Setelah sempat bertanya dan sedikit berkeliling, untungnya masih tersedia bus AC jurusan Sukabumi – Depok. Bus berukuran tiga perempat ini jumlahnya tidak lebih dari sepuluh bus. Dari keterangan kondektur yang bersangkutan, kami dapatkan informasi bahwa bus keberangkatan jam 08.00 merupakan bus terakhir sesi pagi dari armada tersebut. Kami sengaja mencari bus ber-AC karena sudah membayangkan lamanya perjalanan yang akan kami tempuh, terlebih dalam kesempatan tersebut si kecil yang masih balita turut serta dalam perjalanan.

Dengan bus berwarna dasar biru kotak-kotak putih tersebut akhirnya membawa kami meninggalkan bumi Sukabumi. Dalam perjalanan kami menjadi sedikit bertambah paham tentang beberapa nama tempat maupun kota kecil di sepanjang jalan. Selepas keluar dari kota Sukabumi kami melintasi Cisaat, Cibadak, Parungkuda, Cigombong, hingga akhirnya tiba di Ciawi. Jalanan yang sempit, berkelok-kelok, dan padat kendaraan mengantarkan pengalaman menjalani perjalanan selama tiga jam.

Memang sudah jauh lebih maju dari daerah-daerah di pedalaman luar Jawa, tetapi pengalaman mengunjungi Sukabumi membangkitkan kembali kenangan perjalanan yang pernah saya tempuh untuk mengunjungi sebuah kota di pedalaman Sulawesi Barat. Kota Mamasa yang kemudian saya juluki sebagai Kota di Ujung Jalan Buntu tersebut harus dicapai dengan perjalanan selama sembilan jam lebih dengan jarak tempuh 90 km dari kota Polewali. Kalau Mamasa saya juluki Kota di Ujung Jalan Buntu-nya Sulawesi, mohon maaf juga jika Sukabumi saya gelari Kota di Ujung Jalan Buntu-nya Jawa Barat.

Moga ke depannya ada kemajuan berarti bagi infrastruktur jalur perhubungan dari dan ke Sukabumi. Mengingat sangat banyaknya potensi wisata alam di bumi Sukabumi, sektor transportasi harus mendapatkan perhatian yang lebih baik dari para pemangku kepentingan yang terkait kalau ingin wilayah ini maju di sektor pariwisatanya.

Lor Kedhaton, 11 Januari 2016

Foto terminal Sukabumi dri bismania.com

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s