Mochi Lampion Khas Sukabumi


Mengunjungi suatu daerah tentu tidak afdzol tanpa turut mencicipi sajian kuliner khas yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Bicara mengenai Sukabumi, menurut saya sajian kuliner paling khas dan sangat branded bagi daerah ini adalah kue mochi.

Menilik dari namanya saja, secara awam kita tentu dapat menebak bahwa jenis makanan ini bukan asli Sunda maupun Nusantara. Tidak sebagaimana bakso dan bakpao yang berasal dari daratan Tiongkok, mochi konon justru berasal dari negeri Sakura – Jepang. Tidak tahu persis bagaimana kue mochi bisa muncul di negara kita, namun mochi sebenarnya sangat identik dengan kue onde-onde khas Nusantara.

Mochi sebenarnya tersusun dari dua bagian, yaitu kulit dan isi. Bahan utama kulit mochi terdiri campuran tepung beras, maizena, dan ketan. Sebagai bahan pelengkap untuk bagian ini ditambahkanlah bumbu, mulai dari gula pasir, garam, vanili, air kapur sirih dan pewarna makanan. Semua bahan tersebut dibentuk menjadi adonan dengan bantuan air secukupnya.

Adapun sebagai isi, bahan yang paling khas digunakan adalah kacang hijau ataupun kacang tanah. Dengan tambahan gula halus, selai kacang dan susu kental, terciptalah moachi isi kacang yang merupakan produk original khas Sukabumi. Seiring dengan perkembangan jaman dan dalam rangka memenuhi selera rasa tuntutan pelanggan, maka dikembangkanlah mochi dengan berbagai varian rasa, seperti suji pandan, vanila, durian, pisang ambon, blueberry, melon, mocca, coklat, keju hingga strawberry.

Selama ini saya sendiri belum pernah membaca literatur yang menjelaskan bagaimana mochi yang asli Jepang tersebut hadir menjadi ikon kuliner paling khas dari Sukabumi. Konon mochi banyak dibuat sebagai industri rumahan dan banyak dijajakan di berbagai sudut kota Sukabumi. Namun pada kesempatan jalan-jalan kami ke Sukabumi, kenyataannya cukup sulit untuk menemukan toko oleh-oleh apalagi spesial hanya menjual mochi saja.

Mochi Kaswari1 Mochi Kaswari5

Mochi Kaswari2

Mochi Kaswari4 Mochi Kaswari3

Dari beberapa sumber informasi yang kami dapatkan, mochi Sukabumi paling mudah dijumpai di kawasan Gang Kaswari di bilangan Jalan Bayangkara. Gang Kaswari merupakan sebuah gang sempit tidak lebih dari dua meter, namun senantiasa ramai dan dipadati para pengunjung yang ingin memborong mochi Sukabumi. Kawasan ini memang terus dikembangkan oleh pemerintah setempat menjadi kawasan kuliner khas kota Sukabumi.

Diantara beberapa sentra pembuatan mochi, satu branded yang ternama dan merajai pasaran produksi maupun pemasaran mochi Sukabumi adalah mochi cap Lampion. Mochi cap Lampion diproduksi semenjak 1983 oleh keluarga Kuswandi. Rasanya yang kenyal khas, lembut di mulut dan licin di lidah menjadikan mochi Lampion menjadi merek mochi ternama hingga ke luar daerah.

Dalam wujud aslinya, kue mochi dikemas dalam wadah berbentuk kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Agar butiran mochi satu sama lain tidak lengket, juga agar mudah pada saat pengambilan maupun pengunyahan di mulut, penempatan mochi ditaburi dengan tepung terigu putih yang juga menjadi penambah rasa khas mochi yang kasat rasa di luar tetapi maknyuss di kulit dan isinya. Kue mochi dalam kemasan kotak bambu maupun kardus kecil biasanya berisi 10 butir. Kotak-kotak tersebut kemudian disatukan menjadi rentengan berisi lima kota sehingga sangat cocok untuk dijinjing pembeli. Satu rentengan mochi dijual antara harga Rp 25.000 hingga Rp. 35.000.

Jujur saya hanya sekedar doyan menikmati mochi tetapi tidak terlalu fanatik dengan rasanya. Ketika mengunjungi toko penjualan mochi Lampion tidak sebegitu dalam dari gerbang Gang Kaswari, suasana begitu gaduh oleh antrian pengunjung yang tidak terkendali karena tidak terlayani dengan baik. Sempitnya ruang toko, banyaknya pengunjung, terbatasnya stok dan pilihan oleh-oleh lain, sedikit membuat kami kecewa. Setelah keliling dan sempat melihat langsung rumah tempat pembuatan mochi Lampion akhirnya kami justru memutuskan untuk membeli mochi merek lain di deretan toko yang sedikit sepi.

Keterbatasan sarana dan prasarana dalam pelayanan pengunjung sedikit banyak mengurangi rasa kenyamanan. Jika hal demikian tidak mendapatkan perhatian untuk pembenahan ke depannya, bukan tidak mungkin pengunjung yang sekali datang ke Gang Kaswari akan kapok untuk datang pada kesempatan ke dua, tiga atau seterusnya.

Lor Kedhaton, 6 Januari 2016

Foto tumpukan mochi dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s