Sensasi Kereta Argo Pangrango


KA Pangrango1Kereta api merupakan salah satu moda angkutan darat yang bebas kemacetan. Di tengah semakin meningkatnya jumlah kendaraan darat dengan dominasi kendaraan pribadi saat ini tak ayal menimbulkan kemacetan, terlebih pada masa-masa liburan seperti yang terjadi pada liburan Natal minggu lalu. Maka kereta menjadi pilihan favorit untuk bepergian pada saat-saat liburan dengan harga tiket yang relatif terjangkau.

Secara umum, jaringan rel kereta api yang menghubungkan berbagai kota di pulau Jawa merupakan sarana yang dirintis semenjak jaman penjajahan Belanda. Salah satu jalur rel kereta api tua yang kini diaktifkan kembali adalah jalur antara kota Bogor – Cianjur yang melalui Sukabumi. Jalur kereta api yang melewati selah lembah-lembah antara gunung Salak dan Gede Pangrango tentu saja menyajikan eksotika pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Keberangkatan keluarga kami ke Sukabumi minggu lalu diantaranya juga dalam rangka ingin merasakan pengalaman naik kereta api di jalur tersebut.

Tatkala Bogor masih bernama Buitenzorg dan menjadi pusat pemerintahan Kolonial Belanda, kota Cianjur menjadi ibukota Karesidenan Priyangan. Untuk mempertahankan pulau Jawa dari Inggris, pasca kekalahan sekutu Belanda dalam perang di Eropa, maka Gubernur Jenderal Herman Willian Daendels mencanangkan “pembangunan” jalan raya Anyer – Panarukan yang menghubungkan ujung barat dan timur pulau Jawa. Jalan penghubung antara Bogor – Cianjur melalui Sukabumi merupakan salah satu ruas jalan yang merupakan bagian dari jalan raya yang juga dikenal sebagai Jalan Pos tersebut.

Dalam perkembangan masa tanam paksa setelah selesainya Perang Jawa (Perang Diponegoro, 1825-1830), beberapa jalur rel kereta api dibangun dalam rangka mengangkut berbagai hasil perkebunan. Kawasan kaki gunung Salak, Halimun, Gede, hingga wilayah Bandung Selatan dan Garut merupakan daerah sejuk yang sangat cocok untuk jenis tanaman strategis seperti kina, kopi, teh, juga tebu. Jalur kereta api Bogor – Sukabumi – Cianjur yang kemudian juga terhubung ke Bandung dibangun dalam rangka pengangkutan hasil bumi tersebut.

Jalur kereta api jantung selatan Jawa Barat ini kini hanya dilayani oleh rangkaian Kereta Api Argo Pangrango yang mulai dioperasionalkan sejal 9 November 2013. Sebelumnya jalur ini sempat dilayani dengan KA Bumi Geulis yang berpasangan dengan KA Siliwangi. Untuk dapat menikmati perjalanan KA Pangrango, calon penumpang harus memesan tiket terlebih dahulu. Pemesanan dapat dilakukan secara manual maupun online. Okupansi KA Pangrango saat ini tergolong tinggi mengingat Sukabumi-Cianjur merupakan salah satu destinasi wisata yang saat ini sangat diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Rangkaian KA Pangrango terdiri atas satu gerbong kelas eksekutif dan empat gerbong kelas ekonomi. Harga tiket kelas ekonomi berlaku secara progresif seharga Rp. 40.000 – Rp. 60.000. Adapun untuk tiket kelas ekonomi harganya antara Rp. 15.000 – Rp. 25.000. Kereta ini melayani rute Bogor – Cianjur dengan tiga kali keberangkatan dari Bogor, masing-masing pukul 07.55; 13.25; dan 18.30. Estimasi waktu tempuh Bogor – Sukabumi kurang lebih 2 jam 4 menit. Sedangkan Bogor – Cianjur ditempuh selama 3 jam 48 menit, atau rata-rata 4 jam.

KA Pangrango4

Ada hal penting bagi Anda yang ingin menaiki KA Argo Pangrango dari Bogor. Keberangkatan KA Pangrango bukan dari Stasiun Besar Bogor, tetapi dari stasiun Paledang. Stasiun Paledang sebenarnya lebih cocok disebut sebagai halte kereta. Stasiun super mini yang terdiri satu jalur rel ini terletak di belakang Matahari yang berseberangan dengan Stasiun Utama Bogor.

Berbeda dengan stasiun pada umumnya, Stasiun Paledang tergolong sangat minimalis. Peron kereta api hanyalah trotoar sederhana yang dialasi dengan lembaran stainless tipis dan berada di area terbuka. Kondisi tersebut tentu saja sedikit membuat calon penumpang kurang nyaman, panas oleh terik matahari maupun basah kuyup jika kebetulan sedang turun hujan. Di samping itu, tempat duduk di teras sebagai ruang tunggu juga hanya terdiri atas kursi yang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan banyak penumpang menunggu secara menyebar di pelataran yang dinaungi pohon rambutan dan jambu. Namun sisi keterbatasan ini justru menghadirkan suasana kuno bin ndeso layaknya suasana stasiun di jaman kolonial Belanda.
 KA Pangrango3  KA Pangrango2

KA Pangrango5  KA Pangrango6

Ketika perjalanan dimulai, kereta akan bergerak pelan nan manja. Jalur rel sesekali berbelok dan menanjak di lereng-lereng perbukitan. Nun jauh di sisi kanan nampak tinggi menjulang puncak gunung Salak. Tak seberapa lama kemudian, di sisi kiri juga muncul puncak gunung Gede Pangrango yang diambil sebagai nama kereta Bogor – Sukabumi – Cianjur ini. Kanan-kiri sepenjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan lereng, lembah, dan dataran yang menghijau. Beberapa kali kereta akan melintas di tepian alur sungai yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan arung jeram.

Selepas Stasiun Bogor Paledang, KA Pangrango akan mengantarkan kita untuk menyapa beberapa stasiun kecil, seperti Batutulis, Maseng, Cigombong, Parung Kuda, Cibadak, Karang Tengah, Cisaat, hingga Sukabumi. Jika berlanjut ke Cianjur, maka kereta akan melintasi stasiun Gandasoli, Cireungas, Lampegan, dan Cibedu sebelum memasuki kota Cianjur.

Kawasan Sukabumi memiliki beragam destinasi wisata. Di sisi utara yang merupakan dataran tinggi di kaki gunung Salak dan Gede memiliki banyak wisata alam berlatar pemandangan pegunungan yang sejuk. Adapun sisi selatan, sepanjang pesisir Samudera Hindia, pengunjung dapat menikmati deretan pantai, mulai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, dll.

Meskipun bukan merupakan kota persilangan ke jalur menuju daerah lain, jalur jalanan Bogor – Sukabumi – Cianjur terkenal sebagai jalur yang sangat padat hingga sering terjadi kemacetan. Di samping karena infrastruktur jalanan yang sempit, kondisi aspal juga bergelombang sehingga kendaraan tidak dapat melaju kencang. Jarak Bogor – Sukabumi kurang lebih 62,5 km dalam kondisi normal harus ditempuh selama 3 jam. Pada kondisi padat dengan kemacetan parah, jarak tersebut kadang harus ditempuh selama 5-6 jam. Dengan demikian pilihan bertamasya ke Sukabumi dengan KA Pangrango merupakan pilihan paling tepat untuk menghindari kemacetan jalanan.

Penasaran dengan kemolekan alam Parahiyangan yang dihadirkan dari sudut pandang gerbong KA Pangrango? Sekali-kali silakan mencoba sensasinya menyusur kawasan Parahiyangan selatan dengan KA Pangrango.

Lor Kedhaton, 29 Desember 2015

Gambar kereta ke dua diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s