Kemacetan dan Kemakmuran


Sungguh sebuah ungkapan yang cukup menggelitik ketika dalam pemberitaan mengenai fenomena kemacetan akbar di akhir tahun berkenaan dengan liburan panjang Natal dan Tahun Baru, beberapa awak media ada yang menyetir pernyataan seorang tokoh bahwa kemacetan menunjukkan bertambahnya kalangan menengah ke atas yang mampu membeli kendaran pribadi. Dan hal tersebut merupakan pertanda kemajuan ekonomi kita. Benarkah bahwa kemacetan berkorelasi dengan peningkatan kemakmuran masyarakat kita?

Pertambahan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat, tanpa diimbangi dengan penambahan panjang dan lebar ruas jalanan untuk menampungnya, tentu akan berbuntut dengan masalah kemacetan. Hal ini semakin diperparah dengan semakin enggannya masyarakat untuk menggunakan sarana moda transportasi umum (massal) yang memang belum sepenuhnya terbangun secara memadai.

Secara awam tidaklah berlebihan jika pertambahan jumlah kendaraan pribadi dewasa ini merupakan indikator yang menandakan bahwa masyarakat kita semakin meningkat pendapatannya. Dengan semakin tingginya pendapatan sangat mungkin jika masyarakat semakin memiliki daya beli terhadap kebutuhan sukunder serta tersier, termasuk soal kendaraan pribadi.

Kalaulah memang warga negara di republik ini memiliki penghasilan yang memadai, sehingga dengan penghasilannya itu kita menjadi mampu untuk mencukupi berbagai kebutuhan hidup (termasuk kendaraan pribadi), tentu saja hal tersebut bisa dianggap sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan dalam mewujudkan masyarakat yang tercukupi sandang, pangan, papan, dan kebutuhan lainnya. Jika hal demikian yang menjadi fakta tentu saja kita patut bersyukur dan bergembira. Tidak lama lagi tentu bangsa ini akan berlari semakin kencang mengejar ketertinggalannya dari negera-negara maju.

Namun di luar prasangka dan harapan baik kita, kita tentu saja juga paham bagaimana sangat murahnya pengucuran kredit di republik ini. Hanya dengan uang muka 100-200 ribu rupiah, masyarakat sudah bisa membawa sepeda motor baru ke rumahnya. Demikian halnya dengan kredit kendaraan roda empat. Kalau mau jujur, sesungguhnya kemampuan masyarakat membeli kendaraan pribadi sejatinya adalah baru sampai pada “kemampuan mengkredit”, belum kemampuan membeli sesungguhnya.

Salah satu dampak globalisasi yang mengemuka adalah perbuhana tata hubungan antara pencari hutang dan pemberi hutang, antara kreditor dan debitor. Jika di masa lalu seseorang yang karena desakan hidup memerlukan pinjaman uang dari pihak lain, maka dialah yang secara aktif mencari orang yang bersedia meminjaminya uang. Sebaliknya di jaman sekarang, justru para pemberi hutang, pemberi pinjaman, pemberi kredit yang secara aktif dan masif memburu para calon penghutang. Mereka tidak segan turun ke mall, pasar-pasar, hingga pinggiran jalan. Tidak hanya secara offline, merekapun aktif di dunia online. Contoh sederhana adalah penawaran kartu kredit.

Di sisi lain, ukuran kesuksesan hidup di jaman kini juga lebih dinilai dari sudut pandang materialistik. Banyaknya uang, tingginya pangkat atau jabatan, rumah mewah, termasuk tentunya kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi merupakan salah satu indikator penting ketika seseorang ingin dikatakan telah berhasil dalam hidupnya. Semakin ia memiliki kendaraan yang mewah dan mahal, maka gengsi dan kepercayaan hidupnya menjadi semakin tinggi. Orang tidak lagi peduli dengan parameter kebaikan atau kejujuran karena yang dianggap jauh leih penting adalah kekayaan.

Dua faktor di atas sebenarnya sebuah penggambaran fakta semu yang semakin menggejala di masyarakat kita. Semakin manusia mengejar kekayaan, biasanya kita akan cenderung semakin bersifat individualis. Kita menjadi mengesampingkan kebersamaan. Uang, uang sendiri! Hasil kerja keras sendiri. Kalaupun uang tersebut dibelanjakan untuk kendaraan pribadi ya nggak masalah dong. Ini menurut mindset sebagian masyarakat dewasa ini.

Namun demikian kita patut mempertimbangkan lagi soal pandangan hidup yang lebih bertumpu kepada sikap materialistis tadi. Jikapun kita mampu membeli atau setidaknya mengkredit mobil, motor ataupun kendaraan lain, benarkah hal itu memang menjadi kebutuhan kita? Ataukah dorongan kita memiliki kendaraan pribadi lebih berkaitan soal status, soal kebanggaan, soal gengsi dan previlage hidup?

Jika kita lebih memilih untuk mengedepankan keinginan pribadi dengan mengesampingkan nilai kebersamaan, maka yang akan terjadi ya fenomena sebagaimana kemacetan di jalanan kita. Fenomena “kemcaetan-kemacetan” itu tentu saja sangat luas maknanya jika kita melihat semua sektor kehidupan yang berkaitan dengan masyarakat, bangsa dan negara. Di bidang politik ada kemacetan, di bidang ekonomi, sosial budaya, dlsb. Lha monggo tinggal kita mau merenung dan berpikir mendalam untuk mengkoreksi sikap atau pandangan kita soal harta dunia, atau kita memilih untuk pasif ikut tenggelam dalam pusaran kegilaan dunia.

Ngisor Blimbing, 27 Desember 2015

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s