Mendidik dengan Kebersamaan Keluarga


Mendidik anak merupakan tanggung jawab kita bersama. Ya sekolah sebagai institusi penyelenggara sekolahan. Ya orang tua dan keluarga, maupun masyarakat secara umum mempunyai peranan atau andil masing-masing. Pendidikan di rumah oleh orang tua atau keluarga sebenarnya juga sangat menentukan keberhasilan seorang anak dalam menjalani pembelajaran di sekolahnya. Keluarga harus mendukung dengan memberikan suasana yang kondusif bagi tumbuh kembangnya minat serta bakat anak-anak kita.

Rumah, sebagaimana sekolah, juga merupakan wahana pendidikan. Di rumahlah anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan sekolahnya. Di rumah pulalah anak-anak belajar untuk mengulangi dan mendalami pelajaran mereka yang telah diterima di sekolah. Lebih dari itu, rumah merupakan tempat penerapan segala ilmu yang diterima anak dari sekolah, sekaligus menjadi tempat untuk memperdalam, memperluas, dan mengembangkan sikap, mental, karakter serta budi pekerti anak. Oleh karena itu betapa sangat pentingnya peran pendampingan orang tua kepada anak-anaknya di lingkungan rumah.

Dengan kesibukan kerja dan berbagai kegiatan seringkali orang tua tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan anak-anak. Berangkat pagi pulang petang bukanlah sesuatu yang aneh di masa persaingan hidup yang semakin ketat dewasa ini. Giliran waktu hari libur, terkadang justru masih saja ada orang tua yang masih sibuk dengan urusan pekerjaan yang dibawa ke rumah ataupun melakukan aktivitas lain yang terkadang tidak berhubungan sama sekali dengan anak-anak kita. Sesekali memang sebuah keluarga bisa menikmati liburan bersama, semisal jalan-jalan atau wisata, tetapi hal itu mungkin hanya sempat dilakukan setahun sekali dua kali saja. Walhasil, interaksi orang tua dengan anak sebenarnya sangat kurang.

Dengan kemajuan teknologi dan dunia informasi pada saat ini, tidak sedikit orang tua yang memberikan berbagai sarana permainan modern. Bisa dibilang setiap anak di lingkungan keluarga menengah ke atas dewasa ini sudah difasilitasi dengan gadget sebagai sarana bermain. Game menjadi pengisi waktu sehari-hari bagi seorang anak di luar jam sekolah ataupun les mereka. Orang tua berpikir dan akan merasa ketinggalan jaman jika anak-anak mereka tidak dilengkapi dengan sarana permainan yang modern. Benarkah demikian semestinya?

Waktu kebersamaan antara anak dan orang tua sebenarnya sangat penting dalam menentukan karakter sang anak ketika kelak menginjak dewasa. Tidak hanya sekedar kuantitas waktu, namun tentu saja juga menyangkut kualitas interaksi diantara keduanya. Ada sebagian orang tua yang memberikan sarana game kepada anak-anaknya semenjak usia sangat dini justru agar anak tidak rewel, agar anak tidak mengganggu aktivitas mereka, agar anak tidak bermain keluyuran di luar rumah, ataupun alasan pragmatis lainnya.

Orang tua yang mau ikut terlibat langsung dalam suatu permainan atau aktivitas bersama dengan anak-anaknya sudah semakin jarang. Tidak sedikit orang tua yang berpandangan bahwa tidak menjadi soal kasih sayang atau perhatiannya kepada anak diwujudkan dalam bentuk menuruti setiap keinginan anaknya, memberikan sarana bermain, mencukupi semua kebutuhannya. Namun apakah kebutuhan seorang anak hanya berupa barang ataupun kegembiraan semu tanpa perhatian dan kasih sayang yang memadai, termasuk kesempatan berinteraksi dan melakukan suatu aktivitas bersama-sama? Kalaulah seorang orang tua memberikan sarana permainan kepada anaknya, apakah kemudian pada suatu ketika ia menyempatkan diri untuk turut terlibat bermain bersama dengan anaknya tersebut?

Banyak ragam aktivitas yang bisa dilakukan bersama-sama antara orang tua dengan anaknya. Mulai dari sekedar mendampingi anak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Bernyanyi bersama, menggambar bersama, berolah raga bersama, jalan-jalan bersama, hingga beribadah bersama. Semua kebersamaan tersebut tentu akan semakin mendekatkan hati dan jiwa antara orang tua dengan anak. Dengan demikian anatara keduanya akan semakin terjalin hubungan batin yang semakin erat dan kuat sebagai sebuah keluarga yang semakin utuh.

Anak-anak sebenarnya laksana benih bakal calon manusia. Sebagai benih, pada awalnya tentu orang tua belum tahu persis mana calon akarnya, seperti apakah tubuh batangnya kelak akan tumbuh, termasuk dahan, ranting, daun, bunga hingga buahnya di kelak kemudian hari. Semua masih merupakan sebuah misteri kehidupan. Ketika anak hadir, sangat mungkin orang tua harus banyak belajar mengamati, mengidentifikasi, untuk selanjutnya dapat memgembangkan segala potensi, minat, bakat, karakter, kerpibadian, dan segala macam potensinya yang positif. Hal-hal inilah yang menjadikan kesempatan berinteraksi secara intens dan terus menerus orang tua terhadap anaknya menjadi sangat penting.

Orang tua di masa kini lebih banyak memperlakukan anak-anak mereka sebagai sebuah kertas polos yang harus diisi dengan tulisan, lukisan dan apapun menurut parameter kebaikan yang diyakini oleh orang tua. Orang tua seolah ingin mencetak anak-anaknya menjadi seseorang sebagaimana bayangan ideal yang diinginkannya. Anak seringkali dianggap sebagai miniatur orang dewasa yang belum tahu apa-apa mengenai kehidupan, belum memiliki pengalaman, belum berwawasan, sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain mengikuti segala keinginan orang tua yang sudah lebih berpengalaman dalam hidup. Anak bukanlah benih yang memiliki hak tumbuh kembang.

Mulai kini kembalilah merenung tentang mindset kita terhadap anak-anak kita. Bagaimanapun mereka adalah amanah dan anugerah terindah dari Tuhan untuk kita. Ketidakpedulian orang tua untuk mendampingi dan berinteraksi seintensif mungkin akan dapat menyudutkan anak-anak kita ke ruang yang penuh kehampaan dan rasa sepi yang mencekam. Dan akibatnya anak-anak benih kehidupan akan gagal bertumbuh kembang menjadi dirinya sendiri dalam mengukir masa depannya yang gemilang. Mari kita renungkan kembali.

Ngisor Blimbing, 19 Desember 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s