Pelajaran Mengalahkan Diri Sendiri


Lari 5K1Lomba lari marathon bertajuk Run with Heart 5K kemarin merupakan perlombaan yang saya jalani dengan si Ponang untuk pertama kalinya. Tentu saja jarak tempuh 5 Km untuk berlari bagi bocah seumuran 8 tahun, apalagi untuk pertama kalinya, tentu dirasa sebagai suatu beban yang sangat berat. Dan hal itu sangat dirasakan oleh anak sulung saya.

Selepas memulai start, belum genap berlari marathon mencapai 1 Km, ia sudah  nampak merasa kelelahan. Tentu saja ia mulai mengeluh dan merajuk. Nampak sekali tersirat di wajahnya rasa sesal kenapa ia harus mengikuti lomba yang sangat berat ini.

Sebagai orang tua tentu saja saya tidak mau patah arang. Sambil berjalan pelan, saya yakinkan bahwa ia akan sanggup sampai di garis finis. Saya berikan contoh beberapa anak-anak lain yang mengikuti lomba, semua masih tetap semangat walaupun tentu saja tidak mudah untuk dapat terus berlari. Saya nyatakan bahwa terkadang berjalan, terus lari lagi dan jika terasa lelah berjalan kembali tidak menyalahi aturan. Asal peserta melewati jalur yang telah ditentukan dan mencapai garis finish, maka ia dianggap berhasil mengikuti lomba dari awal hingga akhir.

Akhirnya jarak tempuh yang dilalui kian bertambah. Menapaki Km 2, si Ponang kembali merasa sangat lelah. Saya kembali memotivasi dirinya, bahwa ujung lintasan semakin dekat. Kira-kira 500 meter ke depan, titik balik lintasan akan kami capai. Di titik balik itu setiap peserta akan diberi kalung dan mendapatkan air minum. Ia nampak sedikit tergugah semangatnya.

Akhirnya titik balik lintasan di seberang Pasar Delapan dapat kami capai. Begitu panitia memberikan kalung berwarna orange, nampak si Ponang merasa lega dan ada kebanggan tersirat di raut mukanya. Kini setengah perjalan sudah kami tempuh. Meskipun perjalanan masih cukup panjang, namun setidaknya kami sudah sampai di titik tengah. Begitu mendapatkan segelas air mineral, si Ponang langsung menenggak beberapa teguk. Ia nampak sangat merasakan kesejukan yang luar biasa begitu air sejuk menggelontor tenggorokannya yang sebelumnya seolah terasa sangat hausnya. Iapun nampak semangat untuk terus melanjutkan larinya.

Separuh perjalanan marathon menuju garis finish adalah saat-saat yang sangat krusial. Hanya beberapa jengkal berlari, si Ponang kembali merasa lemes dan seolah ingin segera menyerah. Ia merasa kecapaian dan ingin segera mengakhiri perjuangan beratnya. Di sinilah tantangan terberat bagi saya untuk terus memompa semangatnya, untuk terus mendorongnya, memotivasinya, meyakinkannya, membangkitkan harapannya. Sementara itu rombongan peserta-peserta yang lain semakin mendahului kami. Tanpa terasa kami semakin bergeser menjadi bagian belakang rombongan peserta lari.

Lari 5K2

Tiga kilometer terlampaui. Dengan terseok-seok, perjalanan kami teruskan. Apabila berlari 100 meter, si Ponang senantiasa merasa kelelahan dan kembali berjalan terengah-engah. Jika sudah demikian, saya langsung menyodorinya dengan air minum. Begitu ia menenggak air, ia nampak mendapatkan sedikit pompaan tenaga. Sejenak kemudian ia memacu diri untuk kembali berlari. Kelelahan, berjalan lagi. Minum lagi dan berlari lagi. Demikianlah hingga Km 4 berhasil kami capai.

Di titik Km 4, kembali panitia membagikan air mineral gelasan. Di titik ini pulalah, si Ponang kembali mendapatkan kalung berwarna biru dari panitia. Perjalanan laripun kami teruskan kembali. Sama seperti di etape sebelumnya, saya harus terus mengompori si Ponang dan mendorong semangatnya untuk benar-benar sampai di titik akhir perjuangan kami di perlombaan tersebut.

Singkat cerita, kamipun semakin dekat menuju garis finish. Meskipun kami berada di deretan barisan belakang para peserta lomba, namun peserta di belakang kami masih cukup banyak. Hal ini sedikit banyak membesarkan semangat kami bahwa kami tidak sama sekali di ujung paling belakang. Saat jarak 200 meter tersisa, si Ponang semakin nampak loyo dan kehilangan motivasi. Ketika gerbang finish sudah nampak, saya kembali teriakkan semangat untuk menuntaskan perjuangan.

Akhirnya garis finish tersebut dapat kami capai bersama-sama. Si Ponang langsung melompat girang saat melintasi garis finish. Nampak ada sebuah kebanggan di raut mukanya yang berderai dengan keringat. Catatan di giant stop watch menunjukkan 52:23, artinya kami menempuh jarak 5 Km dalam waktu 52 menit 23 detik. Inilah catatan rekor pertama yang kami torehkan berdua.

Lari 5KKetika melintasi meja panitia di samping gerbang finish, nampak meja tempat menggelar medali emas sudah bersih dan tidak menyisakan satupun medali untuk kami berdua. Si Ponang sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa kami tidak masuk di deretan seribu pelari pertama yang mencapai garis finish dan berhak mendapatkan medali emas dari panitia. Kembali saya memberikan pengertian kepadanya bahwa dalam suatu perlombaan ada yang menang dan ada pihak yang belum berhasil.

Dalam perjalanan pulang dengan naik sepeda, saya menanyakan kembali perasaan anak saya setelah selesai mengikuti perlombaan lari hingga garis finish. Nampak ia masih kecewa gagal mendapatkan medali. Ia sempat mutung dan menyatakan tidak akan pernah lagi mengikuti lomba lari. Ia merasa tidak sanggup untuk berlari cepat. Ia seolah sudah ingin menyerah pada pengalaman larinya yang pertama kali ini.

Saya kembali menyatakan bahwa lomba kali ini adalah lombanya yang pertama kali. Tidak ada orang yang langsung berhasil meraih sesuatu tanpa latihan dan perjuanga yang sungguh-sungguh. Kalau seseorang tekun berlatih, ia akan senantiasa mengalami peningkatan untuk selalu menjadi lebih baik dan lebih maju. Pelajaran utama dari lomba kali ini adalah bahwa memperjuangkan suatu keberhasilan bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap orang harus berusaha dengan sekuat tenaga dan mengiringi usahanya dengan doa.

Si Ponang sempat bertanya, “Kenapa sih harus ada perlombaan Pak? Kenapa harus ada juara? Kenapa yang juara harus diberi hadiah?”

Sayapun berusaha memberikan pemahaman. Perlombaan diciptakan agar manusia giat dan tekun berlatih sesuatu. Dalam lomba lari, para peserta harus mempersiapkan diri dengan latihan yang tekun. Dari lomba, siapa yang berlatih dengan giat sebelumnya akan semakin mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemenang. Adanya hadiah merupakan penghargaan atas jerih payah usaha seseorang. Hadiah dijadikan penyemangat agar semua yang berlomba berusaha dengan maksimal, penuh kejujuran dan sportivitas.

Lebih daripada menjadi juara. Lebih daripada memenangkan perlombaan. Lebih daripada mendapatkan piala. Lebih daripada mengalahkan lawan-lawan. Lebih daripada semua hal tersebut adalah mengalahkan diri-sendiri. Mengalahkan ego diri sendiri. Mengalahkan kemalasan dir sendiri. Mengalahkan amarah diri sendiri. Dan pastinya mengalahkan nafsu diri. Inilah perjuangan hidup yang peling berat untu dijalankan oleh setiap insan bernama manusia.

Ngisor Blimbing, 14 Desember 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pelajaran Mengalahkan Diri Sendiri

  1. jarwadi berkata:

    sekarang suka olah raga lari juga? mas

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Dari dulu sebenarnya seneng lari pagi. Waktu masih di Tepi Merapi bahkan seminggu bisa tiga kali. Ketika ngenger di belakang BHI, minggu pagi juga lari keliling HI-Monas. Kini lebih sering gowes. Nah ini kebetulan ada lomba di kampung sebelah, ya ngikut dech. Penginnya sih rutin lari lagi, sekalian berlatih bareng si sulung.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s