Minder Sosial, Minder Kultural


AS-3Kaya dan miskin adalah dua kutub yang tak akan pernah dapat dipersatukan. Golongan si kaya semakin berlari kencang dalam menumpuk kekayaannya. Sementara si miskin semakin terseok-seok menapaki hidup, meski hanya sebatas tataran mempertahankan hidup. Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin ya semakin nyungsep dalam lumpur kemiskinannya. Fakta ini seolah sudah menjadi kebenaran umum dan teramat sulit untuk bisa diubah.

Lihat saja soal pemenuhan kebutuhan yang paling primer sekalipun. Soal pangan, sandang, dan juga papan. Si miskin masih bergumul dengan kisah makan yang belum bisa tercukupi. Masih banyak rakyat yang hidup senen-kemis. Masih banyak kisah tentang nutrisi dan gizi yang masih buruk. Uang sepuluh-dua puluh ribu perak masih sangat berharga untuk makan sekeluarga dalam sehari.

Adapun si kaya, ia sudah sangat mampu untuk menikmati sajian penuh gizi dan nutrisi. Tidak cukup sampai di situ, makan serasa turun kasta kalau tidak menyantap makanan yang modern bin berharga mahal sekelas restoran nomor wahid. Sepiring makanan, secangkir kopi atau teh, lengkap dengan menu kudapan dengan badrol harga ratusan hingga jutaan rupiah tidak akan membuat kantong menipis. Mungkin jatah sekali makan mereka sebanding dengan biaya makan orang sekampung.

Demikian halnya soal sandang. Masih banyak saudara kita yang memiliki pakaian serba terbatas. Pakaian hanya sekedar yang melekat di badan. Bahkan belinyapun sekedar di pasar loakan. Sebaliknya, si kaya senantiasa berganti-ganti modis pakaiannya. Belinyapun di butik-butik kelas wahid, bahkan dari luar negeri. Dan yang pasti lagi harus pakaian yang bermerk.

Soal rumahpun sama juga. Rakyat kebanyakan hidup di gubug reyot. Yang pekerjaannya tetap, entah sebagai buruh atau karyawan, meski sempit lumayan bisa mengontrak rumah petak. Yang di tingkat menengah, dengan ngos-ngosan mengkredit rumah yang sulit terlunasi hingga masa pensiun sekalipun.

Tidak sebatas soal pangan, sandang, dan papan, masih ada banyak jurang menganga antara masyarakat kaya dan miskin. Demikian halnya soal pasar rakyat vs mall. Pasar rakyat ya tentu saja untuk rakyat jelata. Pasar yang seringkali bau, becek, kotor dan semrawut memang seolah hadir untuk menampung orang papa. Sementara untuk si kaya, supermarket dan mall lebih menjadi pilihan. Tentu saja perihal harga barang yang dijual, dua tempat tersebut di atas mementaskan jurang angka yang sangat fantatis.

Dengan perbedaan kasta antara pasar dan mall tersebut, kemudian benarkah si miskin tidak boleh masuk mall? Secara legal formal, tentu saja tidak ada larangan. Namun secara ekonomi dan kultural, mau tidak mau, suka tidak suka, secara alamiah akan terbentang barier yang tingggi antara kedua golongan langit dan bumi tersebut. Orang miskin merasa ngapain ia blusukan ke mall, jika hanya bisa melihat barang tanpa pernah bisa membelinya. Bukankah hal tersebut hanya akan menambah luka sejarah? Maka tidak mengherankan jika si miskin lebih banyak yang tahu diri untuk tidak merambah keluyuran ke mall.

Pun untuk mall-mall di pinggiran ibukota yang notebene berdampingan dengan kampung-kampung yang jauh telah ada terlebih dahulu. Banyak mall-mall di pinggiran yang dibangun dengan menggusur masyarakat kampung. Dengan iming-iming harga tanah dan bangunan yang tinggi, banyak penduduk kampung yang tergiur menjual harta waris tanah leluhurnya.

Setelah mall-mall dan apartemen, apakah orang-orang kampung kemudian percaya diri untuk sekali-kali masuk ke mall di samping pekarangannya? Tembok itu terlampau tinggi. terlebih tembok yang bernama struktur sosial kultural.

Kebetulan mall di samping kampung kami yang tanahnya dulunya adalah bagian dari kampung kami tengah menggelar sebuah acara bekerja sama dengan sebuah stasiun tivi. Acara yang ditata dengan tata panggung yang mewah itu dan langsung diliput tivi tentu saja mengundang banyak perhatian orang. Namun justru, orang-orang kampung yang hanya berbatas tembok mall justru seolah enggan untuk mendekat. Mereka merasa bahwa dunia mall dengan segala gelaran acaranya tidak pas untuk orang pas-pasan. Mereka paling banter cuma mengintip-intip acara di pekarangan sebelah lewat tayangan di tivi. Beginikah negara yang berkeadilan yang kita harapkan bersama?

Lor Kedhaton, 8 November 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s