Tragedi Maut di Angke


Di masa Kompeni beberapa abad silam, ribuan manusia dibantai atas nama kekuasaan kaum penjajah dan mayatnya dibuang ke sebuah kali di bilangan barat kantor pemerintahan. Karena sangat banyaknya mayat yang kemudian mengambang di atas aliran kali serta mengubah warna air dari bening menjadi merah darah, maka kelak di kemudian hari kali tersebut tenar dengan sebutan Kali Angke.

Hari ini nama Angke kembali membahana oleh sebuah berita duka mengenai tragedi maut antara kereta api commuter line dengan sebuah metromini. Tentu saja semua orang tidak pernah mengharapkan terjadinya sebuah kecelakaan yang merenggut hingga belasan manusia. Tetapi sekali lagi, kecorobohan tindakan ugal-ugalan manusia tidak bertanggung jawab telah membawa petaka maut. Peristiwa menyedihkan ini tentu saja harus menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak.

Di tengah suasana duka cita yang mendalam bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan, dalam beberapa tayangan berita di layar televisi, saya sempat menyimak beberapa informasi yang tidak sinkron dari beberapa pemberitaan di beberapa stasiun tivi. Misalnya mengenai jarak metromini terseret kereta api. Ada satu stasiun yang mneyatakan bahwa kereta terseret hingga 400 meter. Ada yang bilang hanya 50 meter. Ada yang bilang lain lagi. Mana yang sebenarnya ya?

Ada lagi sebuah stasiun televisi yang menyatakan bahwa kecelekaan menyebabkan kerusakan metromini yang sangat parah. Saking sangat parahnya, akibat terseret laju kereta api, metromini tersebut hingga terbelah bagian atasnya. Uniknya dari beberapa tayangan sebelumnya, jelas-jelas mobil metromini tidak terbelah di bagian atapnya. Dalam tayangan lain juga diperlihatkan proses pada saat beberapa petugas mempergunakan alat mekanik untuk memotong bagian atas metromini hingga menjadi terbuka separuh sisi atasnya. Saya hanya bisa mesem untuk hal ini. Gimana sih kerja para pewarta hingga sasar-susur informasinya?

Dunia memang telah memasuki era informasi. Segala kejadian di seluruh pelosok dunia dapat diketahui oleh semua penduduk bumi dalam hitungan waktu yang tidak terlampau lama. Teknologi internet menjadi pemeran andil  yang sangat dominan dalam hal ini.

Dampak nyata dari kemajuan internet, termasuk jaringan sosial media hingga setiap orang dapat mengakses informasi dengan sangat mudah melalui smartphone di genggaman tanganya, adalah terjadinya banjir atau tsunami informasi. Setiap menit, detik bahkan mikrodetik selalu terproduksi berita terkini. Tokh setiap pribadipun bisa mengunggah sebuah informasi tanpa melalui lika-liku redaktur yang ribet. Nah, disinilah kemudian seringkali timbul informasi yang kurang terkontrol validitas kebenarannya.

Menyikapi fenomena tsunami informasi yang tidak selalu selamanya valid tersebut, maka setiap individu penerima informasi kini harus berpandai diri untuk menalar sebuah informasi.  Masuk akal ataupun tidaknya sebuah informasi, otak kita dapat dijadikan dasar pertimbangan nalar. Pembaca dan pendengar informasi harus bersikap kritis terhadap sebuah berita. Setiap berita atau informasi harus benar-benar dinalar lebih dulu. Jangan pernah gegabah untuk langsung menelan mentah-mentah sebuah informasi tanpa terlebih dahulu mengunyah-ngunyahnya. Kesadaran semacam inilah yang disebut sebagai kesadaran atau kecerdasan literasi.

Ingatlah selalu! Di tengah derasnya informasi, masyarakat harus semakin cerdas dalam menyikapi setiap informasi. Hanya dengan sikap tersebut informasi akan berdayaguna dan memberikan banyak manfaat untuk kehidupan kita bersama.

Ngisor Blimbing, 6 Desember 2015

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Tragedi Maut di Angke

  1. arwan berkata:

    Kadang para pewarta pada kejar setoran jadi isi beritanya ga sinkron sama di lokasi.
    Jadi kita yang harus bener-bener memilah berita mana yang benar dan terpercaya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s