Dahaga Harta Tak Sudah-sudah


Siapa bilang negeri ini telah makmur, murah pangan, sandang dan papan? Meskipun secara umum warga yang menderita busung lapar karena kekurangan pangan dan gizi semakin berkurang, tetapi kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia belum bisa seratus persen dibilang sudah sejahtera. Hak untuk mengenyam bangku pendidikan belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh setiap anak Indonesia. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan juga belum merata di setiap daerah. Hak untuk mendapatkan pekerjaan, mendapatkan tempat tinggal yang layak, hak keadilan ekonomi dan lain sebagainya masih merupakan pekerja rumah yang sangat panjang bagi pemerintah dan negara.

Beberapa fakta pahit di atas kita pahami sebagai akibat dari kesalahan pengelolaan negara yang kaya raya akan sumber daya alam ini. Korupsi, kolusi dan nepotisme sebagaimana yang menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan orde baru kini justru semakin menggila dan menggelora dalam menikam nasib hidup rakyat kecil. Berbagai segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita rasakan semakin hari semakin tidak menentu. Kondisi kita seolah semakin jauh dari stabilitas. Ya ekonomi, ya politik, keamanan, sosial budaya semakin bubrah bin mawut. Kemunduran di berbagai segi kehidupan semakin terasa amat nyata.

Perbaikan dalam rangka pemilihan para pemimpin dan pejabat di pemerintahan nampaknya masih belum sepenuhnya memenuhi harapan. Adanya politik uang, kolusi, nepotisme justru telah semakin merusak sendi-sendi nilai reformasi yang menjadi aspirasi kita semua. Betapa banyak para pejabat yang kini tengah mengamban posisi jabatan yang penting tidak bertindak sebagaimana mestinya dan malah memanfaatkan atau menggunakan setiap peluang untuk memperkaya diri sendiri, kelompok atau korporasinya masing-masing. Kita semakin sulit menemukan pejabat yang benar-benar amanah terhadap jabatannya dan dengan sungguh-sungguh memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Korupsi di era reformasi justru semakin menggila. Jika di masa rejim sebelumnya lingkaran api korupsi hanya terjadi di lingkungan yang masih sangat terbatas dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini justru tindakan tersebut dilakukan secara sistematis, semakin kasat mata, dan berjamaah lagi. Aturan sudah banyak  yang disalahgunakan justru untuk memayungi tindakan curang. Jahatnya koruptor di hari ini adalah mereka yang mempergunakan berbagai cara dan upaya untuk menunggangi peraturan sehingga tindakan culas yang dilakukan seolah tidak melanggar aturan normatif dan norma hukum tertulis yang berlaku. Bahaya laten tindak korupsi di hari ini adalah tindakan-tindakan berkedok mulia dengan cara “melegalisasi” kecurangan melalui aturan-aturan yang tidak memihak kepada kepentingan rakyat.

Ada sebuah kisah dari rekan pabrik milik negara di sebelah. Si big bos di tempatnya bekerja senantiasa mengedepankan hak daripada kewajiban. Sebagai penanggung jawab utama di institusinya, ia semestinya memikirkan bagaimana gerak organisasi bisa terkoordinasi dengan baik dalam rangka mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan. Ia harus mampu bertindak sebagai pemimpin dan teladan bagi segenap anak buahnya.

Alih-alih menyadari dan memahami posisi, peran, tugas serta tanggung jawabnya, merasa dirinya adalah pemimpin maka ia justru sering menggunakan kekuasaan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan  dengan kepentingan bersama. Sekedar berpidato sepatah dua patah kata yang tidak jelas di forum rapat misalnya, ia senantiasa menuntut untuk difasilitasi  honor nara sumber selama dua hari penuh. Di tengah rakyat jelata yang kesusahan memenuhi berbagai kebutuhan hidup karena harga-harga yang terus melambung tinggi, kok ya ada pejabat yang makan uang buta atas nama hak yang menurutnya telah diatur sehingga dinilainya sebagai syah dan legal. Ia senantiasa berlindung di bawah aturan yang menyatakan hak-haknya sebagai seorang pimpinan.

Apabila kebanyakan rakyat yang berpenghasilan tidak lebih dari sekedar cukup untuk biaya hidup sebulan, atau barangkali yang berpenghasilan di bawah upah minimum apakah kiranya rela jika para pejabat kita hanya rapat omong kosong sekejap dan tidak serius memikirkan rakyat terus minta hak mengantongi uang jutaan rupiah?

Saya pribadi ketika mendengar kisah pilu tersebut serasa mau muntab bin muntah. Tidak masuk akal, imposible, luar biasa gilanya si kunyuk itu! Serasa untuk misuh-misuh, mengumpat dan menyumpahi dengan semua kosa kata pisuhan paling kasar yang saya kenal sekalipun tidak akan mencukupi. Akhirnya sambil merenung sedih, saya hanya menyematkan gelar kepada si tokoh kita itu dengan kebun binatang jahaman. Tentu saja karakternya sangat menampung semua isi kebun binatang. Dialah anjing, dialah buaya, dialah musang, dialah ular, dialah babi, dan lain sebagainya.

Sebagai rakyat jelata tentu saja kita semua berharap keadaan segera berubah. Dalam kondisi serba tidak menentu, kita masih sabar untuk menanti datangnya para pemimpin yang amanah untuk mengemban penderitaan rakyat. Perubahan menuju ke arah kehidupan yang lebih baik senantiasa kita pancangkan sebagai harapan yang tak pernah kunjung padam. Kita masih meyakini bahwa Tuhan masih mengasihi kita semua dan suatu kelak akan benar-benar mengirimkan pemimpin yang adil ke negara kita.

Lor Kedhaton, 25 November 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s