Mengejar Yang Tak Terkejar


Tanpa terasa perjalanan kita di tahun 2015 sudah hampir tiba di penghujung tahun. Beberapa waktu lalu, kita masih mendengar berita mengenai unjuk rasa ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja yang ada. Diantara tuntutan yang paling mengemuka, tentu saja soal kenaikan gaji buruh yang biasanya ditetapkan oleh pemerintah sebagai upah minimum regional (UMR) di penghujung tahun.

Roda kehidupan memang terus berjalan. Ada diantara sebagaian manusia yang mampu mengendalikan perputaran roda nasibnya, sehingga ia seolah senantiasa selalu berada di sisi atas. Ada pula banyak sekali bagian dari rakyat awam yang tertinggal atau bahkan terlindas oleh laju roda kehidupan. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, harga-harga segala macam kebutuhan hidup senantiasa naik dan semakin mahal sehingga semakin tidak terjangkau. Di satu sisi pendapatan para buruh seolah stagnan di titik lembam yang sulit untuk turut naik mengikuti kecenderungan naiknya kebutuhan serta harga-harganya. Maka kenaikan upah memang patut senantiasa diperjuangkan.

Melalui kebijakan yang kini telah diotonomikan kepada pemerintah daerah, maka setiap tahunnya upah minimum di setiap tingkatan kabupaten atau kota senantiasa ditinjau ulang. Perubahan berbagai parameter penentu harga barang dan jasa yang berpengaruh terhadap laju inflasi harus dihitung kembali. Upaya penyesuaian ataupun penaikan upah buruh seolah selalu berlomba bahkan berkejaran denga laju inflasi yang justru semakin hari semakin membuat nilai tukar uang semakin merosot. Uang semakin hari semakin tidak “aji”, demikian biasanya warga dusun kami mengistilahkannya.

Perjuangan menuntut kenaikan upah bagi buruh, seolah memang sebuah pengejaran yang berat untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Ketika kemudian pemerintah benar-benar menetapkan upah buruh mengalami kenaikan, jauh hari sebelumnya pasar telah menyambut rencana kenaikan dengan menaikkan berbagai jenis harga barang dan jasa. Yang terjadi kemudian adalah kembali para buruh tidak dapat menikmati buah “kenaikan upah” karena justru para pedagang, para makelar, grosir dan penyedia jasa serta pengusaha pada umumnya yang menikmati kenaikan pendapatan.

Dulu UMR di kebanyakan daerah belum mencapai hitungan angka satu juta rupiah. Tetapi buruh di masa dua-tiga puluh tahun yang lalu mungkin masih dapat menikmati jerih payahnya karena nilai uang masih cukup tinggi. Seribu-dua ribu perak, mereka sudah bisa menikmati menu sarapan atau makan siang yang memadai. Bandingkan jaman sekarang, meskipun upah per bulan lebih dari dua juta, tetapi harga nasi di warteg berkisar di kisaran 10-15 ribu. Angka gaji memang semakin fantastis dengan penambahan deretan nol yang seolah mengagumkan. Namun deretan angka yang panjang tersebut menjadi tidak bernilai di tengah pasar dalam mencukupi kebutuhan yang semakin membumbung tinggi.

Jika demikian halnya yang terjadi dan dirasakan oleh para buruh maupun masyarakat secara umum, lalu apakah gunanya kenaikan upah? Kenaikan upah, gaji, pendapatan atau penghasilan tidak akan berdampak terhadap kenaikan kesejahteraan kecuali tidak diiringi dengan kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok masyarakat.

Masalah pengaturan gaji buruh, masalah stabilisasi pasar, masalah pengendalian laju inflasi merupakan tugas pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tidak usah terlampau mulu menaikkan upah dengan angka yang fantastis, justru seharusnya pemerintah juga harus menerapkan berbagai kebijakan dalam rangka menekan laju inflasi.

Tidak masalah angka upah tidak besar, tetapi segala kebutuhan dapat tercukupi dengan sewajarnya. Para pekerja di negara maju, di Jepang, Korea, Timur Tengah, bahkan di Eropa juga paling dalam orde ribuan mata uang setempat. Di Eropa, pekerja dengan gaji di kisaran €5.000 sudah termasuk pekerja berkelas tinggi. Di ranah mata uang rupiah, 5.000 kini tidak lagi dapat mengenyangkan perut, meskipun sekedar untuk membeli nasi rames dengan lauk tahu-tempe. Kita memang ingin sok-sokan, dikatakan wah dan mewah sehingga gaji kita berorde jutaan rupiah. Namun sayangnya rupiah kini merupakan mata uang dengan nilai tukar terendah. Rupiah semakin tidak berharga sehingga nilai uang semakin tidak “aji” lagi.

Kita ingin terus menerima kenaikan gaji atau upah. Kita ingin semakin berlimpah uang. Kita ingin semakin kaya raya. Kita ingin terus mengejar fatamorga yang kita rekayasa dan ciptakan dalam konsep pemikiran pribadi, secara masyarakat, maupun dalam kebijakan kepemerintahan. Hal ini mungkin lebih merupakan suatu ambisi yang terdorong oleh nafsu daripada kebutuhan dasar yang harus terpenuhi yang didasari oleh rasionalitas realitas. Kita semakin memacu diri, jungkir balik tidak karuan, berakrobat, bermanuver, berekayasa, bahkan sampai menghalalkan segala macam cara untuk bisa kaya. Namun sesungguhnya ternyata kita hanya sekedar mengejar bayangan fatamorgana, mengejar yang tak pernah bisa dikejar.

Ada baiknya kita kembali merenung untuk memperbaiki pola pikir kita soal harta dan dunia. Terlebih bagi para pemangku kebijakan yang menentukan nasib banyak manusia yang semakin tidak berdaya menghadapi pergulatan dunia yang semakin jauh dari tata nilai peradaban luhur. Ini semua pilihan kita bersama.

Lor Kedhaton, 23 November 2015

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengejar Yang Tak Terkejar

  1. Brad berkata:

    Mengejar bayangan yang tidak terkejar. Bener itu. Jadi buruh memang selalu dipusingkan soal upah murah. Namun kita juga sebaiknya berpikir ulang, berapa angka yang dirasa cukup? Sejatinya berapa persen pun upah dinaikkan, kita tidak akan pernah merasa cukup, bukan?

    Salam kenal dari Jakarta. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s