Gerbong Gerbang Jakarta(1)


Sedari petang hari ibukota sudah diguyur hujan yang cukup lebat. Selepas menumpang sholat Maghrib dan Isya’ sekaligus berteduh di Istiqlal, hujanpun belum sama sekali reda. Di tengah rintik gerimis malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang, banyak jamaah yang duduk-duduk di emperan serambi bawah masjid.

Di tengah termenung menikmati kesendirian, datanglah seorang bapak membawa tas tipis di gendongannya sedangkan tangan kanannya membawa segelas kecil kopi yang dibelinya dari penjual asongan. Dengan senyum penuh keramahan ia menghampiri dan duduk di samping saya. Sambil menyeruput kopi untuk menghangatkan tubuhnya yang kelihatan renta, ia membuka pembicaraan, “Pulang kemana Mas?”

Sayapun menimpali dengan sebuah jawaban sekaligus pertanyaan singkat, “Ke Tangerang Pak. Bapak tinggal dimana?”

“Saya ngontrak di daerah Manggarai Mas. Daripada pulang kehujanan, nginep saja di sini Mas. Nanti malam kan ada qilamul lail. Saya juga nginep di sini, besok pagi langsung kerja di Dinas PU bagian Tata Air,” si Bapak menawarkan sebuah ajakan.

Obrolanpun segera cair dan mengakrabkan suasana. Usut punya usut ternyata si Bapak tersebut asli orang Jogja. Ia lahir di daerah Sleman, tepatnya di desa Donokerto, Kecamatan Turi. Rupanya meskipun berbeda provinsi, namun daerah asal-usul kami hanyalah dibatasi bentangan Kali Krasak yang berhulu di puncak gunung Merapi.

Iapun kemudian memperkenalkan diri, “Kula Widodo Mas. Namine mirip Joko Widodo, ning kula sanes Widodo sing presiden lho Mas”. Kamipun kemudian terlibat perbincangan ngalor-ngidul dalam bahasa Jawa yang membuat kami semakin akrab dalam suasana semanak dan penuh rasa paseduluran.

Bapak-bapak yang saya perkirakan sudah melewati umur 65 tahun tersebut, ternyata telah menetap di ibukota Jakarta semenjak tahun 1959. Ia sangat fasih berkisah mengenai berbagai hal perkembangan ibukota semenjak masa orde lama dan orde baru.

Dengan sangat pasti ia bercerita mengenai keadaan Lapangan Banteng tempo dulu. Menurutnya, kawasan Lapangan Banteng pada masa lalu merupakan sebuah terminal bus. Tidak saja bus kota, terminal tersebut juga menampung bus-bus dari luar kota. Ada bus dari Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, juga Bandung maupun Bogor. Meskipun kawasan tersebut dikelilingi banyak markas tentara dan polisi, namun di masa itu keamanan belum sepenuhnya terjamin. Ada sekawanan penjembret yang sering beraksi di siang bolong dengan mengalungkan clurit di leher sang korban. Korban yang sering menjadi incaran terutama dari golongan orang kaya dan kaum asing.

Selain bertutur kisah tentang terminal Lapangan Banteng, Pak Widodo juga membabar cerita berbagai bangunan monumental di pusat ibukota Jakarta. Ia sangat paham sejarah pembangunan tugu Monas, Hotel Indonesia, termasuk juga Masjid Istiqlal.

Setengah iseng saya setengah menggali perjalanan hidup sosok Pak Widodo, “Jamane semanten kok saged nggadhahi pikiran mrantau teng Jakarta niku kepripun Pak?”

Iapun dengan penuh semangat mulai mengisahkan perjalanan hidupnya. Widodo kecil lahir dan dibesarkan dalam suasana kesederhanaan di sisi selatan gunung Merapi. Ia empat bersaudara. Semenjak kecil, Widodo sangat dikasihi oleh sang kakek. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama kakeknya daripada kedua orang tuanya. Ketika kakeknya pindah ke Jakarta mengikuti Pakdhe-Budhenya, tentu saja Widodo kecil menjadi merasa sangat kehilangan.

Ketika pada suatu kesempatan Widodo diboncengkan sepeda oleh bapaknya dan melewati stasiun Lempuyangan, ia bertanya, “Pak iki sepur gerbong sing liwat stasiun kene iso tekan ngendi wae to?”

Ya werna-werna Le! Arep ning Solo bisa, ning Surabaya po Semarang uga bisa. Tekan Jakarta wae uga bisa”, ujar sang ayah.

Semenjak peristiwa itu, terpatri di angan-angan pikiran Widodo kecil yang sedang sangat kangen dengan kakeknya untuk pada suatu ketika berangkat ke Jakarta mencari alamat kakek tercinta.

Akhirnya pada suatu hari, Widodo kecil yang baru duduk di bangku kelas 3 Sekolah Rakyat nekat menuju Lempuyangan. Grib, perlengkapan sekolahnya sengaja ia tinggalkan di sekolahan. Tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya, ia berjalan kaki menuju stasiun kereta.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s