Doktrinasi Ketidakpahaman


Manusia adalah makhuk berpikir. Sebagai master piece makhluk tertinggi yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, manusia dibekali dengan akal dan pikiran yang sekaligus menjadi pembeda dengan makhluk lain semisal tumbuhan dan hewan. Dengan akal dan pikiran inilah perlahan namum pasti manusia menjalani berbagai evolusi kehidupan yang sangat panjang. Dari cara hidup yang sangat sederhana, manusia kini menjelma menjadi makhluk modern yang menikmati berbagai kemudahan hidup atas buah karya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meskipun jaman telah memasuki era modernitas, akan tetapi pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi diantara berbagai bangsa tidaklah sama. Ada negara yang sudah sangat maju, tetapi lebih banyak negara yang masih berproses untuk memajukan diri dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian halnya dalam lingkup suatu negara seperti Indonesia, ada kalangan anak bangsa yang sudah sangat terdidik dan hidup dengan berbagai kemudahan teknologi. Tetapi tidak sedikit pula anak bangsa yang masih sangat ketinggalan. Hal ini antara lain disebabkan masih belum meratanya kesempatan menikmati pendidikan yang berkualitas.

Dari sudut pandang latar belakang pendidikan dan pengetahuan seseorang, kemudian anak bangsa kita terbelah menjadi kaum cerdik pandai atau kaum terpelajar, dan ada pula kaum awam. Langsung tidak langsung, dirasakan atau tidak dirasakan, dikotomi kaum terpelajar dan kaum awam ini berimbas kepada kesenjangan pola pikir yang juga berujung kepada perbedaan kesempatan menikmati taraf kehidupan yang lebih mapan. Celakanya lagi, sebagai bekas negeri jajahan yang memiliki latar belakang kehidupan dirampas dan ditindas, di tengah alam kemerdekaan ini justru ada sebagian anak bangsa yang sengaja meraih kesempatan yang lebih untuk menikmati segala peluang kehidupan dengan menindas dan merampas sesama anak bangsa yang kebetulan memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang lebih rendah.

Dalam berbagai kasus pengurusan dokumen kewarganegaraan misalnya, betapa banyak oknum-oknum di dalam sistem maupun kalangan para calo yang justru mempermainkan warga masyarakat yang tidak paham dengan mekanisme atau prosedur pengurusan suatu dokumen. Sekedar mengurus kartu tanda penduduk di kelurahan yang bertarif resmi tidak mahal, namun dikarenakan ketidaktahuan banyak anggota masyarakat  harus membayar mahal. Demikian halnya dengan urusan pengurusan akte kelahiran, passport dan visa, surat izin mengemudi, sertifikat tanah, dll. Orang awam cenderung menghindarkan diri untuk berurusan dengan birokrasi pemerintah yang ruwet, berbelit-belit, serba tidak jelas, dan pastinya banyak uang siluman yang tidak jelas.

Sistem percaloan sebegitu menggurita di berbagai sektor birokrasi yang berhubungan dengan pelayanan publik. Birokrasi yang seharusnya jelas, transparan, sederhana, serta ramah memberikan pelayanan justru tampil dengan wujud yang sebaliknya. Justru rumusan jika bisa dipersulit kenapa harus dipermudah masih menjadi mindset di sebagian birokrat kita. Era reformasi yang juga diikuti dengan program reformasi birokrasi nampaknya belum begitu banyak berarti bagi peningkatan birokrasi kepemerintahan kita.

Informasi penting mengenai suatu persayaratan dalam pengurusan dokumen penting masih terbatas dan belum tersosialisasikan dengan baik. Hal yang sama juga berkaitan dengan proses tahapan pengurusan yang harus dilalui, berapa lama suatu proses berlangsung, pihak mana yang harus dihubungi, dimana kantor layanan yang bersangkutan, berapa biaya resmi yang diterapkan, kapan surat penting yang diurus selesai, dan beberapa hak informasi yang semestinya diberitahukan kepada kalangan masyarakat umum belum sepenuhnya menjadi hak publik.

Ada salah satu contoh kejadian yang berhubungan dengan hak publik untuk mendapatkan layanan secara percuma, tetapi karena ketidakpahaman tadi menyebabkan yang bersangkutan harus membayar mahal kepada okknum tertentu. Hal ini terjadi beberapa waktu lalu di sekitar tempat tinggal kami.

Kejadiannya begini Saudara! Suatu pagi dini hari, tiba-tiba ada tetangga samping rumah yang menggedor-gedor pintu rumah kami. Rupanya telah terjadi kejadian yang cukup membahayakan warga maupun beberapa rumah di sekitar kami. Pada tiang listrik yang menjadi titik distribusi listrik ke beberapa warga, terjadi percikan api hingga menimbulkan kebakaran. Kebakaran terjadi tepat di tiang pada bagian sambungan kabel distribusi ke beberapa rumah. Tentu saja warga menjadi khawatir bahkan takut kalau-kalau percikan api tersebut merembet melalui kabel distribusi menuju ke salah satu rumah warga. Dan kejadian tersebut telah menyebabkan beberapa sambungan ke beberapa rumah terputus serta menyebabkan padamnya listrik.

Di tengah hiruk pikuk kerumunan warga yang terbangun pada dini hari tersebut, saya berinisiatif untuk menelpon layanan call center PLN. Suara operator di seberang menanyakan beberapa keterangan tentang kejadian yang diadukan serta beberapa informasi berkaitan dengan lokasi tempat kejadian. Laporan kami ditanggapi dengan pernyataan bahwa PLN pusat akan segera menghubungi kantor layanan PLN terdekat dan akan segera mengirimkan petugas untuk mengatasi permasalahan yang ada. Di ujung pembicaraan, pihak PLN mengingatkan bahwa layanan yang diberikan untuk menindaklanjuti ataupun melakukan perbaikan oleh petugas PLN merupakan layanan gratis. Masyarakat bahkan diwanti-wanti agar jangan memberikan tips ataupun bentuk pemberian yang lain.

Seiring dengan kejadian saya menelpon kantor layanan PLN dan menunggu kedatangan petugas perbaikan, dengan sedikit rasa khawatir, beberapa kelompok warga berinisiatif untuk memadamkan api yang ada. Dengan sebilah galah bambu yang diujungnya dipasang gumpalan kain basah akhirnya api dapat dipadamkan. Pak RT yang turut hadir di lokasi kemudian menghubungi kenalannya yang biasanya memberikan layanan pemasangan listrik dan memang sering berhubungan kerja dengan PLN. Beberapa saat orang yang dimaksudkan datang dan langsung naik ke tiang listrik melakukan identifikasi kejadian dan segera memberbaiki beberapa titik sambungan yang terputus.

Sambil mengamati perbaikan yang dilakukan, beberapa warga turut bergerombol dan mengobrol tidak jauh dari tiang listrik yang diperbaiki. Saya sempat menyampaikan bahwa sebelumnya saya sempat menelpon pihak layanan PLN untuk melaporkan kejadian yang ada dan pihak PLN akan segera mengirimkan petugasnya. Akan tetapi cerita yang saya sampaikan justru ditanggapi secara sinis oleh beberapa warga. Ada diantara tetangga yang nyeletuk bahwa tidak akan mungkin ada petugas PLN yang datang kemari. Laporan ke PLN mana ada yang ditindaklanjuti. Lebih baik menyewa orang untuk memperbaiki saluran listrik yang terbakar. “Emangnya di kampung Mas, masih ada petugas PLN yang datang tengah malam dan tidak meminta bayaran?” demikian kira-kira salah seorang tetangga menyampaikan tanggapannya.

Beberapa saat kemudian, saluran listrik yang terputus ke beberapa rumah berhasil diperbaiki. Beberapa rumah yang sempat padampun kembali dapat menyala listriknya. Bersamaan dengan itu datanglah sebuah mobil PLN dengan dua orang petugasnya. Dengan peralatan tangga dan perlengkapan kerja yang lain, mereka segera menuju tiang listrik yang bermasalah. Sebagian besar warga yang berkerumun menjadi heran dan tidak percaya bahwa petugas PLN benar-benar ada yang datang menanggapi laporan saya sebelumnya.

Melihat keadaan sudah teratasi dan telah bisa diperbaiki, kedua petugas tersebut urung untuk naik ke tiang listrik yang pada saat yang sama masih ditongkrongi tukang listrik kenalan Pak RT. Entah tidak enak hati atau bagaimana, kedua petugas tersebut kemudian memilih untuk undur diri. Ketika saya tanyakan apakah mereka tidak lebih baik mengecek keadaan terlebih dulu, mereka justru meminta pamit pulang.

Dari kejadian tersebut akhirnya beberapa rumah warga yang sempat terdampak langsung dan padam aliran listriknya ditarik iuran oleh Pak RT. Iuran tersebut tentu saja untuk memberikan uang jasa kepada tukang listrik yang memperbaiki saluran listrik di tempat kami tersebut. Uang iuran tersebut sebenarnya tidak seberapa, tetapi bagi para tetangga yang rata-rata para buruh pabrik tentunya sangat berarti. Mereka tentu saja tidak berani mengungkapkan perasaan mereka secara langsung kepada Pak RT, tetapi mereka menyampaikan penyesalannya kapada kami. Kalau saja Pak RT tidak memanggil tukang listrik kenalannya, tentu petugas PLN yang akan memperbaiki listrik dan warga tidak dikenakan pungutan uang urunan.

Dalam banyak urusan, warga di sekitar kami memang seringkali memasrahkan urusannya kepada Pak RT. Urusan buat KTP, kartu keluarga, akte anak, pajak, hingga sertifikat tanah sering diurus Pak RT. Warga senantiasa mendapat cerita bahwa mengurus berbagai dokumen tersebut sulit, ruwet, berbelit-belit, lama dan mahal. Akan lebih praktis biar diuruskan petugas RT, tinggal pasrah uang dan semuanya dijamin beres. Warga hampir tidak pernah mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya tentang pengurusan suatu dokumen penting secara lengkap dan utuh. Ada semacam kesengajaan bahkan rekayasa agar warga tidak paham dan hal tersebut menjadi ladang uang bagi para oknum. Ya, semacam doktrinasi ketidakpahaman sebagaimana judul tulisan ini.

Anda mungkin bisa juga memberikan contoh yang lain? Ah, alangkah menyedihkannya negeri yang sama-sama kita cintai ini. Semoga keadaan segera berubah.

Foto dari sini.

Ngisor Blimbing, 8 November 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s