Negeri Sarang Pawang Hujan


BanjirHarmoniMusim kemarau di tanah air kali ini secara rerata memang lebih panjang. Jika dulu siswa di sekolah dasar diajari bahwa musim hujan berlangsung antara bulan Oktober hingga April, maka teori lama tersebut seolah sudah usang dan tak ampuh lagi untuk diyakini. Termasuk keyakinan bahwa Desember adalah saat “gedhe-gedhene sumber”, dan Januari sebagai bulan dengan “hujan sehari-hari”. Faktanya untuk tahun ini, hingga memasuki bulan November masih banyak wilayah di tanah air yang belum sepenuhnya bisa berdendang lagu November Rain. Hujan memang baru sekali-kali tiba dan belum ajeg.

Beberapa kali memperhatikan prakiraan cuaca, sebenarnya minggu-minggu awal di bulan November ini hujan memang sudah berpeluang untuk terjadi di sebagian wilayah tanah air. Pada kenyataannya memang telah banyak daerah yang sudah dapat menikmati derasnya curahan hujan yang selama ini sangat ditunggu-tunggu. Bahkan untuk wilayah ibukota Jakartapun, di akhir pekan ini sudah sempat diguyur hujan bahkan dalam intensitas yang cukup tinggi hingga sudah menimbulkan beberapa genangan di beberapa underpass yang menimbulkan banjir lokal sangat serius. Tidak mengherankan jika segenap SKPD terkait di DKI Jakarta sudah mencanangkan Jakarta siaga banjir.

Meskipun bertetangga langsung, lain Jakarta lain pula wilayah Kota Tangerang. Kota di sisi barat ibukota ini boleh dibilang baru diguyur dengan gerimis hujan beberapa kali. Secara umum siang hari masih sangat terik dengan sinar matahari. Beberapa kali mendung tebal memang telah menggayut dan disertai dengan gelegar kilat dan petir. Akan tetapi tanda-tanda hujan tersebut seringkali tidak benar-benar menjadi hujan yang memang sudah sangat dinanti-nantikan semua warga. Awan hitam nan pekat yang seolah sudah sangat nyata digayuti butiran embun dan titik air yang siap tumpah, tiba-tiba saja disapu angin dan seolah bergerak menjauh. Gerangan apakah yang terjadi?

Mungkin sebagian orang melihat analisa sederhana berikut ini sekedar sebagai mitos. Tetapi menurut keterangan dari beberapa warga sekitar menyampaikan bahwa sehubungan dengan beberapa pengerjaan megaproyek apartemen dan perumahan mewah, pihak pengembang sengaja mengerahkan kekuatan para pawang hujan untuk menolak datangnya hujan. Benarkah demikian?

Pawang hujan memang sebuah profesi yang tidak semua orang tahu benar seluk-beluk dan wujudnya. Konon melalui “kelebihan” yang dimiliki, seorang pawang hujan bisa menggiring awan untuk menjauh dari suatu lokasi dan memindahkan tempat turunnya hujan di tempat lain. Jasa pawang hujan konon banyak melayani beberapa orang atau pihak yang tengah memiliki hajatan. Di kalangan awam, sangat umum orang yang menyelenggarakan perhelatan atau hajatan, seperti pesta pernikahan, tanggapan tontonan (wayang, kethoprak, hingga ndangdutan), bahkan pengajian umum. Bahkan untuk kalangan pemerintahan dan kau profesional, jasa pawang hujan juga dipergunakan pada saat acara peresmian proyek, acara konser, bahkan turnamen olah raga. Hal ini tentu saja paling umum dilakukan pada saat hajatan diselenggarakan di musim hujan.

Pada saat pakdhe saya kebetulan nanggap kethoprakan di rumahnya beberapa tahun silam, saya menyaksikan sendiri seorang pawang hujan yang tengah menyiapkan segala macam uba rampe ditengah hiruk-pikuk persiapan pentas. Dengan beberapa macam kembang, dengan bau wangi asap kemenyan dan dupa, serta beberapa batang lidi yang ditempatkan pada selembar genteng, uba rampe tersebut dibasuh dengan jompa-jampi doa untuk kemudian ditempatkan di beberapa sudut yang mengelilingi panggung pentas. Percaya tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin, entah ada hubungannya dengan kesaktian para pawang atau hanya sekedar sebuah kebetulan, memang acara kethoprak di rumah pakdhe yang dilakukan pada saat puncak musim hujan kala itu sama sekali tidak ada yang namanya hujan gerimis, terlebih hujan deras sebagaimana di beberapa hari yang mengiringi hari pementasan tersebut.

Kembali kepada kondisi musim kemarau yang berlarut-larut dan terlampau panjang tahun ini, apakah kiranya ada hubungannya dengan keberadaan para pawang hujan ya?

Dalam beberapa kesempatan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika senantiasa melansir bahwa kemarau yang berlangsung lebih panjang di tanah air kali ini disebabkan adanya gejala elnino. Gejala ini merupakan efek pelan yang ditimbulkan oleh pemanasan global atau global warming yang melanda planet bumi. Gejala elnino justru membawa suasana angin kering di sebagian wilayah sekitar ekuator. Sebaliknya untuk wilayah lintang sedang hingga kutub memiliki peluang aliran angin basah yang membawa banyak uap air. Adanya gradien pola aliran angin yang sangat besar antara kedua wilayah tersebut menyebabkan peluang timbulnya benih badai yang tumbuh di wilayah khatulistiwa tetapi terus tumbuh membesar dan menghantam wilayah di lintang sedang. Di tengah kemarau panjang yang kita alami, bukankah berita tentang badai dan banjir banyak kita dengar dari wilayah Meksiko, Amerika Serikat, India, China dan beberapa negara yang lain.

Bagaimanapun kemarau nan panjang kali ini telah menyebabkan ribuan mata air surut, bahkan mati sama sekali. Sungai-sungai kering kerontang hingga jutaan hektar lahan pertanian menjadi telantar dan tidak bisa ditanami karena sangat keringnya. Bahkan hal yang paling menyedihkan dan membawa kepada dampak kerusakan lingkungan hidup adalah bencana kebakaran hutan di beberapa wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Tidak hanya kerusakan lingkungan yang parah, kabut asap akibat kebakaran tersebut juga telah merenggut beberapa jiwa dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Jangan-jangan para pengusaha hutan nakal juga tengah mengerahkan jasa para pawang hujan untuk menunda musim hujan demi kepentingan pembukaan lahan mereka. Bukankah bagi para pengusaha nakal membuka hutan dengan cara membakar sudah sekian lama dan banyak dilakukan di negeri yang tidak bisa menyentuh tindakan melanggar hukum tersebut?

Sedemikian panjang kisah keberadaan para pawang hujan di tanah air, jangan-jangan memang belakangan jasa mereka banyak dipergunakan oleh para pengusaha dengan perusahaan besarnya. Berbeda dengan para pawang hujan yang memberikan jasanya untuk suatu hajatan, pawang hujan yang melayani pengusaha tertentu bukannya tidak mungkin justru menimbulkan kerugian yang lebih besar terhadap masyarakat secara umum. Jika suatu hajatan hanya berlangsung sehari dua hari, tetapi untuk suatu proyek tentu tidak cukup sebulan dua bulan. Terlebih lagi, suatu proyek milik perusahaan swasta tentu merupakan bisnis pribadi atau korporasi. Jadi kepemihakan para pawang hujan terhadap para pengusaha (jikapun benar-benar ada), tentu bertentangan dengan asas kemaslahatan umum. Demi kepentingan segelintir orang, kepentingan masyarakat untuk mendapatkan hujan sesuai dengan musimnya menjadi tertunda atau terganggu.

Sekali lagi ini sekedar analisa ngawur dan mungkin sangat tidak berdasar sebagaimana keterangan dari BMKG soal fenomena elnino. Tetapi, eee……tetapi apa yang tidak mungkin terjadi di negeri yang memang penuh dengan banyak ketidakpastian ini!

Foto pawang hujan dari sini.

Ngisor Blimbing, 8 November 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s