Kricikan dadi Kemacetan


Orang tua dan nenek moyang kita memang memiliki tingkat kehalusan bahasa yang tinggi. Di dalam mengungkapkan sesuatu tidak jarang ungkapan tersebut dibungkus dalam suatu simbol ataupun peribahasa. Salah satu contoh yang ingin saya ungkapkan di sini adalah ungkapan “kriwikan dadi grojokan“.

Peribahasa dalam bahasa Jawa ini memiliki makna inti dari dua kata, kriwikan dan grojokan. Kriwikan berarti tetesan titik air limpahan  yang jatuh dari ujung genting di teras rumah. Adapun grojokan bermakna air terjun yang jatuh dari tebing atau bendungang yan tinggi. Peribahasa kriwikan dadi grojokan bermakna sebuah permasalahan yang kecil atau sederhana, bisa berkembang atau berlarut-larut menjadi masalah yang besar, rumit, dan kompleks.

Dalam berbagai ranah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dewasa ini, kita semakin banyak menjumpai berbagai persoalan bersama yang semakin berlarut-larut, kian membesar, tidak terkendali, dan tentu saja ujung-ujung menimbulkan kerugian yang tidak kecil dari berbagai aspek. Betapa hanya dari sepercik api yang berasal dari puntung rokok yang kecil atau kesengajaan korek api, ribuan juta hektar hutan  bisa terbakar dan mengirimkan kabut asap yang sangat merugikan berbagai aspek kehidupan kita. Inilah salah satu masalah besar yang kini sedang dihadapi bangsa kita.

Akibat kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, berapa bayi-bayi, anak-anak, hingga orang dewasa yang terpapar asap setiap hari hingga menimbulkan penyakit saluran pernafsan yang meluas. Tidak hanya cukup menimbulkan gangguan kesehatan dan penyakit, namun asap telah membawa maut bagi beberapa korban yang lebih akut serta tidak sempat tertangani secara layak. Akibat asap pula, berapa ratusan ribu anak-anak pelajar yang terpaksa diliburkan karena sekolah mereka tenggelam dalam pekatnya kabut asap tadi. Asap telah menimbulkan kerugian bagi dunia kesehatan dan pendidikan kita secara langsung.

Pun juga masih karena kabut asap, berapa ribu warga masyarakat yang terganggu aktivitas dan kerjanya sehari-hari. Betapa mereka harus sedemikian membatasi diri untuk tidak berada di luar rumah demi menyelamatkan diri dari asap. Bayangkan juga berbagai bandara yang lumpuh akibat jarak pandang landasan yang menjadi sangat pendek dan membahayakan aktivitas penerbangan. Berapa kerugian ekonomi dan finansial, setiap orang, setiap keluarga, setiap sekolah, setiap perusahaan, setiap institusi, dan kemudian secara total terhadap keuangan negara kita. Tentu bukan harga yang murah untuk dibayarkan di tengah keterpurukan atau kelambatan pertumbuhan ekonomi yang kini juga tengah melanda kita.

Contoh di atas hanyalah sebuah gambaran betapa masalah kecil jika tidak dapat terselesaikan dengan tuntas, dapat terus berkembang menjadi masalah yang besar, kompleks, sulit tertangani, dan menimbulkan banyak sekali kerugian. Dari setitik api bisa berkembang menjadi kobran api, bahkan selanjutnya menjadi lautan api.

Di sisi yang lain, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan baru-baru ini telah menaikkan tarif tol di beberapa ruas jalan tol di ibukota. Sesuai mekanisme di peraturan perundangan yang ada, tarif tol memang dimungkinkan untuk ditinjau ulang setiap selang waktu dua tahun. Alih-alih hanya sekedar meninjau ulang, yang selama ini selalu terjadi hasil peninjauan ulang itu adalah kenaikan tarif. Jadi setiap dua tahun tarif tol pasti naik. Meskipun dengan janji peningkatan layanan, namun seringkali kenaikan tarif tol juga biasa diikuti dengan kenaikan tarif angkutan umum. Kalau sudah begini, rakyat kecil juga yang semakin merasakan himpitan eknonomi yang kian keras.

Dampak kenaikan tarif tol di ruas Jalan Tol Jakarta-Merak, di samping dampak eknomi secara langsung, ada hal unik lainnya yang langsung terasa dampak fatalnya. Untuk tarif kendaraan golongan I (seperti mobil pribadi, mobil kecil, kendaran umum), tarif yang sebelumnya Rp 5.000,- dinaikkan menjadi Rp 5.500,-. Dari segi kenaikan tentu nilai lima ratus perak sama sekali tidak terasa. Akan tetapi dampak fatal itu justru timbul karena jumlah receh yang tanggung itu.

Sebagaimana umumnya, dengan sistem pembayaran uang cash, masyarakat kita masih belum memiliki budaya untuk membayar dengan uang pas. Untuk tarif Rp 5.500,- kebanyakan pengemudi membayar dengan uang peahan Rp 10.000,-. Dengan demikian petugas loket pintu tol harus memberikan uang kembalian Rp 4.500,-. Nah di sinilah biang kerok permasalahannya! Untuk menyiapkan uang kembalian ini diperlukan waktu yang sedikit lebih panjang saat layanan di pintu tol. Akibatnya, kendaraan menjadi sangat tersendat pada saat transaksi. Hal inilah yang menjadikan antrian bergerak lamban, akhirnya menumpuk, dan terjadilah kemacetan parah itu.

Hanya gara-gara uang receh lima ratus perak, dampak kemacetan yang ditimbulkan sangat parah. Saya sendiri tidak paham, apakah sebelum kenaikan tarif lima ratus perak tersebut pihak yang terkait tidak melakukan kajian mendalam mengenai dampak yang mungkin ditimbulkannya. Inilah mengapa saya ingin mengatakan “kricikan dadi kemacetan“. Sekedar uang receh tak seberapa, tetapi buntut-buntutnya siapa yang dirugikan coba? Lebih celaka lagi, hingga beberapa hari terjadi tidak ada upaya dari pihak manapun yang terakait untuk mengurai kemacetan yang ditimbulkan uang receh tadi. Negeri macam apa kita ini coba?

Lor Kedhaton, 3 November 2015 

Gambar diambil dari sinisini, dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s