Surat Terbuka untuk Mendikbud Anies Baswedan


Kepada Yth. Bpk Anies Baswedan, Ph.D.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia

Dengan hormat,

Berkenaan dengan penyelenggaraan Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015 yang dilaksanakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mengambil tema “Cerita Rakyat sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa”, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiasinya untuk kembali mengangkat dongeng rakyat dan memasyarakatkan kembali budaya dongeng untuk anak-anak tunas masa depan bangsa tercinta.
Dongeng merupakan salah satu kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia sebagai salah satu metode dalam membentuk karakter anak bangsa menjadi manusia yang utuh jiwa dan raganya. Melalui dongeng terinternalisasikan nilai-nilai luhur sebagai pedoman kita dalam berpikir, bersikap, bertutur, dan bertindak sesuai dengan kepribadian ketimuran yang senantiasa menjunjung tinggi sifat-sifat kebersamaan dan kegotong-royongan. Terpaan badai globalisasi yang sangat deras menggerus jati diri dan kepribadian bangsa dewasa ini menjadi suatu keprihatinan bersama yang harus disikapi dengan gerakan nyata. Oleh karena itu kami sangat mendukung kegiatan dalam menumbuh-kembangkan kreativitas bercerita di masyarakat dalam rangka melindungi kekayaan budaya luhur Nusantara.


Dengan latar belakang kesadaran sebagaimana telah kami uraikan di atas, dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi kamipun turut mengambil bagian untuk mengikuti kegiatan  Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015 yang diselenggarakan Kemendiknas dengan mengirimkan sebuah naskah dongeng yang kami kembangkan dari kisah yang dituturkan kepada kami pada masa kecil kami dahulu.
Menang dan kalah dalam sebuah perlombaan adalah hal biasa. Dan kamipun menyadari sepenuhnya bahwasanya lomba bertaraf nasional seperti kali ini pasti diikuti oleh banyak peserta terbaik dari setiap penjuru tanah air, bahkan oleh anak bangsa yang sedang bermukim di berbagai belahan dunia, sehingga dari sisi kualitas dan bobot materi naskah dongeng tentunya juga sangat berkelas. Tanpa pengharapan dan kepercayan diri yang berlebihan, anak bangsa seperti kami sebenarnya hanya ingin turut berpartisipasi dalam “menemukan” kembali jati diri bangsa melalui kegiatan menggiatkan kembali ribuan dongeng warisan para pendahulu kita.
Namun terlepas dari sisi itikad baik dari semua pihak, baik Kemendikbud, panitia pelaksana, dewan juri, maupun para peserta, kami ingin menyampaikan beberapa catatan penting yang banyak dirasakan oleh beberapa pihak  telah “menodai” penyelenggaraan lomba yang bertujuan sangat mulia ini. Beberapa catatan penting tersebut berkaitan dengan kesigapan dan profesionalisme panitia, ruang dan kesempatan interaksi komunikasi yang terbatas, kurangnya transparansi setiap tahapan proses, hingga simpang siur informasi dan pengunduran pengumuman.
Tingginya antusiasme anak bangsa yang mengirimkan karya naskah dongengnya harus disikapi dengan kesigapan dan profesionalisme tindakan dari segenap panitia yang bertanggung jawab. Setiap kiriman naskah seharusnya dibalas dengan apresiasi dan ungkapan terima kasih atas partisipasinya. Meskipun jumlah peserta mencapai ribuan, akan tetapi sebaris dua baris email berisi pernyataan yang menjelaskan bahwa kiriman naskah sudah berada di tangan panitia dan akan diteruskan dalam proses selanjutnya setidaknya menumbuhkan rasa saling simpati diantara peserta dan panitia.
Di dalam leaflet atau brosur yang mengumumkan penyelenggaraan lomba memang sudah diinformasikan secara panjang lebar dan detail mengenai seluruh persyaratan dan ketentuan lomba, beserta acuan time frame mulai dari proses publikasi, pengiriman naskah, seleksi teknis, penilaian naskah, wawancara, hingga pengumuman dan pembagian hadiah. Informasi tersebut dipasang menjadi bagian dari website www.kebudayaan. kemendikbud.go.id, di samping disebarluaskan pula melalui jaringan facebook dan twitter. Akan lebih baik jika segala informasi yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan lomba diinformasikan melalui halaman website tersendiri dan terupdate lengkap dari waktu ke waktu, hingga pelaksanaan lomba selesai. Melalui website khusus tersebut interaksi dan komunikasi dapat dibangun. Segala pertanyaan peserta bisa ditampung dan dijawab dengan santun dalam suatu kumpulan file yang bisa dibaca semua orang (semacam FAQ database).
Ketika proses publikasi diikuti dengan penyerahan atau pengiriman naskah dari peserta,  begitu proses pengiriman naskah dinyatakan ditutup maka adalah hak setiap peserta untuk mengetahui informasi mengenai kepastian naskahnya benar-benar berada di tangan panitia untuk diteruskan kepada dewan juri. Alangkah lebih baik jika dapat pula diinformasikan data mengenai nama-nama peserta lomba berikut karya naskahnya masing-masing. Sebagai sebuah itikad transparansi proses hal ini sangat penting.
Pada saat proses berlanjut dengan seleksi teknis, perlu juga disampaikan karya-karya yang lolos seleksi dan berhak untuk memasuki tahapan penilaian atau penjurian naskah, serta wawancara, maupun karya yang tidak lolos. Demikian proses penilaian selesai dan didapatkan kandidat 12 besar, maka kedua belas nama harus diumumkan secara terbuka. Komunikasi yang dijalin secara intensif dan transparan dari setiap tahapan proses akan menampilkan kinerja panitia yang rapi, tertib, transparan, dan taat ketentuan yang disepakati bersama sehingga tidak menimbulkan kesimpang-siuran informasi.
Alangkah sangat elegan pula jika Kemendikbud dapat mengapresiasi seluruh peserta yang beritikad dan berperan mensukseskan perlombaan ini dengan memberikan sertifikat keikutsertaan untuk masing-masing peserta. Hal ini lazim dilakukan oleh berbagai panitia lomba yang sejenis, meskipun pesertanya mencapai jumlah ribuan orang.
Ketidaknyamanan yang banyak dirasakan dan dikeluhkan oleh para peserta, sebagaimana yang terkomunikasikan dalam diskusi panjang di facebook, menurut hemat kami merupakan catatan kelam yang dapat mencoreng kredibilitas institusi Kemendikbud secara keseluruhan. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan semangat reformasi birokrasi yang ingin membangun dan memperkuat birokrasi yang dapat memberikan pelayanan kepada setiap pemangku kepentingan secara prima, akuntabel, profesional dan setransparan mungkin. Setiap unsur panitia yang melakukan kelalaian yang tidak sejalan dengan semangat reformasi birokrasi tadi seyogyanya dapat ditegur ataupun diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada.
Kejadian yang tidak nyaman dalam pelaksanaan lomba kali ini, mudah-mudahan menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi semua pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, agar ke depan tidak lagi dijumpai kejadian yang serupa.
Demikian Bapak Menteri, sebaris dua baris catatan kecil kami atas penyelenggaraan Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015. Atas perhatian Bapak, kami ucapkan banyak terima kasih. Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik.

Hidup dongeng Indonesia! Hidup sastra dan budaya Nusantara!

Gambar Mas Menteri dari sini.

Tangerang, 2 November 2015

Peserta Lomba,

Nanang Triagung Edi H.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s