Tragedi Sandal Selen


Sandal Selen

Sandal atau alas kaki memang sangat urgen dalam menunjang aktivitas kita sehari-hari. Hampir bisa dikatakan penggunaan alas kaki bagi manusia modern sudah merupakan sebuah keniscayaan. Orang yang nyeker alias tidak beralas kaki, secara umum dikatakan sebagai orang yang belum mengenal budaya dan peradaban, orang yang belum sepenuhnya dianggap sebagai manusia. Tentu hal-hal seperti ini bagi masyarakat dusun yang sebagian diantaranya berprofesi sebagai petani sedikit diabaikan. Bukankah sangat jarang petani beralas kaki tatkala mengolah tanah sawahnya? Terlebih ketika mbajak sawah untuk persiapan tanam padi, baik saat ngluku maupun nggaru.

Menilik fungsinya tentu saja sandal sangat penting ketika orang mau pergi sholat di masjid. Sandal memiliki peranan untuk tetap menjadi kesucian seseorang selepas berwudhu karena sandal bisa menghindarkan kaki seseorang dari menginjak telek lencong ataupun jenis najis lain yang memungkinkan batalnya wudhu. Dalam sudut pandang ini, sandal jauh lebih penting daripada fungsi peci sebagai mahkota yang bertengger di kepala jamaah pria. Di sinilah sebuah pembelajaran bahwa yang berada di bawah selamanya selalu tindak penting dibandingkan yang berada di puncak kepala. Pemimpin tidak selalu harus lebih penting dibandingkan rakyatnya. Dan justru, rakyatlah yang mengemban pemilik modal utama berdirinya sebuah negara dan di nurani merekalah kesucian senantiasa menjadi penuntun perjalan sebuah bangsa.

Demikian halnya dengan alas kaki yang lain. Ketika akan kondangan, ketika akan pergi ke pasar, ketika akan menemui pak lurah, setidaknya budaya kita telah menggariskan suatu tataran nilai kesopanan untuk memakai alas kaki. Setidaknya ya sandal, atau akan jauh dianggap lebih sopan jika pakai selop atau sepatu. Tentu saja hal tersebut dapat disesuaikan dengan ruang, tempat, dan waktu dengan siapa seseorang akan bertemu.

Bicara soal sandal, kita pastinya sangat paham bahwa sandal diciptakan sebagai sebuah pasangan. Kita senantiasa memerlukan sandal kanan sekaligus sandal kiri. Sandal kanan dan sandal kiri merupakan kesatuan tak terpisahkan sebagaimana dua sisi mata uang. Sandal kanan dan kiri hadir sebagai sebuah simbol keseimbangan, sebagai simbol persatuan kegunaan dari berbagai peranan yang berlainan, sebagai simbol kesatuan langkah dan tujuan dari ritme kehidupan yang sedang dijalani manusia. Ternyata dari “hanya” sekedar sandal kita bisa menggali banyak hikmah yang bisa kita jadikan ilmu untuk membekali diri menghadi berbagai tantangan kehidupan yang semakin hari semakin tidak ringan untuk dijalani.

Apabila sandal kanan kehilangan sandal kiri (demikian sebaliknya) maka sebuah tata keseimbangan akan terganggu. Apa ya pantes seseorang bepergian dengan hanya memakai satu sandal, sedangkan kaki yang lainya nyeker tanpa alas kaki? Selain wagu bin saru, hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa malu bagi orang yang bersangkutan. Memakai satu sandal di salah satu kaki sedangkan kaki yang lainnya bertelanjang tanah sangat jauh lebih memalukan dibandingkan kedua kaki tanpa bersandal sekalian. Inilah salah satu tamsil totalitas kesatuan yang tidak bisa dipisah dan dipecah-pecah.

Kembali ke soal sandal, kali ini tidak ingin bicara sok filosofis mengenai sandal. Kisah ini sebuah kejadian nyata yang selalu mengundang gelak tawa untuk dikenang. Alkisah, masih dalam rangkaian silaturahim bernuansa Idul Fitri, saya turut mendapat jawilan untuk menghadiri acara halal bi halal yang digelar oleh Komunitas Kota Toe Magelang. Komunitas ini merupakan komunitas lintas generasi yang eksis dalam menggali, menyambangi, mendiskusikan, mendokumentasikan terhadap berbagai bangunan maupun situs, juga kisah dan spirit yang berkaitan dengan peninggalam sejarah di wilayah Magelang dan sekitarnya. Daripada datang seorang diri, maka sengaja anak dan istri saya ajak turut serta. Kebetulan anak-anak juga telah beberapa kali turut di kegiatan komunitas kebanggan warga Magelang tersebut dengan sangat antusias. Dengan demikian, merekapun juga bersemangat ketika saya mengajak untuk turut kumpul bareng di acara syawalannya KTM.

Sebagaimana agenda yang diedarkan melalui sosial media sebelumnya, acara temu kangen, jumpa darat bin sekaligus syawalan kala itu akan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang. Namun namanya persiapan pergi dengan anak-anak pastinya selalu diselimuti suasana kemrungsung saat mempersiapkan uba rampe thethek bengeknya si kecil. Setelah dirasa semua persiapan selesai dilakukan, berangkatlah kami sekeluarga dengan motor menuju lokasi acara di warung Pendopo Joglo yang masih merupakan warung makan berkonsep arsitektur joglo terbaru yang bertempat di sekitar ujung Jalan Beringin Magelang.

Sesampai di lokasi, tentu saja saya segera merapat ke meja panitia untuk melakukan registrasi. Selepas itu, sambil menyapa beberapa rekan dan kenalan, saya menyempatkan diri untuk berkeliling lokasi restoran untuk lebih mengenal seluk-beluk suasana dan menangkap nuansa Pendopo Joglo. Di berbagai sudut nampak terpajang beberapa barang bernuansa jadul. Ada becak tua terparkir di salah sisi sudut halaman tengah. Ada “fosil” sepeda motor bebek merah warnanya alias di pitung atau Honda 70. Ada pula sepeda onthel tua, baik pit lanang, pit wadon, maupun pit jengki. Di beberapa sisi dinding juga terpajang dengan rapi beberapa ilustrasi dan lukisan bernuansa jaman kolonial. Bahkan di sudut halaman pojok belakang terdapat ayunan kayu yang dilengkapi dengan beberapa perangkat alat main yang terbuat dari kayu dan bambu. Pendopo Joglo benar-benar menghadirkan suasana dan nuansa jaman “sejarah” yang akan menggugah kenangan di masa kecil yang penuh rasa haru-biru.

Setelah seberapa lama berkeliling, si Ponang anak lelaki saya kelihatan bersungut-sungut. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika saya mendekat, istri saya memberikan penjelasan bahwa sandal yang dipakai anak sulung kami tersebut ternyata selen alias tidak sama antara sebelah kanan dan kirinya. Sandal kanan merupakan sandal kulit warna coklat yang baru beberapa malam sebelumnya dihadiahkan oleh pak dhe-nya si Thole. Adapun kaki sebelah kiri memakai sandal jepit kesukaannya. Nah, kenyataan ini membuat si Ponang tersipu-sipu, merasa malu dan mau cepat-cepat pulang. Beberapa rekan KTM yang sempat mendengar bisikan pembicaraan kami, sempat turut melirik kaki si Ponang dan tersenyum simpul menyaksikan kejadian yang lucu tersebut. Beberapa rekan bahkan sengaja mengambil gambar kaki bersandal selen sambil mengguraui kami. Demi tetap membesarkan hati si Ponang, kepada rekan tersebut saya sampaikan bahwa saking semangatnya ingin bersilaturahmi dengan warga KTM, si Ponang sampai tidak sempat merasakan sentuhan sandal selen di kakinya.

Meskipun pada awalnya si Ponang ngeyel ingin segera pulang untuk ganti sandal, tetapi saya berhasil meyakinkan bahwa nggak papa pakai sandal selen. Tidak akan ada orang lain yang berani meledek. Paling kalau ada yang sempat melihat atau memperhatikan hanya akan mbatin di dalam hati dan tidak berani untuk memperolok. Akhirnya si Ponang bisa mengerti dan meskipun agak sedikit canggung serta menjadi sedikit agak kurang percaya diri. Kamipun mengikuti keseluruhan rangkaian acara halal bi halal yang diisi dengan mendengar cerita oleh-oleh dari warga Magelang yang tinggal di Jerman dan beberapa ulasan sejarah Pangeran Diponegoro yang diceritakan oleh Ki Roni Sadewa dari Kulon Progo.

Ketika acara syawalan selesai, sebagaimana rencana semula yang telah kami susun, si Ponang ingin diantar ke Artos. Tanpa perlu ragu dengan sandal selennya, kami tetap melanjutkan perjalanan untuk sekedar melihat-lihat suasana di satu-satunya mall yang ada di Magelang. Mungkin saya perlu sedikit berbangga bahwa si Ponanglah pemegang rekor masuk Artos dengan sandal selen. Anda pernah punya pengalaman yang sama? Atau Anda pernah juga masuk mall dengan sandal selen dan tetap merasa percaya diri?

Ngisor Blimbing, 25 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s