Tayamum di Negeri Air


Kawasan Nusantara yang kini menjelma menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia. Sebagian besar wilayah negeri ini merupakan wilayah perairan, mulai dari teluk, selat, laut, hingga samudera. Negeri maritim ini sejak dahulu kala sudah dikenal sebagai negeri para pelaut ulung yang sanggup menakhlukkan badai dan gelombang sedahsyat apapun. Nenek moyang kita juga sudah menjelajah ke berbagai penjuru dunia melalui jalur-jalur pelayaran yang termasyur.

Dengan luasan wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan luasan wilayah daratannya, negeri kita tidak salah jika dijuluki sebagai negeri air. Di samping air laut yang berlimpah dikarenakan wilayah kita yang sebagian besar diantaranya berupa lautan, daratan di negeri ini juga merupakan bentang tanah subur yang dianugerahi hujan hampir sepanjang tahun secara bergantian dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Keberadaan bumi Nusantara di perlintasan khatulistiwa menjadikan negeri nan subur gemah ripah kerta raharja ini sebagai paru-paru dunia dengan hutan hujan tropisnya yang lebat.

Keberadaan hutan hujan tropis di pulau-pulau Nusantara telah menjadi penangkap jatuhan air hujan untuk kemudian diresapkan ke dalam lapisan tanah, batuan dan perut bumi. Resapan air tersebut selanjutnya menjadi tandon alias tampungan air tanah yang sangat berharga untuk mensuplai keberadaan sumber dan mata air. Dari mata air inilah air timbul menjadi aliran sungai, menjadi danau, rawa dan lain sebagainya yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan manusia untuk kebutuhan air minum, irigasi pengairan sawah, untuk budidaya perikanan, untuk menunjang kegiatan industri dan lain sebagainya. Air adalah sumber daya yang tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Sekedar turut sedikit mengamati fenomena alam di tanah air sepanjang tahun ini, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa tahun ini termasuk tahun yang berat. Kewaskitaan ilmu dari para leluhur bangsa kita mengenai titi mangsa alias tatanan musim, nampaknya sudah banyak sekali bergeser untuk tidak mengatakannya sama sekali tidak tepat. Bukan soal ilmu dan pengetahuan musimnya yang terpenting, tetapi kenyataan ini setidaknya harus disadari sebagai bahan introspeksi diri dalam tataran hubungan antara manusia dan alam.

Negeri air dengan gambaran keberlimpahan air sepanjang sejarahnya kini sedang mangalami krisis air. Musim kemarau yang sangat panjang seolah masih jauh dari kebersudahannya. Hingga memasuki bulan Oktober yang biasanya sebagian wilayah di tanah sudah mengalami guyuran hujan lebat, untuk saat ini datangnya hujan di banyak wilayah masih ditunggu-tunggu. Kerusakan alam yang meluas konon telah menimbulkan terjadinya pemanasan global. Fenomena ini dianggap sebagai pemicu terjadinya perubahan tata musim dan iklim di bumi. Akibatnya, siklus musim kemarau dan musim hujan menjadi tidak teratur, bahkan menjadi semakin sulit diprediksi.

Krisis air yang terjadi sudah sedemikian hebatnya. Melalui berita di berbagai mass media, kita dapat menyaksikan bagaimana ribuan sungai mengering. Hal yang sama juga terjadi dengan sumber air, termasuk sumur-sumur penduduk di berbagai wilayah. Akibatnya hanya untuk mendapatkan air guna mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, sekedar untuk kebutuhan minum, masak, mandi, dan mencuci masyarakat tidak jarang harus berjalan sekian kilometer untuk mengambil air pada beberapa mata air atau aliran sungai yang tersisa. Itupun terkadang hanya mendapatkan air dengan kualitas di bawah standar yang semestinya.

Lebih memprihatinkan lagi masyarakat di kawasan yang sudah tidak lagi memiliki mata air ataupun sungai yang masih berair. Masyarakat di kawasan pegunungan seperti di wilayah Gunung Kidul misalnya, mereka harus mendatangkan air yang diangkut dengan mobil tangki dan membelinya dengan harga yang sangat mahal dibanding kemampuan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Masih cukup beruntung jika ada bantuan air dari para dermawan maupun dari pemerintah. Berapa banyak waktu produktif masyarakat menjadi terbuang sia-sia hanya untuk mendapatkan satu-dua drigen air bersih.

Kelangkaan air tentu saja tidak hanya berimbas terhadap kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. Sungai-sungai yang kering kerontang juga telah mengakibatkan terganggunya kegiatan sektor pertanian. Betapa tanah sawah-sawah di berbagai wilayah kering, pecah dan merekah hingga sama sekali tidak bisa ditanami dengan tanaman apapun. Berbagai tanaman semusim yang sempat ditanampun pada umumnya mati tanpa pernah dapat tumbuh, apalagi sempat menghasilkan panenan. Sawah-ladang telah puso dan gagal panen. Krisis air sangat berpengaruh terhadap ketersedian bahan makanan, dan tidak mustahil dapat memicu terjadinya krisis pangan yang akan semakin meluas.

Di sisi lain, kemarau panjang juga telah menimbulkan bencana kebakaran ladang dan hutan-hutan kita. Terlebih di beberapa wilayah pulau Sumatera dan Kalimantan, kebakaran hutan telah memicu bencana asap yang menimbulkan banyak kerugian. Ada beberapa kasus kebakaran yang memang terjadi secara alamiah karena sangat keringnya suatu kawasan hutan. Namun yang paling memilukan adalah terungkapnya banyak kasus pembakaran ladang maupun hutan secara sengaja oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, ada yang dalam skala perseorangan namun ada pula pihak korporasi atau perusahaan pengusahaan hutan.

Adanya bencana kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap pekat menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan anak-anak tidak bisa bersekolah. Penerbangan di beberapa bandara yang terimbas juga sempat lumpuh gara-gara kabut asap. Belum lagi berapa ribu warga masyarakat yang menderita penyakit saluran pernafasan, seperti infeksi saluran pernafasan akut. Betapa triuliunan kerugian yang ditanggung negeri kita tercinta. Sungguh kerusakan atas lingkungan hidup kita, atas bumi kita, tidak lain dan bukan berasal dari ulah manusia sendiri, ulah kita sendiri.

Dari beberapa kali kesempatan diskusi dengan beberapa teman-teman maupun organisasi yang sangat peduli dengan kemunduran kualitas lingkungan hidup kita, khususnya soal krisis air tadi, sempat terlontar ungkapan bahwa negeri Indonesia sebagai negeri bahari yang berkelimpahan air saat ini semakin mengalami krisis air. Air tiba-tiba menjadi barang langka, bahkan seolah hanya untuk sekedar berwudlu saja kita sulit menemukan air yang bersih, suci dan menyucikan. Apakah jika demikian suatu ketika akan benar-benar tiba suatu masa dimana kita harus bertayamum di tengah negeri air ini? Semua kembali kepada kesadaran kita bersama sebagai anak bangsa. Apakah kita akan terus-menerus merusak lingkungan dan alam? Ataukah kita memilih jalan untuk merumuskan kembali segala pemikiran dan tindakan dalam mengelola, memanfaatkan, serta mendayagunakan alam secara lebih bijaksana? Tidak hanya demi kehidupan generasi saat ini namun terpenting lagi adalah untuk kepentingan anak cucu kita di kelak kemudian hari. Akan selalu ada kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki keadaan. Semua kembali kepada kita semua.

Ngisor Blimbing, 17 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s