Daya Saing Anak Bangsa


Prof. Koh Young Hun dari Hankuk University di Korea Selatan menyatakab bahwa terdapat dua musuh utama yang menjadi ciri negara berkembang (sebagaimana Indonesia), yaitu kebodohan dan kemalasan. Kedua hal tersebut selanjutnya merupakan cikal bakal kelahiran kemiskinan di suatu masyarakat.

Di dalam ranah pembicaraan mengenai mutu, Prof Isti Surjandari dari UI mengungkap kan, kebodohan dapat dianggap sebagai rendahnya kualitas. Adapun kemalasan menggambarkan masih rendahnya produktivitas suatu kelompok masyarakat. Tentu masyarakat dengan strata demikian akan memiliki daya saing yang rendah dibandingkan masyarakat di negara lain yang lebih maju. Nah apabila dilihat dari dua tinjauan teoritis di atas, termasuk manakah masyarakat di Indonedia kita?

Ada sebuah pernyataan dari seorang pembicara yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia masih terbelenggu dalam kungkungan kemiskinan karena sebagian besar di antara masyarakat kita tergolong sebagai kalangan yang bodoh dan malas. Benarkah demikian? Bagaimana menurut Anda?

Ada memang seorang setengah baya dengan badan yang sehat dan tegap, di pagi hari hanya kongkow-kongkow di perempatan jalan sambil bal-bul mengebulkan asap rokoknya seolah sama sekali tidak memiliki kesibukan di tengah hiruk-pikuk anggota masyarakat lain yang tergopoh-gopoh menuju tempat kerja masing-masing. Namun jika ditanya serius mengenai keluarganya, dengan penuh kepolosan mungkin ia menjawab bahwa ia memiliki lima orang anak yang masih butuh-butuhnya biaya sekolah dan kuliah.

Apakah contoh sosok di atas dapat mewakili seseorang yang bodoh dan malas? Ada seberapa banyak tipologi manusia sejenis di bumi Nusantara yang ijo royo-royo, gemah ripah tata-titi tentrem kerta raharja.

Di sisi lain, jika suatu pagi Anda berkesempatan menelusur jalanan penghubung antara Kota Jogjakarta dan Bantul, semenjak waktu jago kluruk di keheningan pagi jauh sebelum menjelang Subuh, masih sangat banyak dijumpai barisan para wanita setengah baya, bahkan tidak sedikit yang sudah tua, berjajar dengan aneka gendongan di punggungnya. Mereka adalah para bakul yang membawa barang dagangannya sambil berjalan kaki lebih dari 15-20 km. Bayangkan dengan beban yang tidak ringan di punggung, mereka masih harus menjalani laku jalan kaki. Apakah mereka tipologi manusia pemalas?

Dua gambaran situasi di atas barangkali hanyalah sedikit kisah kontradiktif yang banyak hadir di tengah realitas masyarakat kita. Namun di masyarakat tingkat akar rumput, masyarakat kecil yang papa, yang rata-rata hanya berbekal pendidikan sekolah dasar, tiada hari dan saat tanpa diisi dengan aktivitas kerja. Sedari pagi gelap gulita, orang-orang kecil, orang-orang pinggiran, orang-orang desa sudah menuju sawah ladangnya selepas waktu Subuh. Para buruh, barisan karyawan, juga para pegawai rendah sudah bersesak ria, berhimpitan, bermacet ria di jalanan untuk menuju tempat kerja. Mereka juga berdesakan memenuhi bus antar kota, angkot, juga kereta penghubung pinggiran kawasan urban dan pusat-pusat kota yang bising.

Secara umum saya hanya ingin mengatakan bahwa masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang malas. Memang benar masih banyak diantaranya hanya mengenyam pendidikan yang serba pas-pasan. Akan tetapi layakkah rakyat kecil tersebut menjalani kehidupannya yang miskin karena malas dan bodoh yang disandangnya?

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, dalam kehidupan bernegara di negara yang kaya raya dengan sumber daya alam berlimpah ini, seharusnya tidak ada manusia yang rajin sebagaimana para ibu bakul dari Bantul tadi menjalani kehidupan dengan kondisi serba pas-pasan, bahkan dalam keadaan miskin nan papa. Yang sebenarnya terjadi mungkin memang bukan kemiskinan, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai pemiskinan. Struktur hukum dan pemerintahan yang ada belum sepenuhnya berpihak secara adil kepada semua anak bangsa. Fenomena inilah yang diistilahkan oleh para aktivis sebagai kemiskinan struktural.

Jika memang kemiskinan yang terjadi adalah karena ketidakberpihakan struktur pemerintahan serta sosial kemasyarakatan, maka pihak yang lebih bertanggung jawab terahadap kondisi tersebut adalah anak bangsa yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik di pusaran pemerintahan ataupun akses terhadap pintu modal, pangkat,jabatan, pendidikan, uang dlsb. Maka kunci utama untuk mengurai lingkaran setan kemiskinan di tanah air adalah kehadiran pemerintahan yang bersih dan benar-benar berorientasi untuk mensejahterakan rakyat. Pemerintah pulalah yang memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mendorong dan meningkatkan daya saing anak bangsa dengan menyediakan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dll secara lebih adil dan merata.

Sekejap mata di depan kita akan segera hadir Masyarakat Ekonomi ASEAN. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah bersepakat untuk lebih terbuka dalam interaksi ekonomi, dan sosial budaya. Tenaga kerja antar negara akan semakin mudah untuk bermobilitas dan merebut pangsa lapangan kerja di negara lain asal mereka tersertifikasi dalam suatu keahlian atau kompetensi tertentu. Di sinilah tantangan terbesar yang Indonesia hadapi berkaitan dengan daya saing anak bangsa.

Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar di antara negara ASEAN yang lain. Penduduk tersebut merupakan 47% pangsa pasar yang sangat potensial. Apabila negara kita benar-benar bisa memanfaatkan peluang ekonomi dalam negeri dari jumlah penduduk yang besar tersebut, maka kita akan tetap bisa berdiri mandiri di sektor ekonomi dan masih bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Daya saing anak bangsa akan sangat menentukan dalam hal ini.

Apakah Anda punya pendapat yang sama?

Lor Kedhaton, 22 Oktober 2015 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s