Setahun Jokowi-Jk


Melihat tayangan di beberapa stasiun tivi hari ini ternyata banyak yang mengulas setahun perintahan Jokowi-Jk. Saya sendiri terus terang tak ingin lagi risau ikut-ikutan mbahas dunia pemerintahan di negeri kita. Bukan apa-apa, tetapi tentunya level manusia akar rumput seperti saya ini hanya akan tambah pusing saja kalau ikut-ikutan ngomong soal politik tingkat tinggi. Lha wong soal memikirkan bagaimana agar dapur tetap ngepul saja sudah ruwetnya minta ampun je!

Namun demikian ada satu catatan yang cukup ngganjel menyangkut rutinitas pulang-pergi ke tempat penggawean selama kurang lebih satu tahun ini. Saya tidak tahu persis apakah rasa ngganjel ini ada keterkaitan langsung dengan pemerintahan saat ini, atau ini hanya sebuah kebetulan semata.

Begini sedulur! Setahunan ini untuk rutinitas berangkat kerja, saya tidak bisa lagi mengandalkan bus umum yang biasanya langsung nyemplung tol di sebelah kampung. Dulu, beberapa waktu sebelum Jokowi-Jk dilantik, saya biasa berangkat pukul enam pagi dan sampai di tempat kerja masih nyandak tiba pukul 07.30. Semenjak setahunan ini ndilalahnya kok kemacetan di tol yang biasa kami lalui teramat sangat parah. Waktu tempuh yang biasanya hanya 1,5 jam molor menjadi 2,5 jam. Akibatnya saya selalu terlambat masuk kantor yang seharusnya masuk jam 08.00 tepat. Nah kalau sudah begini, salah siapa coba?

Akhirnya, pikir punya pikir, saya banting stir dengan moda angkutan umum yang lain. Bagaimanapun juga saya termasuk orang yang militan untuk turut mendukung penggunaan sarana transportasi umum dan masih sangat menahan diri untuk menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivtas (padune ora nduwe jane). Kereta api menjadi pilihan sarana transportasi yang tidak macet dan lebih terprediksi waktunya, meskipun untuk mencapai stasiun harus sampai ganti angkot dua kali.

Mengalami dan menjalani kondisi saran angkutan berbasis jalan tol yang menjadi penghubung dengan tempat kerja tetapi justru semakin hari semakin parah, saya justru teringat dengan gembar-gembor para pendukung fanatik presiden kita yang di saat kampanye menyatakan bahwa persoalan kemacetan di Jakarta tidak bisa hanya ditangai oleh pemerintah provinsi. Peranan kewenangan pemerintah pusat menjadi kunci menyelesaikan masalah tersebut karena dibutuhkan koordinasi lintas sektoral dan lintas daerah di tiga provinsi terkait. Dengan Jokowi naik ke kursi presiden, persoalan tersebut akan lebih mudah serta cepat untuk dibereskan. Nah ini dia, kok yang saya rasakan selama setahun ini justru hal yang sebaliknya ya! (ini hanya soal macet yang saya hadapi lho ya, bukan yang lainnya)

Mungkin Anda punya catatan yang lain?

Ngisor Blimbing, 20 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s