Sistem Ekonomi Koruptif


Suatu siang saya berkesempatan mengikuti sebuah acara pada suatu instansi pemerintah di pusat kota Jakarta. Acara yang berlangsung selama setengah hari tersebut dihadiri oleh puluhan peserta undangan. Rangkaian acara yang diisi dengan presentasi mengenai sebuah peraturan baru serta diskusi tanya jawab diakhiri dengan makan siang.

Mungkin dengan pertimbangan kepraktisan, kemudahan ataupun keterbatasan ruang pertemuan, makan siang tidak disajikan secara prasmanan melainkan dibagikan dalam bentuk nasi kotak. Sekilas melihat lunch box dari sebuah waralaba ayam bakar ataupun ayam goreng yang sudah ternama, segera timbul rasa penasaran menu apa saja yang ada di dalamnya. Setelah nasi kotak terbagi rata kepada seluruh peserta yang ada, mulailah masing-masing peserta membuka jatah makan siang masing-masing.

Sebagaimana gambar pada kemasan luar lunch box kali itu, memang menu sajian utama yang ada adalah ayam bakar. Nasi seporsi dilengkapi dengan ayam bakar, gudeg nangka dengan krecek kikilnya, telur ayam bumbu pindang, ditambah dengan sebuah pisang raja dan segelas air putih. Hal mencolok yang sempat menjadi perhatian kami bersama beberapa rekan yang lain adalah ukuran ayam goreng kremes yang ya ampun sangat minimalis. Sepotong paha yang mengkeret, bahkan curiganya paha tersebut berasal dari anak ayam yang masih belum akil baligh. Masih juga lebih mendingan nasi bancakannya tetangga yang sedang slametan atau syukuran.

Ketika secara iseng-iseng bertanya kepada rekan panitia yang ada mengenai harga satu paket lunch box yang kami santap tersebut, saya menjadi tercengang. Ternyata harganya Rp 55.000,- ribu bro! Merek sih memang sudah ternama koncar-koncar, tetapi dengan porsi yang minimalis ternyata masih ditambah dengan rasa yang tidak nggenah, hambar bin tidak miroso. Jelas sangat kalah jauh dari sekedar nasi gudegnya Mbah Jayus yang hanya dipincuk dengan daun pisang tetapi porsi maupun rasanya sangat lezat. Mungkin soal selera masing-masing orang punya ukurannya masing-masing dan tidak bisa diseragamkan, akan tetapi tentu saja ada juga beberapa titik persamaan dalam hal ukuran minimal suatu menu makanan dikatakan enak.

Ketika kembali iseng bertanya mengenai kok milih menunya malah harga yang mahal, seorang rekan menyahut, “Lha kan pagu anggaran makan siangnya memang segitu!” Oo, ada keterkaitan dengan pagu anggaran juga to? Lha jelas iya lah, namanya juga sajian di pertemuannya lembaga pemrentah!

Saya jadi ngungun dan sedikit berpikir serius. Kalau rakyat kecil makan di emperan trotoar atau kaki lima, paling cukup merogoh kocek Rp 10.000,- atau paling banter ya Rp 20.000-an saja. Apalagi kalau makan di luar Jakarta, di kota-kota kecil, atau bahkan di daerah pedesaan, masih banyak menu soto, bakso, nasi rames, nasi gudeg, dll yang masih terjangkau di kisaran harga di bawah Rp 10.000,-.  Jadinya kalau nuruti harga pagu makan siangnya pegawai pemrentah, bagi kami orang kampung bisa buat bancakan satu keluarga, bahkan hingga beberapa kerabat.

Tidak hanya ingin menyoroti soal pagu anggaran makan siangnya aparat pemrentah yang lumayan mahal tersebut, kita mungkin juga melihat sisi para penjual lunch box tadi. Dengan semakin tenar, bermerek suatu produk maka si penjual akan dengan seenaknya memberikan bandrol harga. Hal ini juga berlaku untuk produk makanan.

Mungkin semakin manusia “mengkota” akan semakin menilai sesuatu berdasarkan parameter ukuran material. Kata para ahli sih, manusia sekarang semakin materialistis dalam memandang dunia. Sifat materialistis itu kemudian lebih mengerucut kepada kekayaan dan uang. Orang akan dianggap sukses, enak, mulia hidupnya, bahagia lahir batin jika memiliki banyak uang. Akibatnya manusiapun saling berlomba-lomba untuk mendulang uang. Bahkan ada yang tidak peduli lagi dengan bagaimana cara mendapatkannya. Halal-haram, sikat terus! Hantam terus! Yang penting cepat kaya.

Untuk contoh penjual nasi kota di atas, sebenarnya berapa to nilai modal uang yang diperlukan untuk memproduksi satu paket menu nasi box? Kalaulah dibandingkan dengan kelas kaki lima yang bisa menjual satu porsi menu nasi box yang sama seumpamanya Rp 10.000,- ataulah Rp 15.000,-. Apakah kemudian salah jika dikatakan penjual yang mebelanjakan modal uang segitu kemudian menjual produk makanannya lima kali lipat disebut sebagai orang yang serakah? Meskipun dengan alasan waralaba lah! Alasan brandednya sudah tenar. Memangnya perut kita atau rasa lapar kita perlu makan branding mewah? Hal yang sama juga nampaknya terjadi dengan berbagai layanan fast food dengan sistem waralaba dari berbagai perusahaan asing.

Atau jangan-jangan para bisnisman kuliner tersebut sekedar merespon adanya pagu uang makanan aparat pemrentah yang dibuat tinggi tadi ya? Bisa juga memang demikian. Akan tetapi, lepas dari hal tersebut kita memang sulit menentukan faktor manakah yang menjadi sebab atau aksi, dan mana yang sekedar menjadi akibat atau reaksinya.

Orang Indonesia kini kebanyakan memang berpikir pragmatis dengan menetapkan uang sebagai parameter kesuksesan. Semakin uang yang dimiliki banyak, semakin ia kaya dan semakin pula ia merasa sukses dalam hidupnya. Kaya telah menjadi segala-galanya, bahkan semakin menggantikan posisi Tuhan.

Meskipun dibandingkan dengan warga dunia di negara-negara lain, masyarakat Indonesia masih sangat jauh dari pemenuhan standar hidup yang layak akan tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadi orang kaya. Maka pendapatan orang kita ordenya jutaan, bahkan ada juga yang puluhan juta, ratusan juta, ataupun hitungan M-Man. Bandingkan dengan orang luar negeri! Katakanlah orang Eropa yang menjadi manajer suatu perusahaan, mungkin kisaran gaji mereka hanya pada orde €5.000 atau €10.000. Bandingkan coba! Betapa sangat kelihatan rasa kemaruk manusia kita akan benda yang bernama uang! Dan hal inilah yang kemudian menjadi lingkaran setan terlembaganya sistem ekonomi koruptif. Anda setuju dengan hal ini?

Lor Kedhaton, 16 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s