Antara Personalitas dan Identitas


Sari Ilmu Kenduri Cinta Edisi Oktober 2015

SabrangMDPBukanlah Majlis Masyarakat Maiyyah jika tidak menghadirkan tema diskusi yang penuh sensasi, menarik, menggelitik, namun juga pastinya penuh dengan kandungan ilmu dan hikmah yang dalam. Demikian halnya tema yang menjadi bahan diskusi Majlis Masyarakat Maiyyah Kenduri Cinta edisi Oktober 2015 bertajuk Manusia Gagal Identitas. Manusia itu siapa? Gagal ataupun sukses parameter ukurnya apa? Identitas apakah sama dengan ciri khas, keunikan, personalitas, atau sekedar data diri sebagaimana tercantum di KTP kita? Kira-kira pertanyaan inilah yang langsung menggelinding di benak pada saat pertama kali membaca tema kajian tersebut.

Ketika manusia dilahirkan ke muka bumi, beberapa kenyataan turut menyertainya tanpa ada celah pilihan apapun untuk mengelakkannya. Kita lahir dari ibu kita bukan wanita yang lain. Kita menjadi anak dari orang tua kita, bukan anak dari orang tua teman kita. Kita lahir dengan kulit hitam atau putih atau sawo matang. Kita lahir dengan rambut ikal, keriting atau lurus. Kita lahir di hari Senin Pon, tidak di Kamis Kliwon, atau Ahad Legi atau pada hari-hari yang lainnya. Kita lahir di bulan November, bukan di bulan Agustus, April, atau Oktober, atau pada bulan yang lain. Kita dilahirkan di kota Magelang, bukannya di Semarang, Malang, Ujung Pandang, atau Deli Serdang, itupun kita tidak pernah bisa memesan. Semua hal tersebut kita terima sebagai ketentuan atau kehendak Sang Maha Pencipta. Semua sudah given, sudah ditetapkan sebagai takdir. Inilah personalitas yang akan senantiasa melekat dalam diri kita, semenjak lahir hingga kelak memasuki liang lahat.

Lalu siapakah manusia? Siapakah kita? Manusia memiliki beberapa posisi dan peranan. Manusia merupakan makhluk Tuhan. Manusia sekaligus juga memerankan diri untuk menjadi khalifatullah fil ardzi. Ia diberikan amanat kekuasaan untuk memberdayakan segala sumber daya yang ada di ruang semesta alam, dan sekaligus bertindak sebagai abdillah – hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya. Ia pemimpin tetapi sekaligus juga hamba. Dalam konteksi inilah manusia menjadi wadah manunggaling antara kawula lan gusti, antara rakyat dan pemimpin, antara hamba dan Tuhan.

Peranan manusia sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah tersebut secara filosofis nilai kepercayaan ajaran Islam yang kita yakini memang sudah menjadi ketetapan-Nya, sesuai yang sudah given, take for granted dan tidak bisa ditolak-tolak. Hal tersebut merupakan personalitas yang telah diputuskan oleh Tuhan. Akan tetapi dalam pengejawantahan peran tersebut, manusia memiliki peluang, potensi, dan juga pilihan-pilihan. Dalam memerankan diri sebagai khalifah sekaligus sebagai hamba, manusia tidak dibatasi hanya dengan satu, dua, atau tiga jenis profesi. Ia dapat menentukan diri sendiri dalam posisi profesi jadi petani, tukang bejak, ojek, pedagang, karyawan, buruh, jadi guru, polisi, tentara, camat, bupati, menteri, bahkan presiden sekalipun. Profesi-profesi spesialis inilah yang merupakan salah satu pencapaian identitas manusia.

Antara personalitas dan identitas seharusnya senantiasa terjalin benang merah bahwa setiap gerak, setiap langkah, setiap pemikiran, setiap perasaan, setiap perkataan dan perbuatan manusia harus dilaksanakan dalam rangka dan menuju kepada Allah SWT.

Identitas dan personalitas sangat berhubungan dengan karakter atau sifat seseorang. Bagaimanapun ajaran setiap agama senantiasa membimbing hambanya untuk memiliki karakter yang sejati. Seperti apakah karakter yang sejati tersebut? Karakter manusia yang sejati adalah karakter yang diajarkan oleh Tuhan melalui kitab-kitabnya dan yang diteladankan oleh para Nabi serta Rasul utusan-Nya. Karakter sejati inipun bersumber dari pancaran sifat-sifat Allah sendiri. Bukankah dalam setiap penciptaan makhluknya, Tuhan senantiasa meniupkan sifat-sifat keilahiahan-Nya, sebagaimana perjanjian abadi pada saat ruh kita mengambil kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, alastu bi rabbikum.

Dengan pondasi pemikiran sebagaimana uraian di atas, manusia dihadirkan di dunia adalah dalam proses untuk menggapai kesejatian yang sejati. Dengan kata lain, manusia tercipta secara kodrati untuk menuju, mendekat, dan “menyatu” dengan Tuhan. Manunggal antara kawula lan gusti, inilah titik pangkal sekaligus menjadi titik ujung perjalanan hidup manusia.

Setelah kita memahami hakikat manusia dengan tujuan penciptaannya, personalitas dan identitas harus didayagunakan dalam rangka menuju kesejatian yang sejati, dalam perjalanan pengabdian kepada Tuhan Yang Sejati. Dengan demikian, parameter apakah manusia gagal atau sukses melakukan peranan tersebut adalah parameter nilai yang telah ditetapkan oleh Tuhan itu sendiri, suatu kebenaran yang sejatinya benar-benar memang benar.

Dari uraian di atas sangat mungkin kemudian timbul pertanyaan empiris, darimana kita tahu bahwa perbuatan kita sudah benar menurut kebenaran sejati yang diakui oleh Tuhan? Secara teori humaniora kita telah diperkenalkan dengan tiga macam kebenaran, ada benarnya sendiri, kebenaran orang banyak, dan kebenaran yang sejati.

Untuk mengukur atau menilai sebuah kebenaran tentu saja tidak semudah memahami teori kebenaran itu sendiri. Akan tetapi nampaknya tidak terlalui penting untuk mengklaim diri ataupun mendapatkan pengakuan sebuah kebenaran dari setiap hal yang kita lakukan, dibandingkan mengamati indikasi-indikasi dampak dari setiap perkataan dan perbuatan kita. Apabila hal yang kita lakukan dapat membawa manfaat yang sebaik-baiknya kepada orang lain, kepada lingkungan sekitar kita, kepada masyarakat, kepada bangsa dan negera, terlebih kepada nilai kemanusiaan itu sendiri, nampaknya kita harus sangat mensyukurinya sambil berharap hal tersebut telah segaris atau paralel dengan keinginan Tuhan. Pada posisi inilah kenapa Tuhan mengajarkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada kehidupan, khoirunnas anfauhum linnas.

Uraian di atas merupakan ungkapan penulis secara pribadi setelah turut menyimak dan mendengarkan diskusi Kenduri Cinta kali ini, baik yang dijabarkan oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh maupun oleh Cak Nun sendiri. Sangat dimungkinkan masing-masing jamaah memiliki persepsi dan sudut pandang yang tidak sama. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena perbedaan latar belakang pengetahuan, sudut pandang yang diambil, jarak pandang yang dilakukan, resolusi pandang yang terjadi dan masih banyak faktor lainnya. Setidaknya dengan niat serta itikad yang baik, sebagai manusia kita dapat berharap bahwa benih-benih kebenaran sejati akan terus tersemai dan kelak dapat tumbuh untuk memberikan buah kemanfaatan kepada kehidupan yang lebih baik, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam wadah Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Ngisor Blimbing, 10 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s