Kereta Api Jalur Sumatera


Kereta Babaranjang

Pagi itu memang masih sedikit remang. Setiba rombongan kami di wilayah Kota Bumi, Lampung Utara, kami beristirahat sejenak di sebuah penginapan untuk sekedar transit. Sebuah panggilan telepon sempat membuat saya terbangun dari lelapnya tidur pagi sehabis waktu Shubuh. Rupanya si Ponang di ujung saluran tengah penasaran dengan keberadaan bapaknya di tanah seberang.

Bapak sekarang sudah sampai mana?” demikian si Ponang langsung mengawali interogasi selepas membuka percakapan dengan salam.

Sayapun langsung menjawab pertanyaan tersebut, “Sudah sampai di Kota Bumi.

Semenjak sehari sebelumnya telah mengetahui bapaknya akan turut rombongan kondangan ke Lampung, rupanya si Ponang semalam-malaman sudah menggenggam berbagai pertanyaan. Iapun telah membuka-buka buku atlas kecil kesayangannya. Dan di pagi hari saat ia menelpon itupun, ia sudah siap dengan buku atlas di sampingnya. Tentu saja ia meminta saya memberikan ancer-ancer keberadaan kami pagi itu untuk dapat ditemukannya di lembar peta.

Saya pun memberikan sedikit gambaran, “Bapak sekarang di Provinsi Lampung. Coba cari di urutan peta-peta provinsi di pulau Sumatera yang bagian paling selatan.

Sejenak kemudian terdengar suara krusak-krusek dari seberang telepon. Dengan menerima beberapa petunjuk khusus, si Ponang rupanya langsung sikap membolak-balik beberapa halaman lembaran peta di buku atlasnya. Dengan penuh kegembiraan ia kemudian menjawab, “Pak sudah ketemu. Yang di ujung pulau Sumatera to? Di bawahnya ada Samudera Indonesia.”

Sayapun sempat terkesima dengan aksi si Ponang. Anak yang baru dalam tataran kelas dua sekolah dasar sudah sedemikian cak-cek membaca peta. Jiwa petualangannya mungkin sudah semakin terasah semakin baik. Sejurus kemudian ia melanjutkan bertanya, “Bapak sudah ketemu dengan rel kereta api?”

Wuaduh, sepengetahuan saya dan rombongan yang dini hari mendarat di pelabuhan Bakauheni dan melanjutkan perjalanan darat menuju Lampung Utara dengan menyusur jalur lintas Sumatera sama sekali tidak melihat atau melintasi jalur kereta api. Mungkin juga kami tidak mengetahui dikarenakan perjalanan malam dengan jalur kanan-kiri jalan yang remang dan juga disebabkan hampir sepanjang perjalanan kebanyakan diantara rombongan kami terlelap dalam tidur. Atas pertanyaan mengenai jalur kereta api itupun, dengan sedikit keraguan saya menjawab bahwa kami hingga pagi tersebut belum melihat atau menemukan adanya lintasan atau jalur kereta api.

Mendengar jawaban saya yang mungkin tidak memuaskannya, si Ponang menyampaikan protes, “Masak nggak ada jalur keretanya Pak? Nih, di peta saja ada. Kota Bumi dilewati juga relnya Pak!”

Terus terang pengetahuan geografi mengenai wilayah ujung selatan pulau Sumatera, khususnya Lampung dan Sumatera Selatan, yang saya miliki sungguh sangat terbatas. Perjalanan rombongan kami inipun baru merupakan pengalaman perjalanan saya menyebarang selat Sunda hingga wilayah Lampung Utara. Dalam bayangan saya, wilayah Kota Bumi di Lampung Utara ini berada di jalur lintas barat Sumatera yang akan terus menembus wilayah Bengkulu. Saya hanya sekedar berpikir bahwa jalur kereta api yang melintasi Lampung memang ada, akan tetapi hanya menghubungkan Bandar Lampung di Lampung dan kota Palembang di Sumatera Selatan. Nah, antara kedua kota tersebut persepsi saya dihubungkan oleh jalur lintas utama Sumatera di sisi timur.

Akhirnya si Ponang menyampaikan request-nya, “Pokoknya nanti kalau Bapak menemukan jalur kereta apinya difoto lho ya!”

Menjelang matahari naik sepenggalah, rombongan kami segera menuju lokasi resepsi pernikahan rekan kerja kami. Tempat yang kami tuju tepatnya berad di Desa Semuli Jaya. Dari terminal di tepi lintasan jalur Sumatera, perjalanan kami lanjutnya ke arah kanan dengan menyusuri jalanan beraspal yang lebih sempit dan banyak lubang-lubang yang menganga. Di tengah teriknya panas musim kemarau yang menantang, jalanan yang rusak itu menimbulkan debu beterbangan seiring laju mobil yang pelan nan hati-hati.

Kira-kira belum genap satu kilometer kami menyusuri jalanan tersebut, ternyata sedari kejauhan nampak rambu peringatan perlintasan rel kereta api. Sensor di otak saya yang sedari gugatan pertanyaan si Ponang sudah memasang radar rasa penasaranpun langsung menangkap fakta tersebut. Ternyata ungkapan si Ponang yang telah membaca peta mengenai wilayah sekitar Kota Bumi benar adanya. Rupanya benar-benar ada jalur kereta api yang dimaksudkan.

Tepat di atas perlintasan rel kereta api yang tanpa dilengkapi dengan palang pintu pengaman yang memadai, saya sempat mengambil beberapa gambar. Jalur tunggal tersebut memang nampak masih digunakan atau merupakan jalur rel kereta api yang masih aktif. Dari perlintasan yang sangat sederhana, dengan rambu peringatan yang terkesan ala kadarnya, dan juga tanpa dilengkapi palang pintu tadi seolah mengukuhkan bahwa kereta api yang melintasi jalur tersebut tidak terlalu banyak.

Sebatas pengetahuan kami, kereta api yang melintasi jalur kereta Tangjung Karang atau yang dikenal juga sebagai Bandar Lampung menuju Palembang yang paling tenar adalah kereta barang yang tenar dengan sebutan kereta “Babaranjang”. Babaranjang sendiri merupakan kependekan dari kereta batu bara rangkaian panjang. Kereta tersebut merupakan rangkaian gerbong khusus untuk mengangkut batu bara. Kereta tersebut konon merupakan perwujudan kerja sama antara PT KAI dan PT Tambang Bukit Asam. Dengan jumlah gerbong antara 40 hingga 70-an, kereta Babaranjang merupakan jenis kereta api terpanjang di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Benar nggak ya?

Selain kereta babaranjang, kereta penumpang yang pernah saya dengar sangat terbatas informasinya. Salah satu yang bisa saya sebutkan adalah kereta Rajabasa Ekspress. Kereta penumpang dengan layanan kelas bisnis tersebut menempuh sekali perjalanan jalur Palembang – Bandar Lampung selama selang waktu 8 jam.

Dalam perjalan balik kami dari arah Kota Bumi menuju Bakauheni selepas tengah hari, barulah pada beberapa titik kami melihat jalur rel kereta api yang sejajar atau paralel dengan jalur jalan raya. Di beberapa titik bahkan jalur rel tersebut berpotongan dengan arah lintasan jalan raya. Khusus perlintasan jalur rel kereta api dan jalan raya lintas utama Sumatera, sama sekali tidak kami temukan perlintasan secara langsung. Dua perlintasan yang ada sudah difasilitasi dengan jembatan fly over yang membentang di atas jalur rel kereta api yang ada.

Menikmati perjalanan kereta api dari Palembang menuju Tanjung Karang bisa jadi merupakan sebuah sensasi tersendiri yang syarat dengan pengalaman perjalanan yang menantang. Bagaimanapun wilayah Sumatera masih merupakan rimba belantara yang sungguh maha luas dibandingkan dengan keberadan pemukiman maupun kepadatan penduduk yang mendiaminya. Di samping melintasi kota, desa ataupun pemukiman, bisa jadi sebagian waktu perjalanan akan diisi dengan pemandangan hutan belantara yang masih menyimpan seribu satu misteri bagi siapapun yang baru pertama kali melintasinya. Akh, semoga suatu saat hal tersebut dapat benar-benar kami jalani. Anda juga tertarik?

Ngisor Blimbing, 10 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s