Ketempelan Jin Al Mubarok


Konon diantara makhluk Tuhan yang memiliki potensi untuk taat atau kufur atas perintah-Nya adalah bangsa jin dan manusia. Sebagaimana manusia, bangsa jin juga mengenal jin yang baik dan jin yang jahat. Jin yang baik tentu saja senantiasa taat dan patuh atas segala aturan Tuhan dan senantiasa menjauhi larangan-Nya. Andaikan kita sepakat bahwa salah satu tanda manusia muslim yang baik adalah manusia yang senantiasa turut memakmurkan masjid atau mushola, apakah demikian halnya dengan bangsa jin?

Dari dongengan para simbah di masa lalu, banyak cerita mengenai keberadaan jin penunggu masjid atau mushola tertentu. Konon di mushola dusun kami dulu juga memiliki jin penunggu. Jin baik tersebut senantiasa membangunkan orang yang tidur di mushola untuk mengumandangkan adzan Subuh di pagi hari. Pernah beberapa remaja yang gegojegan alias bersenda gurau di dalam mushola dan tidur di dalamnya, tiba-tiba ketika ia terbangun ia sudah dipindahkan di teras luar mushola dekat tatah rambat atau tangga teras yang dingin. Beberapa kejadian-kejadian aneh tersebut oleh warga kampung kami dipercayai sebagai ulah para jin penunggu mushola.

Namanya jin penunggu mushola, masyarakat percaya bahwa jin tersebut adalah jin yang baik. Artinya ia banyak berbuat kebaikan dan tidak akan pernah menganggu orang yang tidak berbuat hal tercela di dalam lingkungan masjid. Masih konon pula, beberapa orang tertentu pernah “diweruhi” atau dilihati wujud para jin tersebut. Namun sebagaimana watak manusia yang baik, jin yang baikpun nampak ramah apabila saling memandang dengan manusia baik. Terlebih hal tersebut berlangsung di dalam lingkungan masjid yang merupakan bangunan rumah Tuhan nan suci.

Berkenaan dengan jin penunggu sebuah masjid, keluarga kami sedikit punya pengalaman yang aneh. Adalah si Genduk, bocah ragil kami yang belum genap berusia dua tahun, sering kami ajak untuk sholat Maghrib berjamaah di mushola maupun masjid terdekat rumah kami. Pada suatu kesempatan, si Genduk dan si Ponang sengaja saya ajak sholat Maghrib di Masjid Al Mubarok. Masjid di kampung sebelah ini merupakan masjid terbesar di lingkungan kampung kami. Bangunan masjid yang terdiri atas dua lantai tersebut tidak senantiasa penuh oleh jamaah, termasuk waktu sholat Maghrib. Jamaah yang turut berjamaah Maghrib biasanya tidak lebih dari tiga atau empat shof saja.

Mubarok1

Dikarenakan hal tersebut, demi menghemat biaya rekening listrik, maka tidak semua lampu penerang yang ada dihidupkan. Selain memang kebutuhan penerangan hanya pada shof bagian depan ruang utama, maka hanya lampu-lampu pada bagian tersebutlah yang dinyalakan. Itupun biasanya tidak lebih dari selang waktu antara Maghrib dan Isya’ saja. Di luar waktu itu hingga Subuh tentu saja kondisi masjid di malam hari dilewati dengan keremangan, bahkan kegelapan sama sekali.

Suatu ketika selesai sholat Maghrib, selepas para jamaah mengucapkan salam sebagai akhir rangkaian sholat dan masih dalam suasana sedikit temaram oleh sorotan lampu redup, tiba-tiba si Genduk menangis histeris. Ia segera ingin mengajak pulang. Dengan bergegas saya dibantu si Ponang segera membenahi mukena kecil yang dipakai si Genduk. Setelah mukena terlipat rapi, kamipun bergegas keluar ruang sholat menuju halaman depan masjid dimana sepeda kami terparkir. Saat si Genduk sudah duduk di sadel sepeda, ia menunjuk arah menara masjid sambil tersedu menangis dan berteriak ketakutan seolah melihat perwujudan atau penampakan yang membuatnya takut.

Dalam perjalanan naik sepeda untuk pulang ke rumah, di beberapa titik belokan jalan yang diterangi dengan temaram lampu pinggir jalanan yang redup, si Genduk juga menunjuk-nunjuk cahaya lampu sambil menyatakan ketakutannya. Hingga sampai di rumah dan waktu beranjak semakin malam, si Genduk sulit untuk tidur. Hal ini tentu saja tidak sebagaimana biasanya. Ada sesuatu yang ganjil dan aneh. Hingga malam larut, si Genduk hanya tidur “layu-layu” ayam alias tidak jenak dan nyenyak.

Mubarok4

Mubarok8         Mubarok6

Ketiha hari berganti pagi, si Genduk masih nampak traumatik. Sebentar-sebentar ia rewel dan nangis tanpa jelas sebab-musababnya. Di tengah isak tangisnya ia senantiasa merasa ketakutan dan menunjuk ke suatu arah tertentu. Akhirnya atas saran beberapa tetangga terdekat kami, si Genduk kami bawa ke rumah Mpok Roni. Mpok Roni merupakan seorang “dukun” bayi yang biasa memijat anak bayi yang rewel atau panas, atau juga yang kelelahan. Namun di samping memijat dan mengurut seorang bayi secara fisik, konon dukun tersebut juga bisa menerawang dunia lain.

Dengan cekatan Mpok Roni langsung tanggap akan keadaan si Genduk. Menurut dia ada sosok makhluk halus yang menampakkan diri kepada si Genduk. Mungkin karena melihat sosok aneh dari manusia kebanyakan, si Genduk merasa takut hingga ketakutan tersebut senantiasa memunculkan bayang-bayang sosok makhluk halus yang menjadikan ketakutan berkelanjutan. Ketika kami cerita awal mula keanehan yang menimpa si Genduk, Mpok Roni langsung menyimpulkan bahwa si Genduk “diganggu” oleh jin dari Masjid Al Mubarok. Weit…..lha kok ada jin masjid kok nganggu anak kecil ya?

Sekedar dengan “jampi-jampi” air putih yang dibacakan Surat Al Fatihah, Mpok Roni sigap memegang dan menekan jari jempol kaki si Genduk. Spontan raut wajah si Genduk merah menyala. Dengan teriakan meronta tiba-tiba saja si Genduk seolah menjadi kehabisan tenaga dan langsung lunglai. Seluruh sendi dan tulang si Genduk seolah dilolosi satu per satu sehingga ia menjadi diam “nglentruk“. Menurut Mpok Roni pengaruh jin telah pergi. Antara percaya dan tidak percaya, saya masih sulit untuk mempercayai kejadian yang dialami si Genduk tersebut.

Mubarok7

Tidak hanya terjadi cukup sekali. Kejadian serupa terulang kembali pada saat si Genduk saya ajak kembali sholat Maghrib di Masjid Al Mubarok beberapa minggu berselang. Bahkan sebelum iqomad sempat dikumandangkan dan sholat jamaah ditegakkan, si Genduk sudah menangis keras dan segera minta pulang. Dengan berbagai cara dan upaya saya mencoba menghibur si Genduk. Tetapi apa daya, segala usaha gagal kami lakukan untuk tidak membuat ia menangis dan ketakutan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk mengurungkan ikut sholat di masjid tersebut.

Sepanjang malam, si Genduk juga menjadi gelisah dan sulit tidur. Dini hari ia sempat terbangun dan meminta bermain-main, bahkan nyanyi-nyanyi beberapa lagu bocah. Menjelang waktu Shubuh barulah ia tertidur kembali. Namun tatkala terbangun setelah matahari agak tinggi, ia langsung menangis, menjerit, dan berteriak ketakutan. Seolah ada bayang-bayang mengerikan yang menampakkan diri di hadapannya. Apakah ia kembali diganggu oleh jin Al Mubarok? Ketika kembali dibawa ke Mpok Roni, dengan cara yang sama dengan kejadian pertama si Genduk berhasil ditenangkan.

Benarkah itu semua berkaitan dengan jin penunggu Masjid Al Mubarok? Apakah memang benar-benar ada jin penunggu masjid tersebut? Kalaulah ia jin penunggu masjid, apakah ia memang jin baik? Apabila ia jin baik, kenapa si Genduk menjadi gelisah dan ketakutan? Benarkah jin baik tersebut ingin bersahabat dengan si Genduk? Ah, wallahu alam! Semuanya kami kembalikan keharibaan kekuasaan Gusti Allah Yang Maha Esa.

Lor Kedhaton, 6 Oktober 2015

Gambar jin dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ketempelan Jin Al Mubarok

  1. sahda ayu anindya berkata:

    Aku terpikat sm crt di ats

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s