Merak – Bakauheni Pulang – Pergi


Indonesia adalah negeri maritim. Sebagian besar wilayah tanah air merupakan lautan yang diterbari dengan ribuan pulau yang membentuk sebuah kepulauan sangat besar. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan gugusan kepulauan, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Tidaklah mengherankan jika nenek moyang bangsa Indonesia merupakan bangsa nelayan yang piawai menjelajah dan mengarungi ganasnya gelombang samudera.

Jika nenek moyang kita adalah bangsa pelaut, pernahkah kita mengarungi lautan Indonesia? Sebagian diantara kita mungkin pernah naik kapal antar pulau untuk suatu keperluan. Namun seiring dengan kemajuan pesat di bidang jasa transportasi udara, mungkin banyak diantara dari kita yang sama sekali belum pernah menaiki kapal laut dan menyebarang dari satu pulau ke pulau lain dalam durasi perjalanan yang cukup panjang.

Jujur sayapun mengakui, sangat jarang mendapatkan kesempatan naik kapal laut. Sedikit pengalaman yang pernah saya alami, hanya sekedar menyeberang dari pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk dengan melewati selat Bali. Hal tersebut pernah saya lakoni pada saat mengikuti kegiatan study tour kala duduk di bangku SMP dan SMA. Di luar itu, sebagai pewaris darah nenek moyang yang katanya pelaut, pengalaman jelajah lautan saya bisa dibilang nol. Barangkali hal demikian merupakan penggambaran secara umum dari anak bangsa di negeri kepulauan terbesar di duni ini.

Meskipun sudah beberapa lama menjadi penduduk di wilayah provinsi ujung barat pulau Jawa yang berhubungan langsung dengan jalur penyeberangan Merak – Bakauheni, saya justru baru sekali memiliki pengalaman menyeberang ke Sumatera melintasi selat Sunda. Perjalan pulang-pergi melalui jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia ini saya lakukan bersama dengan beberapa rekan kerja dalam rangka kondangan resepsi pernikahan di sekitar Kota Bumi, Kabupaten Lampung Utara.

Sekitar jam 10.00 malam, rombongan kami memasuki kawasan pelabuhan Merak setelah menempuh perjalanan dari Jakarta melalui Tol Jakarta – Merak sepanjang 100 km. Begitu tiba di gerbang depan pelabuhan, mobil yang membawa rombongan kami langsung membayar tiket penyebarang di loket yang mirip dengan loket pintu tol jalan raya. Kendaraan mini bus atau van termasuk ke dalam kendaraan Golongan IVA yang dikenakan tarif Rp 347.000,-. Tarif tersebut sudah termasuk semua penumpang yang ada di dalamnya.

Setelah membayar tiket masuk, kendaraan langsung diarahkan ke dermaga tempat kapal yang akan segera berangkat. Beruntung pada saat kami akan menyeberang, tidak ada antrian berarti hingga hanya dalam hitungan 15 menit, rombongan kami sudah naik di atas sebuah kapal feri yang akan membawa ke pelabuhan Bakauheni. Malam tersebut kebetulan memang Jum’at malam Sabtu. Pada waktu-waktu demikian, volume penumpang maupun kendaraan yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni memang mengalami peningkatan dibandingkan hari-hari biasa. Kesempatan liburan akhir pekan Sabtu-Minggu sering dipergunakan oleh para pekerja dari Lampung dan sekitarnya untuk mudik mingguan selepas sepekan penuh bekerja di Jakarta ataupun sekitar Provinsi Banten.

Dalam perjalanan menuju Bakaheuni tersebut, kebetulan kapal feri yang kami tumpangi nampaknya merupakan sebuah kapal yang telah cukup berumur dan tidak bisa dibilang baru. Kapal dengan bobot mati sekitar 4000 GT tersebut terdiri atas 4 dek. Dek dasar yang berada di lambung kapal dipergunakan untuk menampung kendaraan berbadan besar, seperti bus dan truk, termasuk truk tronton. Adapun dek ke dua difungsikan untuk menampung kendaraan-kendaraan berbadan kecil dan sedang, seperti sedan, van, ataupun mini bus. Sedangkan dek yang lebih atas, terdiri atas dek yang dipergunakan untuk penumpang manusia.

Suasana kapal malam itu cukup ramai. Dek paling atas terdiri ruangan luas dengan jendela-jendela lebar di samping kanan-kirinya. Di bagian tengah tertata deretan kursi plastik yang dipergunakan para penumpang untuk duduk. Adapun di sisi tengah terdapat semacam mini bar yang menyediakan minuman ataupun makanan yang dapat dipesan oleh para penumpang sepanjang perjalanan. Di mini bar ini dapat dipesan aneka minuman, seperti teh hangat, kopi, air mineral, bahkan jus buah. Ada pula aneka camilan, mulai kwaci, kacang goreng, wafer, roti dan lainnya. Untuk pilihan menu makan yang paling banyak diminati penumpang adalah pop mie, mie rebus, mie goreng, nasi goreng ataupun nasi rames.

Adapun di dek samping kanan maupun kiri dari ruang penumpang yang terdiri atas beberapa tingkat seperti teras atau balkon banyak dimanfaatkan oleh para penumpang rombongan untuk duduk berlesehan di atas gelaran tikar. Sambil bersenda-gurau dengan sanak keluarga atau penumpang yang lain, suasana di balkon ini nampak sangat cair dan penuh keakraban diantara sesama penumpang. Ada juga diantaranya yang sengaja membawa bekal dan makan-minum bareng sambil duduk bergerombol atau melingkar.

Sedangkan di dek balkon sisi belakang banyak dipergunakan oleh para penumpang untuk sekedar merebahkan diri atau benar-benar tidur lelap untuk beristirahat. Di samping para penumpang biasa, tikar-tikar yang digelar tentu banyak dimanfaatkan oleh para pengemudi kendaraan pribari, bus, truk, ataupun kendaraan barang untuk memulihkan tenaga sebelum menyambung perjalanan tatkala kapal sudah mendarat nantinya.

Satu hal unik yang sempat menarik perhatian. Keberadaan tikar-tikar yang digelar di dek sisi balkon tersebut rupanya tidak ada dengan dengan sendirinya alias gratis. Untuk mempergunakan tikar tersebut, setiap penumpang akan ditarik dengan ongkos Rp 5.000,-. Tidak mengherankan di tengah seseorang terlelap tidur pulas, datang penagih sewa yang akan langsung membangunkan orang yang menggunakan tikar sewaan. Bagi yang belum terbiasa dengan pemandangan serupa, mungkin akan sedikit merasa heran dengan sistem sewa tikar tersebut. Tetapi inilah salah satu nuansa keunikan sebuah kapal feri yang dapat kita jumpai.

Selain disebut sebagai kapal feri, kapal yang beroperasi lintas selat Sunda juga dikenal sebagai kapal ro-ro. Sebutan ro-ro merupakan kependekan dari roll on roll off. Istilah ini dimaksudkan penggunaan lambung kapal untuk mengangkut kendaraan darat, seperti motor, mobil penumpang, bus, truk, dan jenis kendaraan lainnya. Pada saat menaikkan atau menurunkan kendaraan tersebut, di ujung lambung kapal terdapat gerbang dan jembatan yang dapat dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. Bongkar-pasang gerbang ini dilakukan dengan mesin penggerak yang dihubungkan dengan tali-temali yang diulur-ditarik. Dari mesin tarik-ulur inilah istilah roll on roll off alias ro-ro digunakan.

Sekedar sebagai tambahan informasi, pada pertengahan tahun 2015 ini pemerintah telah menambah tiga buah kapal ro-ro berukuran kurang lebih 5000 GT, meliputi KMP Batu Mandi, KMP Sebuku, dan KMP Legundi. Penambahan ketiga kapal baru tersebut juga diikuti dengan pembangunan dan pengambangan dermaga VI. Kedua hal tersebut dilakukan pemerintah sebagai bagian kebijakan pembangunan tol laut untuk meningkatkan mobilitas penyeberangan laut kita.

Ingin tahu atau penasaran dengan tarif penyeberangan, baik untuk perorangan maupun kendaraan dari pelabuhan Merak ke Bakauheni atau sebaliknya? Berikut daftar tarif yang berlaku untuk saat ini.

Penumpang Pejalan Kaki
Dewasa Rp 15.000
Anak-Anak Rp 9.000
Kendaraan
Gol I – Sepeda Rp 24.500
Gol II – Sepeda Motor < 500 cc Rp 49.000
Gol III – Sepeda Motor > 500 cc Rp 107.000
Gol IV A – Mobil Sedan Rp 347.000
Gol IV B – Mobil Barang Rp 313.000
Gol V A – Bus Sedang Rp 765.000
Gol V B – Truck Sedang Rp 646.000
Gol VI A – Bus Besar Rp 1.291.000
Gol VI B- Truck Besar Rp 946.000
Gol VII – Truck Trailer Panjang < 12 M Rp 1.437.000
Gol VIII – Truck Trailer Panjang > 12 M Rp 2.159.000
Gol IX – Trailer Panjang > 16 m Rp 3.532.000

Jika belum pernah menikmati sensasi dan keunikan kapal feri penyebarangan laut, sekali-kali datanglah ke Merak dan menyeberanglah ke Bakauheni. Hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, kita dapat menginjakkan kaki di pulau seberang. Kenalilah negeri sendiri dari aktivitas kemaritimannya. Merak – Bakauheni setidaknya akan memberikan sedikit gambaran kehidupan maritim bangsa Indonesia.

Lor Kedhaton, 5 Oktober 2015

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s