Eksotika Tata Kota Singapura


EMPAT HARI TIGA MALAM DI SINGAPURA (18)

Singapura merupakan sebuah negara kota. Sebagian besar wilayahnya, terutama yang berada di pulau utama Singapura, merupakan wilayah perkotaan. Dengan populasi jumlah penduduk yang sangat banyak dibandingkan luas wilayahnya, tidak mengherankan jika Singapura menjadi negara dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi ke dua tingkat dunia setelah Monaco. Apakah dengan demikian, tata kota Singapura juga semrawut seperti Jakarta? Bukankah Jakarta juga merupakan kota berpenduduk sangat padat?

Tata Kota Singapura1

Sebelum benar-benar mengunjungi negeri tetangga di selat Malaka ini, kami hanya sekedar mendengar dan sesekali melihat tayangan di tivi mengenai keadaan kota Singapura. Sebatas pengetahuan kami tersebut, kami pikir bahwa Singapura merupakan negeri yang teratur. Kondisi jalanan rapi, lebar, dengan ketertitaban berlalu-lintas warganya yang sangat luar biasa. Sarana transportasi masyarakat, seperti bus dan kereta api, konon sudah tertata dengan baik sehingga setiap warga dapat menikmati kenyamanan perjalanan pulang-pergi kerja dengan sangat nyaman. Benarkah demikian kenyataannya?

Di saat pertama kami memasuki jantung kota Singapura dengan kereta api MRT dari Changi Airport, mata kami benar-benar mulai dapat menyaksikan bentang kota Singapura secara nyata. Dari jendela kereta mulai terlihat bagaimana di kanan-kiri lintasan kereta yang kami naiki banyak bertebaran rumah-rumah susun ataupun apartemen dengan bentuk kotak  dengan jendelanya. Angan-angan nakal saya bahkan langsung berasosiasi tengah melihat pagupon alias kandang merpati berukuran raksasa di berbagai sudut kota. Mungkin inilah strategi pemerintah Singapura dalam menata pemukiman bagi penduduknya yang sangat banyak dengan serba keterbatasan lahan. Sebuah konsep kota vertikal.

Bagaimana dengan keadaaan jalan rayanya? Sepanjang yang kami saksikan selama beberapa hari di sana, jalanan yang lebar gilar-gilar dengan lalu lalang kendaraan teratur tanpa kemacetan. Keteraturan tersebut mungkin sangat berhubungan dengan jumlah kendaraan yang sengaja dibatasi oleh pemerintah. Konon untuk memiliki kendaraan pribadi diperlukan pengurusan administrasi yang tidak murah, dan setelahnya pajak kendaraan tahunan yang harus dibayarkan juga tinggi. Di samping itu, retribusi parkir yang dikenakan untuk kendaraan pribadi di tempat-tempat umum juga bertarif mahal. Dengan kebijakan tersebut, warga Singapura menjadi benar-benar berpikir mendalam untuk memiliki kendaraan pribadi. Dengan demikian sebagian besar diantaranya lebih memilih menjadi pengguna sarana transportasi umum yang sudah disediakan pemerintah, baik bus maupun kereta api.

Berkaitan dengan kondisi jalanan di Singapura, ada satu catatan yang sangat membedakan dengan keadaan jalanan di tanah air secara umum. Di kota-kota di negara kita, termasuk juga Jakarta, sisi kanan kiri jalanan biasa dihiasi dengan pating klewernya kabel-kabel. Ada kabel listrik dari PLN, ada kabel telpon dari perusahaan telekomunikasi, bahkan kadang ada pula pipa-pipa gas atau air yang turut menambah keruwetan pemandangan. Nah keruwetan-keruwetan instalasi di tepian jalanan itu sama sekali tidak kami ketemukan di berbagai sudut kota Singapura.

Secara konsep tata ruang dan tata kota, Singapura termasuk kota dengan penerapan tata ruang serta tata wilayah yang maju. Kabel listrik, telepon, ataupun saluran pipa yang memang tidak bisa dilepaskan sebagai prasarana penunjang kebutuhan masyarakat kota sudah tertata sedemikian baik dan terintegrasi dengan sarana transportasi bawah tanah atau subway. Jalur terowongan bawah tanah, di samping utamanya digunakan untuk lintasan kereta bawah tanah juga sekaligus telah diintegrasikan sebagai jalur transmisi dan distribusi listrik, jaringan telepon, air bersih,  gas, minyak dan lain sebagainya.

Demikian halnya dengan penataan jalur transportasi. Jalur kereta api di tengah kota Singapura merupakan jalur kereta api bawah tanah. Hal ini sengaja dirancang untuk menghindari adanya titik persilangan antara jalur rel dengan jalan raya. Tingginya frekuensi layanan kereta api yang setiap jalurnya hampir selalu ada dalam selang 5-10 menit akan menjadi sebab kemacetan lalu lintas jika terdapat persilangan. Adapun jalur rel kereta api di luar jantung kota hingga ke keluar kota dibangun sebagai flay over alias jalur melayang. Sekali lagi, titik silang antar kedua moda  angkutan darat tersebut sengaja dihindarkan sebagai simpul penyebab kemacetan jalan raya.

Dengan penerapan sarana dan prasarana transportasi yang terpadu, terintegrasi, yang ditunjang dengan konsep tata kota tata ruang yang bagus, di samping menghindari masalah kemacetan jalanan sebuah kota  sekaligus merupakan langkah untuk menampilkan wajah kota yang teratur dan tertata. Kawasan jantung kota terhindar dari kesemrawutan lalu lintas, tetapi juga kabel-kabel yang bergelantungan tidak teratur. Alhasil, setiap pengunjung yang datang ke Singapura akan benar-benar merasakan sebuah kenyamanan dari suatu kawasan perkotaan yang tertata dengan sangat baik. Hal ini tentu saja akan memberikan kesan baik terhadap kota Singapura dan tersiar sebagai iklan yang secara tidak langsung akan turut menghimbau warga dunia untuk penasaran berkunjung ke negeri singa ini. Dari pariwisata inilah Singapura menambang devisa yang paling besar. Sungguh sebuah strategi kebijakan pembangunan yang menimbulkan berbagai efek berantai yang menguntungkan. Tidakkah kita juga bisa seperti mereka?

Lor Kedhaton, 2 Oktober 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Eksotika Tata Kota Singapura

  1. Fauzi Amiruddin berkata:

    Singapura sekarang gimana? Masih berkabut ya?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s