Geylang, Keremangan Red District Singapura


EMPAT HARI TIGA MALAM DI SINGAPURA (17)

Dari sebuah ketidaktahuan dan ketidaksengajaan mengenai Geylang Singapura, kami menjadi benar-benar gelang-geleng kepala sendiri. Dari sebuah keterdesakan waktu sehingga banyak informasi yang belum tergali secara memadai, kok ndilalah langsung klik reservasi tempat menginap di kawasan Geylang. Belakangan baru kami ketahui bahwa kawasan tersebut merupakan red district-nya Singapura. Apa lagi hayo yang terpikirkan dengan istilah red district? Sebuah keremangan kehidupan malam hari yang penuh misteri?

Geylang3

Lanjut gan! Akhirnya kami sekeluarga benar-benar menginap di Hotel 101 yang terletak di kawasan Geylang Lorong 12. Dari googling yang sempat kali lakukan kemudian, ternyata lorong tersebut merupakan salah satu pusat kehidupan malam di sisi utara jantung kota Singapura. Begitu hari sedikit senja untuk kemudian remang ditelan lampu merkuri, mulailah nampak para penghuni dunia malam keluar dari peraduannya. Hal ini kami lihat langsung pada saat sekitar lepas waktu Maghrib kami turun dari bus di halte ujung Lorong 14 saat kepulangan dari Merlion Park di senja pertama setelah kedatangan kami.

Sambil berjalan menggendong si kecil, saya mencoba untuk tatag dan tidak tergoda dengan pemandangan yang ada. Di sisi kanan-kiri lorong, di ujung gang-gang masuk kampung, berjajar para “gadis” di bawah keremangan bayang-bayang pohon dan gedung-gedung tua yang ada. Nasi telah menjadi bubur. Ibarat orang yang menyeberang sungai, posisi kami sudah di tengah arus deras, mundur basah majupun basah. Akhirnya kami terima keadaan tersebut sebagai sebuah metodologi bagi Tuhan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi pembelajaran hikmah yang lebih agung.

Dengan sikap demikian, akhirnya kami percaya diri dan cuek-cuek bebek wae melintasi keremangan yang penuh dengan lirikan mata genit, putih asap rokok yang mengepul, ataupun bisikan tawar-menawar transaksi kenikmatan badaniah. Bagaikan anjing menggong, kamilah kafilah yang tengah berlalu. Dan mungkin karena anak-anak masih demikian kecil dan lugu, tidak ada satupun pertanyaan aneh yang meluncur dari mulut mungil mereka. Akhirnya semuanya berlalu dengan begitu saja pada setiap kesempatan kami melintasi kerumunan para gadis malam.

Geylang2

Hanya pada suatu malam, ketika kami kembali dari menunaikan sholat Maghrib di masjid yang berseberangan jalan dengan tempat menginap kami, ada sebuah percakapan yang menggelitik. Di keremangan bayang pepohonan di tepian pagar lapangan sepak bola, terlihat ada dua sejoli yang tengah berbisik-bisik. Si gadis rupanya tengah memprospek calon penggunanya. Dari sekilas percakapan yang terdengar, ia tengah menjelaskan syarat dan ketentuan yang berlaku untuk bertransasi malam. Di ujung percakapan mereka kemudian saling tukar-menukar nomor handphone untuk kontak lebih lanjut. Saya hanya mbatin, “Ooo, begini to modus transaksinya.”

Geylang4Dari informasi lebih mendalam dalam sebuah investigasi yang saya lakukan, rupanya kawasan Geylang memang secara legal dan formal ditetapkan sebagai kawasan “malam” oleh pemerintah setempat. Bahkan untuk mengenali suatu rumah atau motel yang menjadi penyedia jasa “layanan kenikmatan” telah ada sandi-sandi khusus yang ditetapkan. Sebuah rumah atau motel yang memiliki nomor rumah berwarna merah dan di kala malam nomor tersebut menyala dengan terangnya. Rumah dengan sandi demikian berarti rumah tersebut menyediakan layanan malam. Di siang haripun, jika rumah bernomor merah tersebut nomornya menyala, maka artinya rumah tersebut tetap terbuka untuk menyediakan layanannya. Tentu saja lampu merah yang menyala kencar-kencar di malam hari akan lebih banyak dan meriah di kawasan ini.

Khusus untuk kawasan Geylang Lorong 12, konon dari desas-desus informasi, para gadis yang mangkal merupakan gadis-gadis yang berasal dari Indonesia. Dari perawakan dan penampakan juga dari logat atau dialek bahasa yang digunakan memang nampak tidak mengejutkan jika mereka satu tanah air dengan kita. Namun demikian, dari sekilas lewat pengamatan kami yang terbatas, para gadis di tempat ini tergolong biasa-biasa saja dari segi kecantikan wajah maupun kemulusan kulitnya. Meskipun demikian dari segi keseronokan dandanan mereka terlihat cukup berani mengumbar beberapa sisi tubuhnya.

Ya, hanya sebatas itulah yang bisa kami ceritakan soal red district Geylang. Selebihnya, silakan eksplore lebih dalam dengan mata kepala sendiri! Ada yang tertarikkah?

Foto terbawah dari sini.

Lor Kedhaton, 29 September 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s