Bugis Street, bukan Jalan Bugis


EMPAT HARI TIGA MALAM DI SINGAPURA (13)

Bugis Street

Nama Bugis street tentu saja orang Indonesia yang kebetulan sedang menyambangi Singapura akan langsung mengingatkan kepada nama suku Bugis dari Sulawesi Selatan. Memang suku yang satu ini semenjak jaman dahulu telah terkenal sebagai salah satu suku dengan jiwa pelaut ulungnya. Maka tidak mengherankan jika anak suku Bugis banyak menjelajah dan mengarungi ganasnya lautan samudera dan mengembara hingga berbagai belahan dunia. Tidak hanya berlayar, sebagian diantaranya ada pula yang menetap  menjadi penduduk suatu tanah perantauan seperti halnya Singapura.

Semenjak sejarah awal perkembangannya, pulau Tumasik yang selanjutnya bernama Singapura memang digagas menjadi pusat bandar pelabuhan Asia Tenggara pada jalur strategis selat Malaka. Maka berbagai kapal dagang dengan berbagai bendera negara menjadikan Singapura sebagai tujuannya. Walhasil, Singapura memang menjelma menjadi pelabuhan laut tersibuk di dunia hingga saat ini.

Keberadaan berbagai manusia dengan berbagai latar belakang suku dan bangsa menjadi sebuah konsekuensi logis dari keberadaan kota pelabuhan internasional. Lama-lama pembauran antar mereka terjadi dan melahirkan komunitas-komunitas yang berkumpul serta tinggal di suatu kawasan khusus. Diantara anak suku bangsa yang turut berbaur menjadi penduduk Singapura ini adalah suku Bugis. Maka tempat tinggal mereka pun kemudian dikenal sebagai kawasan Bugis. Kawasan inilah yang dalam perkembangannya antara lain menjadi Bugis Street.

Bugis Street1

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Bugis Street dikatakan sebagai kawasan pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai barang ataupun pernak-pernik khas Singapura. Berbagai cinderamata dan aneka souvenir khas negeri yang pernah dipimpin Lee Kuan Yeu dapat ditemukan di sini. Tidak hanya lengkap bin komplit, di Bugis Street segala macam barang tersebut dijual dengan harga yang sangat ramah bagi kantong para wisatawan. Bahkan banyak diantara barang dagangan yang masih bisa ditawar sehingga pembeli dapat membeli lebih murah lagi. Pokoke murah-meriah wis!

Ketika mendengar informasi mengenai keberadaan Bugis Street, pikiran saya langsung membayangkan sebuah jalanan khusus pejalan kaki dan di kiri-kanannya berjejer toko-toko kecil dengan aneka dagangannya. Namun ketika mencoba menelusur atau mengecek keberadaan Bugis Street di peta, beberapa kali mencermati (termasuk peta digital) saya ternyata mengalami kesulitan untuk menemukan keberadaan Bugis Street. Di kawasan Bugis, yang terpampang di peta hanyalah informasi mengenai Bugis Junction, Bugis station, Victoria Street, Rochor Street, dan tidak ada tulisan Bugis Street. Saya jadi penasaran, Bugis Street ini merupakan nama jalan ataukah nama pasar. Hal ini menimbulkan kebingunan dan keraguan tersendiri.

Bugis Street2

Pernah dalam satu kesempatan, kami sengaja naik bus dari tempat penginapan kami dan turun di halte depan stasiun Bugis. Sambil tengak-tengok mengamati nama-nama jalan di sekitar stasiun tersebut, kami tetap tidak menemukan plang jalan bertuliskan Bugis Street. Barulah pada kesempatan selanjutnya, selepas mengunjungi Sentosa Island di selatan pulau utama Singapura kami dengan yakin menaiki bus jalur 80 dari Opp Vivo City dan turun di halte Opp Bugis Junction.

Turun dari bus dalam suasana hiruk-pikuk keramaian, saya sengaja menepi ke sisi belakang halte. Nah, di sinilah tanpa sengaja pandangan mata terumbuk pada sebuah plang di atas sebuah toko-toko berderetan yang sangat ramai. Di plang inilah tertulis dengan jelas sebuah tulisan “Bugis Street”. Dan tepat di bawah tulisan tersebut memang terdapat sebuah lorong utama yang merupakan akses untuk masuk ke pasar Bugis Street. Barulah saya yakin dengan pandangan mata sendiri bahwa Bugis Street memang nama sebuah pusat perbelanjaan, bukan nama sebuah jalan.

Bugis Street3

Saya tidak habis pikir, kenapa sebuah lorong pasar tertutup yang sangat ramai dengan deretan toko yang penuh sesak dengan para pembelinya kok disebut sebagai Bugis Street. Dalam arti harfiah, tentu saja kita akan cenderung mengartikan Bugis Street sebagai nama jalan, yaitu Jalan Bugis. Tetapi apa yang ada sebenarnya lebih pas jika diistilahkan sebagai Pasar Bugis, atau mungkin Bugis Market.

Sepintas lalu mengamati keberadaan Bugis Street, saya hanya menduga bahwa pada awalnya Bugis Street memang nama sebuah jalan. Jalanan yang di tepi kanan-kirinya dipenuhi deretan aneka toko tersebut, karena sangat ramai dan sibuknya mungkin selanjutnya berkembang menjadi lorong yang dikhususkan untuk pejalan kaki. Ramai bertambah ramai, toko-toko semakin padat hingga menyisakan lorong sempit yang dilengkapi dengan atap tertutup untuk melindungi pengunjung dari terik panas matahari maupun hujan. Bugis Street-pun akhirnya berkembang menjadi seperti saat ini dan lebih pas disebut sebagai Bugis Market. Ini menurut saya lho!

Lalu apa saja barang atau souvenir yang bisa kita temukan di Bugis Street untuk dijadikan oleh-oleh di tanah air? Ada banyak pilihan. Kaos khas Singapura, gantungan kunci, magnetik, hiasan dinding, bahkan gentong keramik cantik juga ada. Demikian halnya dengan aneka camilan khas, seperti coklat, beragam permen, ciki-ciki, hingga beberapa jenis makanan tradisional setempat.

Kawasan Bugis Street dapat dicapai dengan mudah menggunakan angkutan bus kota. Di samping itu, kawasan ini juga bisa diakses dengan kereta api alias MRT jalur NE ataupun DT dan turun di Bugis station.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s