Anjangsana ke Istana Kampung Glam Singapura


EMPAT HARI TIGA MALAM DI SINGAPURA (7)

Istana Kampung Glam

Layaknya seorang penguasa, raja ataupun sultan tentu saja memiliki istana sebagai tempat kediaman sekaligus tempat pusat pemerintahannya. Demikian halnya dengan Kasultanan Johor yang pernah menjadikan pulau Singapura sebagai pusat pemerintahan pada masa 1820-an. Adalah Sultan Hussein Syah yang memiliki wilayah kekuasaan meliputi Riau, Singapura, dan Johor mengikatkan diri dalam suatu perjanjian politik dengan Letnan Gubernur Jenderal Sir Stanford Thomas Raffles sebagai wakil kongsi dagang Inggring di India Timur untuk mengembangkan Tumasik menjadi pusat perdagangan, pelayaran, sekaligus pemukiman. Maka pada tahun 1824, Sultan mendirikan sebuah istana yang termasyur dan kini masih menyisakan bangunannya di kawasan Kampung Glam. Demikianlah kemudian istanana peninggalan sultan tersebut kini dikenal luas sebagai Istana Kampung Glam.

Penamaan Kampung Glam merunut dari kata glam atau gelam. Glam merupakan nama sejenis pohon yang dulunya terdapat di kawasan tersebut. Kayu keras dengan warna hitam tersebut konon sangat kuat untuk dibuat bagan kapal laut. Masyarakat Kasultanan Johor pada saat itu memang terkenal sebagai pedagang dan pelayar yang ulung dengan penjelajahan hingga seantero Nusantara, India, dan Asia Timur.

Membayangkan sebuah kompleks istana mungkin sebagian dari masyarakat Indonesia akan merujuk kepada keratin Yogyakarta atau Surakarta. Keraton dikelilingi benteng tinggi di hadapan lapangan alun-alun yang luas dengan dua ringin kurungnya yang khas. Gerbang utama istana menjadi jalur akses ke Siti Hinggil untuk selanjutnya memasuki bagian dalam dari keraton. Jika bayangan kita mengenai Istana Kampung Glam sebagaimana tersebut di atas, ternyata kita tidak akan menemukan model bangunan Istana Kampung Glam di Singapura semegah keraton di Jawa.

Istana Kampung Glam4 Istana Kampung Glam1

Bangunan Istana Kampung Glam yang ada, bahkan konon semenjak pertama kali dibangun pada dua abad yang lalu, “hanyalah” sebuah bangunan kayu bertingkat dua dengan gaya arsitektur khas suku Melayu. Sangat sederhana memang, namun demikian sebagai sebuah bagian dari perjalanan sejarah Singapura dan juga Kasultanan Johor, bangunan tersebut memiliki nilai sejarah yang teramat sangat penting.

Dua Sultan Johor yang pernah mendiami Istana Kampung Glam adalah Sultan Hussein Syah dan Sultan Ali. Sekitar satu dekade berselang (sekitar 1835), pusat pemerintahan Kasultanan Johor dipindahkan ke wilayah Johor di Semenanjung Malaya yang masih berdaulat memerintah hingga hari ini sebagai bagian dari Negara Malaysia. Namun semenjak kepindahan tersebut, Istana Kampung Glam tetap menjadi kediaman kaum kerabat sultan turun-temurun hingga tahun 1999.

Selepas tidak lagi menjadi pusat pemerintahan, tentu saja kondisi Istana Kampung Glam sedikit banyak mengalami kemunduran. Bangunan keramat dan bersejarah pernah tidak mendapatkan perawatan yang selayaknya pada saat Singapura benar-benar diperintah oleh Inggris, termasuk pada masa pendudukan Jepang saat Perang Dunia II.

Istana Kampung Glam2

Setelah Singapura memperoleh kemerdekaan dan memisahkan diri dari Federasi Malaysia, perhatian pemerintah dan para sejarawan Singapura terhadap bangunan Istana Kampung Glam sebagai sebuah aset sejarah yang maha penting bagi perjalanan bangsa Singapura semakin meningkat. Pemerintah kemudian melakukan pemugaran dan restorasi terhadap bangunan istana yang tersisa. Semenjak tahun 2005, Istana Kampung Glam diresmikan sebagai pusat Taman Warisan Melayu (Malay Heritage Centre) dengan fungsi utama sebagai museum yang menampilkan berbagai benda warisan Kasultanan Johor dan menjadi pusat pengembangan seni budaya maupun tradisi bangsa Melayu.

Di dalam museum Istana Kampung Glam ditampilkan gambaran perjalanan sejarah Kasultanan Johor maupun perkembangan pulau Singapura dari masa ke masa. Pada salah satu diorama digambarkan keberadaan Bandar pelabuhan bersejarah yang menjadi titik tumpu perkembangan masyarakat Melayu di Singapura. Di stan yang lain ditampilkan pula bahan purbakala dari hasil penemuan dan sumbangan masyarakat, seperti uang logam kuno, keramik antik, mangkok kuno, dlsb. Ada pula sudut museum yang menceritakan perkembangan dunia perss dan percetakan massal di Singapura.

Dengan mengunjungi Istana Kampung Glam, wisatawan akan benar-benar dibawa tenggelam ke masa lalu Singapura pada saat Kasultanan Johor berdaulat penuh di negeri singa ini. Hingga saat ini masyarakat Melayu Singapura yang sebagian besar diantaranya merupakan anak keturunan Sultan Johor merupakan bagian dari bangsa Singapura dengan populasi mencapai 14% dari penduduk Singapura. Ingin mengetahui sejarah lengkap masyarakat Melayu Singapura? Istana Kampung Glam-lah tempat yang paling tepat!

Istana Kampung Glam3

Musium Istana Kampung Glam dibuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu dari pukul 10.00 pagi – 6.00 petang. Untuk mencapai kawasan Istana Kampung Glam, pengunjung dapat menggunakan MRT jalur NE atau DT dan turun di stasiun Bugis. Adapun bagi pengunjung yang ingin menggunakan kendaraan umum berupa bus, dapat menaiki bus nomor 2,7,10,12,14,16,32,33,51,61,63,70,80,100,107,130,133,145,175,196,197,961, dan 980 dari berbagai titik di kota Singapura. Istana ini sangat berdekatan dengan Masjid Sultan Singapura.

Ngisor Blimbing, 4 September 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Anjangsana ke Istana Kampung Glam Singapura

  1. Boleh juga itu sekali-kali ke sana….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s