Hikmat Sholat Jumat di Masjid Sultan Singapura


EMPAT HARI TIGA MALAM DI SINGAPURA (6)

Masjid Sultan2Siang itu selepas lelah dengan jalan-jalan di Gardens by the Bay dan kemegahan Marina Bay Sands, kami kembali naik MRT ke stasiun Bugis. Keluar dari stasiun kami susuri Victoria St arah Kallang St. Beberapa gang berlalu, kami berbelok arah kanan memasuki Arab St. Beberapa saat, tibalah di sebuah perempatan dimana wajah sebuah bangunan dengan kubah warna emas dan beberapa menara pendamping khas Timur Tengah muncul. Itulah Masjid Sultan di bilangan Arab St, sekitar wilayah Kampung Gelam.

Hari itu kebetulan memang hari Jum’at. Maka sengaja siang hari tersebut kami menyambangi Masjid Sultan untuk sekaligus menunaikan sholat Jum’at. Memang belakangan barulah kami sadari bahwa petualangan kami ke negeri Tumasik ini tujuan utamanya adalah Jum’atan di Masjid Sultan sebagaimana ketika kami sekeluarga sempat berkunjung ke Kuala Lumpur beberapa waktu sebelumnya yang juga bertujuan untuk mengikuti Jum’atan di Masjid Negara Kuala Lumpur.

Jum’atan di negeri orang tentu merupakan sebuah pengalaman tersendiri. Tidak hanya sekedar menjalankan kewajiban semata, namun dalam kesempatan tersebut kita juga bisa melihat, mengamati, merasakan, bahkan mengikuti pelaksanaan rangkaian ibadah Jum’at dengan nuansa yang sangat berbeda dari yang biasa kita alami di negeri sendiri. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan adat, tradisi, budaya masyarakat setempat yang sedikit banyak juga berpengaruh terhadap ritual keagamaan.

Masjid Sultan3

Sekitar jam 12.30 jamaah sudah mulai merayap memasuki area Masjid Sultan. Waktu sholat Jum’at di hari itu sebenarnya baru tiba pukul 13.10 waktu setempat. Namun sebagai masjid terbesar di Singapura, Masjid Sultan tentu memiliki sebuah kesibukan yang lebih ekstra tatkala menggelar ibadah mingguan bagi ummat muslim. Tidak hanya kesibukan lalu lalang jamaah yang menyiapkan diri untuk Jum’atan, di kanan-kiri jalanan yang menuju masjid juga banyak pedagang dadakan yang mulai menggelar dagangannya. Mereka rata-rata menawarkan berbagai barang pendukung ibadah, seperti peci, sajadah, tasbih, minyak wangi, kain sarung, mukena, dlsb. Suasana pasar kagetan tersebut semakin menambah marak suasana karena kawasan masjid sebenarnya merupakan salah satu kawasan tujuan wisata sejarah yang senantiasa dikunjungi turis dan sepanjang jalan di kanan-kirinya dikenal sebagai pusat perdagangan dan souvenir yang pada waktu-waktu biasapun selalu ramai. Maka bertambahlah keramaian tersebut di hari Jum’at.

Selepas mangambil air wudlu, saya dan si Ponang langsung memasuki ruang utama masjid. Kami sengaja memilih tempat di tengah ruangan agar pandangan ke mihrab dan mimbar khotib langsung lurus tidak terganggu barisan jamaah di depan. Lantunan ayat suci Al Qur’an terdengar menggema dan menyejukkan suasana jamaah yang masih harus menunggu pelaksanaan ibadah Jum’at untuk dimulai.

Sekilas mengamati bangunan sisi dalam masjid, meskipun gaya arsitektur masjid tidak begitu menonjol tetapi masjid dua lantai tersebut dihiasi dengan aneka ukiran kaligrafi di sisi depan sebalah atas kiri dan kanan mihrab. Arsitetur ruang utama justru mengesankan interior sebuah bagunan gereja bergaya gotik. Beberapa pilar berjajar di sisi samping ruangan sebagai penopang tempat sholat di lantai atas maupun struktur bangunan dan kubah masjid di sisi luar. Singapura di tengah siang bolong tentu menghembuskan hawa panas laut yang cukup membuat gerah, tetapi dengan hadirnya puluhan kipas angin, bahkan di sisi tengah terpasang kipas angin ekstra besar, mampu menghadirkan hembusan kesejukan yang tak jarang membawa jamaah terkantuk-kantuk dalam menanti mendengarkan khutbah dari sang khatib.

Masjid Sultan1

Masjid Sultan4

Menjelang pukul 13.00 berbagai maklumat dari takmir masjid disampaikan. Dengan bahasa Melayu yang mendayu, saya pribadi yang mendengarkan gaya tutur pemberi maklumat tersebut menjadi tersenyum simpul dan seolah terbawa ke dunia Upin-Ipin. Sungguh ada nuansa khas Melayu-Malaysia yang hadir pada saat tersebut.

Selepas maklumat disampaikan, dikumandangkanlah adzan pertama dan disusul adzan ke dua setelah sebelumnya jamaah berkesempatan menunaikan sholat sunnah qabliyatul jummah. Khotibpun naik mimbar utama. Sang khatib yag berpakaian kain sarung berbalut jubah putih nampak gagah dengan menyandang tongkat imam dan berdiri di atas podium yang tinggi. Suaranya lantang menyampaikan khutbah dalam bahasa Melayu. Tema khutbah hari itu sedikit banyak menyinggung sepak terjang ISIS yang justru mencoreng nama baik agama Islam. Islam yang merupakan ajaran kedamaian dan anti kekerasan justru ternoda oleh tindak kekerasan, kekejaman, dan kebrutalan kelompok ISIS. Khutbah juga menyinggung pentingnya berkorban selaras dengan ajaran Ibrahim berkenaan dengan akan datangnya bulan haji beberapa waktu mendatang.

Meski dengan kepala yang tertunduk diantara duduk dan kantuk, namun sebagian besar jamaah berkhitmah mendengarkan khutbah dengan khusuk. Sekitar setengah jam kemudian, khutbah selesai disampaikan dan rangkaian ibadah Jum’at diakhiri dengan sholat jamaah.

Masjid Sultan merupakan masjid paling bersejarah di Singapura. Masjid ini digagas pembangunannya semenjak kekuasaan Kasultanan Riau-Lingga-Johor memerintah di pulau tersebut. Pada masa awal tahun 1800-an pusat kesultanan justru dipindahkan di pulau Singapura dari daratan Riau. Terkenallah Sultan Hasan sebagai sultan yang memerintahkan pembangunan masjid selepas ia menandatangi perjanjian dengan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stanford Raffles untuk mengembangkan pulau Tumasik menjadi pusat perniagaan dan permukiman yang strategis pada silang jalur pelayaran internasional.

Masjid Sultan5

Masjid Sultan hadir di kawasan Istana Kampung Gelam yang dulunya merupakan kawasan pusat pemerintahan sultan. Selain menikmati kemegahan bangunan Masjid Sultan, di kawasan ini para wisatawan dapat menjelajahi perkampungan yang menyajikan Singapura tempo dulu dengan bangunan berarsitektur lawas yang masih dipertahankan dan aneka pusat perbelanjaan yang didominasi produk-produk khas, seperti aneka souvenir, produk kain dan tekstil, bahkan juga beragam sajian kuliner khas yang sangat menawan.

Untuk menuju kawasan Masjid Sultan sekaligus Istana Kampung Gelam, kita dapat mencapainya dengan menggunakan MRT jalur NE atau DT, turun di stasiun Bugis. Selain itu kawasan ini juga dapat diakses lebih dekat dengan menggunakan beberapa bus, seperti jalur 80 dan 100. Ke Singapura, serasa lebih lengkap dengan wisata sejarah dan ibadah di Masjid Sultan. Anda percaya? Silakan buktikan sendiri.

Ndalem Kronggahan, 1 September 2015

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Hikmat Sholat Jumat di Masjid Sultan Singapura

  1. Evi berkata:

    Anggun sekali Masjidnya, Mas. Seperti bukan berada di Singapura 🙂

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Betul mbak, dari penggunaan bahasa Melayu oleh sang khatib maupun saat cakap-cakap dengan banyak orang justru serasa di Malaysia atau Riau

      Suka

  2. arista berkata:

    ono sing nganggo topi abang putih. Cah maiyah kui kayanya :))

    Suka

  3. Ping balik: Anjangsana ke Istana Kampung Glam Singapura | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s