Kenangan Bangku SMP 1 Muntilan


SMP 1 Muntilan

Menjalani saat-saat bersama selama seharian untuk tiga tahun tentu menyisakan seribu satu kenangan yang tak terlupakan. Terlebih masa remaja yang tengah mencari jati diri tentu dipenuhi dengan baragam keluguan, kelucuan, dan yang pasti kenakalan-kenakalannya yang khas. Ketika masa itu sudah terlewatkan lebih dari dua dasa warsa, ternyata kenangan itu tak pernah bisa lekang dimakan jaman.

Lulus dari bangku SD di lingkar kaki gunung Merapi tidak menjadikan langkah kaki surut untuk turut nyemplung di SMP kota yang katanya paling favorit. Ternyata di sanapun kawan seperjuangan yang sama-sama menempuh bangku sekolah juga kebanyakan yang anak desa sebagaimana saya. Dengan demikian perasaan percaya diri semakin terpupuk dengan subur menggantikan rasa rendah diri yang pernah terbersit.

Adalah nama-nama seperti Nila, Sarip, Muhtar, Erwin, Sita, Kuncoro, Diah, Etika, Yuni, Muhjito, Lilik, Haryana, Marjiono, Handoyo, Rolied, Evi, Elia, Beni, Herman, Ahmad Kuzaeri, Lila, Kristi, Eko Wahdani, Triyanto, Sundaryati, Erni, Bayu, Taufik, Ahmad Agung, Nuning, Maya, Anjar, Irwan, Rudi, Fuji, Heru, Nurngaisah, Siti Kholifah, Ida Erlina, Sri Wahyuningsih, adalah diantara nama-nama teman di kelas ID yang masih sempat teringat.

Menapaki bangku kelas II dan III, sebagian diantara teman kelas I masih menjadi teman sekelas. Sedangkan sebagian teman sekelas yang lain berasal dari kelas IC yang dioplos dengan ID. Beberapa nama teman semasa ini diantaranya Purwati, Winarsih, Widodo, Siam, Kuntar, Gunawan, Mahbub, Ibnu, Wahyu, Prapti, Nurkusuma, Johan, Riyanti, Islamiyah, Indria, Almum, Nanik, Doni, Triyono, Makruf, Ratno, Isnaini, masih teringat raut wajahnya hingga kini.

Reuni SMP 1  Reuni SMP1b

Reuni SMP 1a

Dalam masa itu pula tentu saja tidak kami tidak lupa dengan sederetan guru kami yang dengan tulus mencurahkan ilmu dan bimbingannya kepada para muridnya. Ada Pak Sholeh, guru agama yang cermat dengan dalil-dalilnya. Ada Pak Suhadi, guru PMP dari Ndalgrowong. Ada Pak Pratiwo, guru matematika dengan gitik lorengnya. Ada Pak Tris, guru bahasa Inggris yang sudah mirip turis dengan rambut putihnya. Ada Pak Edi, guru fisika yang sangat khas tulisan ceker ayamnya. Ada pula Pak Sakdu, guru biologi yang senantiasa membawa gombyokan kunci lab. Ada lagi Bu Wik, guru geografi yang cekatan dengan peta butanya. Ada Pak Witono, guru ekonomi yang keras memperkenalkan hukum gossen dan prinsip ekonomi. Ada Pak Sambi, guru sejarah yang raut wajahnya sangat memfosil. Ada Pak Mukhlas dan Pak Kusno, pengajar bahasa Indonesia dengan hafalan majas-majasnya. Ada Bu Sri, pengajar bahasa Jawa yang sesekali nembang mocopatan juga. Ada Cek Mumun, guru ketrampilan yang melatih masak-memasak dan jahit menjahit. Kemudian ada pula Pak Beno, guru musik yang memperkenalkan Gending Sriwijaya. Ada lagi Pak Kus, guru seni lukis yang bersahaja. Kemudian Pak Anang, guru olah raga yang penyandang sabuk hitam karate saat itu.

Di kelas selanjutnya, ada Bu Yayuk guru bahas Inggris yang masih sangat muda kala itu. Ada Bu Lastri, pengampu bahasa Indonesia. Ada Pak Hesti guru biologi yang sering meminta pembedahan berbagai jenis binatang. Ada Pak Sidal dan Bu As, pengajar olah raga. Ada Pak Harto, wakil kepala sekolah yang mengajar fisika. Pak Haryanto, pengajar PMP. Pak Yarto, guru matematika. Pak Agus, pengajar ketrampilan elektronika yang juga lihai bermain gamelan. Pak Kasiyo, guru seni lukis yang aktivis palang merah. Ada pula beberapa deretan nama guru BK, seperti Bu Puji, Pak Harsono, dan Bu Sundari.

Di luar jajaran nama guru, tentu saja ada Pak Bin,  dan Pak Inun para penjaga sekolah. Ada Mbak Tiwi penjaga perpustakaan sekolah. Termasuk Mbok Min dan Mbok Mo, para penjaja makanan di warung belakang sekolah yang tak terlupakan. Bahkan ada nama Kopral Marjo yang sering melengkapi kelompok pemain bola volley.

Kopral Marjo

Sebagaimana kodrat manusia yang merupakan makhluk sosial, tentu saja ada rasa persaudaraan, serta senasib sepenanggungan yang tertanam pada masa sekolah dulu. Besar atau kecil, banyak atau sedikit, rasa kangen dengan teman seperjuangan tentu saja sempat muncul dalam angan-angan. Meskipun beberapa diantara teman masih tersambung komunikasi dan silaturahmi, namun sebagian besar diantara sudah hampir kehilangan jejak keberadaannya.

Kesempatan Idul Fitri dimana saudara muslim yang satu dengan yang lain saling berkunjung untuk meneguhkan kembali semangat pasedulurannya, maka ada juga kerinduan untuk dapat berkumpul dengan teman-teman semasa perjuangan di bangku SMP dulu. Melalui kontak-kontak dan menelusur dunia maya, alhamdulillah pada kesempatan Lebaran kali ini beberapa diantara teman sejawat tersebut dapat saling bertemu dan berkumpul dalam suasana keakraban sebagaimana masa sekolah dulu. Bahkan dalam satu kesempatan, kami juga sowan kepada salah seorang Ibu Guru pengampu pelajaran bahasa Inggris yang hingga kini masih nampak awet muda.

Semoga di tahun depan, lebih banyak lagi teman-teman yang bisa turut bergabung untuk terus mengekalkan tali persaudaraan. Semoga.

Ngisor Blimbing, 19 Agustus 2015

Foto: dari Triyono dan Felix

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s