Gaung Mantra Lima Gunung


FLG 2015Magelang dengan lima gunung tentu dua hal yang tidak pernah bisa dipisahkan. Keduanya telah menyatu menjadi senyawa kehidupan yang menghidupi bagi sekalian warganya. Merapi, Merbabu, Andong-Telomoyo, Sumbing, beserta Menoreh seolah pagar alam yang akan senantiasa menjaga dan memberikan harmoni alam bagi kehidupan manusia Magelang. Tidak mengherankan jika salah satu kisah legenda mengenai asal-usul nama Magelang juga berkenaan dengan keberadaan maha-gelang, gelang raksasa yang melingkari wilayah Magelang yang tidak lain dan tidak bukan adalah kelima gunung di atas.

Tidak hanya terbentang sebagai sebuah realitas geografis, keberadaan lima gunung juga menginspirasi para seniman yang sekaligus petani di wilayah lima gunung untuk sayuk rukun, menyatu dalam wadah Komunitas Lima Gunung. Komunitas ini merupakan gagasan bersama diantara beberapa tokoh, seperti Sutanto Mendut, Sitras Anjilin, Sujono, Riyadi, Supadi, Pangadi yang masing-masing menjadi pemangku di wilayah selingkaran lima gunung.

Dalam beberapa kali kesempatan diskusi yang pernah penulis ikuti, Sutanto Mendut sering mengungkapkan bahwa berkumpulnya para senimana di seputaran lima gunung tidak lagi bicara soal pementasan seni semata. Lebih daripada itu, seni hanyalah merupakan suatu sarana untuk sesrawungan. Jadi inti daripada peristiwa Festival Lima Gunung justru terletak pada kedewasaan masing-masing untuk berdiri sebagai insan manusia yang membutuhkan sarana untuk menunjang pergaulan agar hidup lebih hidup dan bermakna.

Ketika seni disadari sebagai sarana sesrawungan tadi, maka gathuklah sebuah mindset bahwa keharmonisan pergaulan manusia jauh lebih berharga dari materi apapun di muka bumi, bahkan uang itu sendiri. Tidak mengherankan jika kemudian para penggagas Festival Lima Gunung seolah enggan berembug soal duit. Memang hukum alam menyatakan “Jer Basuki Mawa Bea”, apapun membutuhkan biaya. Namun jika biaya tersebut hanya dianggap sebagai sebuah syarat dan bukan menjadi tujuan, tentu saja seperti apa yang dirasakan di FLG, semua menjadi terasa lebih ringan dan lebih mudah dalam menjalani suatu proses hidup.

Mantran Wetan

Pernyataan seolah pantang “berembug soal duit” tadi sebenarnya adalah sebuah wacana bahwa duit itu bukan segala-galanya dalam hidup, termasuk dalam berkesenian. Di atas duit masih banyak modal social budaya yang jauh lebih berharga dan bernilai hakiki. Ada semangat gotong royong masyarakat dalam memikul beban kehidupan secara bersama. Ada semangat kebersamaan, sak iya sak kapti dalam mewujudkan sebuah tujuan bersama. Ada pula spirit tentang sayuk rukun, semangat untuk memperteguh kerukunan dan kedamaian dalam kerangka kebersamaan. Modal-modal social budaya inilah yang kini semakin terpinggirkan oleh kapitalisasi dan komersialisasi masyarakat kontemporer yang justru menjadi terjebak untuk mendewakan uang.

Dalam kerangka pola pikir mendasar inilah yang sengat membedakan garis gerak Komunitas Lima Gunung dibandingkan dengan komunitas serupa yang lainnya. Dukungan sponsor, dukungan pejabat pemerintahan, bahkan anggaran pemerintah menjadi seolah tidak dapat menyentuh kinerja Lima Gunung. Bayangkan apabila event sesemarak Festival Lima Gunung dibiayai oleh anggaran pemerintah, mungkin angkanya akan berkisar di orde miliar, bahkan puluhan miliar, dan itupun harus ditempuh dengan proses birokratis yang ruwet bin berbelit-belit. Dan ujungnya, ini yang dirasakan menjadi pantangan, kesuksesan hanya diukur sebagai kemeriahan tanpa makna yang lebih mendalam dalam tataran nilai dan moralitas hidup

Tahun ini adalah penyelenggaraan Festival Lima Gunung yang ke-IX kalinya. Tanpa terasa sekian waktu telah dijalani dan sekaligus menjadi ujian yang tidak ringan untuk komitmen dan konsistensi menjalankan seni untuk menghidupi kehidupan. Dengan mengambil tema “Mantra Gunung”, FLG XIV yang akan berlangsung dari 14-17 Agustus di Mantran (Gunung Andong) dan Tutup Ngisor (Gunung Merapi) seolah ingin meneguhkan bahwa nilai hidup yang dianut masyarakat gunung (pedesaan) akan senantiasa hidup untuk menghidupi kehidupan dan akan semakin menjadi nilai yang dicari-cari, dirindukan, untuk kemudian dipelajari dan diterapkan oleh masyarakat modern. Bagaikan mantra-mantra sakti yang mengalahkan segala teori ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak jarang justru semakin memperpuruk hakekat hidup manusia, itulah mantra gunung.

Sebagaimana pelaksanaan Festival Lima Gunung pada tahun-tahun sebelumnya, rangkaian festival akan diisi dengan berbagai agenda acara, seperti pentas seni tari, kethoprak, wayang, musik, juga pameran seni dan sarasehan budaya. Dengan melibatkan lebih dari 1.000 seniman dari berbagai kelompok seni yang tergabung dalam jaringan FLG, penonton akan disuguhkan tampilan menarik khas Magelang antara lain seni ndayakan, topeng ireng, soreng, kuda lumping, hingga tari grasak.

Masjid Mantran Wetan

Dengan hajat utama peresmian bangunan masjid di Mantran Wetan yang telah selesai dipugar dengan dana sukarela dari masyarakat setempat, sekaligus berbagai pementasan seni berlatar keanggunan raut muka Gunung Andong, Mantran seolah akan menghadirkan kembali pentingnya untuk terus memperteguh spirit untuk terus tungkul dan manembah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, Allah SWT. Sebuah kerangka hubungan batiniah yang secara vertical harus senantiasa menjadi tali pegangan manusia untuk menempuh hidup dengan selamat duni hingga akhirat.

Adapun perhelatan di Padhepokan Tjipto Budoyo yang telah berdiri sejak 1937 akan dipuncaki dengan pelaksanaan upacara peringatan detik-detik Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 dengan kemasan tradisi nilai kearifan local. Hal ini menjadi peneguh bahwasanya kemerdekaan merupakan pintu gerbang bagi kebebasan dan pengakuan hak-hak asasi manusia, termasuk dalam berkesenian, bagi terwujudkan kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara secara adil serta bermartabat. Masyarkat, rakyat dengan negara merupakan kesatuan harmonisasi kehidupan yang harus senantiasa dibina dan dilestarikan. Di sinilah makna hubungan horizontal diantara sesama manusia, diantara rakyat dan pemerintah, diantara masyarakat dan negara mendapatkan momentum budayanya.

Dengan demikian, baik simbolisasi mantra gunung dari Mantran maupun dari Tutup Ngisor secara sempurna akan menghadirkan dimensi hubungan vertikal dan horizontal yang utuh dari diri setiap insan yang akan turut menghayati setiap agenda dalam pagelaran Festival Lima Gunung ke-XIV tahun ini. Silakan hadir dan menikmati segala sajian dari komunitas seniman yang sekaligus para petani, dan para petani yang sekaligus adalah para seniman. Semoga akan semakin menggugah semangat dan rasa humanism kita selaku insan manusia yang tengah menjalani amanat untuk menjaga serta memakmuran bumi jagad semesta ini.

Salam Budaya!

Ngisor Blimbing, 11 Agustus 2015

Gambar/Foto dari Pakdhe Tanto Mendut

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Gaung Mantra Lima Gunung

  1. lisin berkata:

    Mantap mas. Jd pingin mengunjungi… 🙂

    Suka

  2. eko magelang berkata:

    wah jian…gaungnya seakan sampai disini mas……jadi pingin pulang…
    wis pokoknya…salam budaya…..

    Suka

  3. Inzanami berkata:

    Keren banget mas, jadi pengen segera meluncur kesana.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s