Sayuk Rukun dari Tlatah Bocah


Gapura Klakah

Sayuk rukun merupakan sebuah ungkapan warisan agung para leluhur bangsa Jawa. Meskipun hanya terdiri dari dua kata, namun ungkapan tersebut memiliki makna yang sungguh teramat dalam. Sayuk bisa diartikan semangat atau spirit, tekad, itikad, atau bisa juga komitmen. Adapun rukun sudah kita pahami bersama berarti suasana atau sikap penuh persaudaraan, persahabatan, kekariban, kedekatan, perdamaian dan ketentraman. Secara singkat bisa juga sayuk rukun dimaknai menjadi semangat perdamaian. Kenapa dengan perdamaian?

Dunia memang terus bergerak menuju era modern. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi justru menjadikan manusia semakin individualis. Kepentingan pribadi atau diri sendiri kini menjadi lebih mengedepan atas nama hak asasi manusia ataupun kebebasan individu. Dalam keadaan demikian sering timbul benturan antar kepentingan yang selanjutnya memicu pertengkaran, persaingan, perseteruan, bahkan juga peperangan. Lihatlah betapa dunia di masa kini dipenuhi dengan berbagai peperangan, perang individu, perang kepetingan, perang iklan, perang mulut, perang antar gang, perang antar kampong, perang antar sekolah, hingga perang adu senjata bom nuklir. Betapa kedamaian menjadi sungguh terancam.

Kedung Kayang TB IXSemangat untuk berdamai, semangat untuk perdamaian, nampaknya menjadi sangat relevan untuk digaungkan kembali ke dasar hati nurani setiap anak manusia. Berangkat dari keprihatinan yang mendalam inilah kiranya tidak berlebihan jika beberapa tokoh penggerak pemenuhan hak terhadap anak-anak di seputaran Gunung Merapi menggagas tema Sayuk Rukun dalam penyelenggaraan Festival Tlatah Bocah ke-IX tahun ini yang puncaknya berlangsung 8-9 Agustus di Dusun Klakah, Kecamatan Sela, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah baru-baru ini.

Para bocah adalah tunas bangsa. Di tangan merekalah tergenggam masa depan bangsa dan negara. Anak-anak dengan dunia bermainnya senantiasai menjunjung tinggi sportivitas permainan. Meskipun ada ego individu maupun kelompok yang juga berujung dengan adu mulut atau bahkan hingga perkelahian, namun anak-anak senantiasa mudah saling memaafkan. Perbedaan, perselisihan, bahkan pertengkaran dan perkelahian harus dipandang hanya sebagai sebuah luapan emosi sesaat. Dengan demikian tidak memerlukan rentang waktu yang terlalu lama, anak-anak yang berselisih itupun akan segera berdamai. Saling meminta maaf dan berdampingan kembali. Di sinilah para orang dewasa harus senantiasa belajar.

Adalah Ki Lurah Semar Badranaya, dalam kisah pewayangan disimbolkan sebagai tokoh dewa yang sangat rendah hati. Demi ngemong para pelaku kebenaran (Pandawa Lima) ia rela turun dari tahtanya di Kahyangan. Dia bersama tiga panakawan menjadi simbol pemersatu sekaligus penasehat para ksatria. Segala keruwetan dan kekisruhan perkara dunia selalu berhasil diurai, dihikmahi, serta dicarikan jalan bagi tercapainya kedamaian. Semar adalah perlambang kedamaian dalam keabadian. Hal inilah yang nampaknya mendasari Festival Tlatah Bocah IX tahun ini mengusung Semar sebagai semacam perlambang atau logo pelaksanaan festival.

Soreng TB IX

Campur TB IX

Festival yang telah diawali dengan laku lampah merti jiwa di puncak Gunung Tidar beberapa bulan sebelumnya dipuncaki dengan serangkain pentas seni, sarasehan, dan gelar pameran yang kesemuanya didedikasikan untuk anak-anak Indonesia, bahkan anak-anak seluruh dunia.

Poster TB IX

Festival yang mengambil latar perpaduan alam Merapi-Merbabu ini dimeriahkan dengan penampilan lebih dari 23 komunitas seni. Ada kelompok wayang bocah, soreng bocah, campur, reog, topeng ireng, kobra siswa, grasak, juga berbagai pentas dolanan bocah dan aneka tarian kreasi baru. Untuk acara sarasehan dengan tema Anak, Seni Tradisi dan Komunitas menghadirkan nara sumber Marwoto Kawer dari Yogyakarta dan Ribut Budi Santoso dari DPRD Boyolali digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2015 dari pukul 13.00-15.00 WIB. Adapun beberapa lokakarya yang dilangsungkan bersamaan dengan pelaksanaan pentas seni diantaranya seni batik semprot dan book craft yang menghadirkan Elly Kent dari Australia, serta kreasi wayang dari barang bekas bersama Klontank Jogja.

Selain digawangi dan diramaikan oleh berbagai komunitas seni pemerhati bocah di seputaran Merapi, Merbabu, Sumbing dan Menoreh, serta kehadiran sahabat komunitas dari luar daerah seperti dari Surabaya, Pati, Ambarawa, Salatiga, Jogja, dan Boyolali, festival terasa lebih semarak dengan kehadiran dan kolaborasi persahabatan dari beberapa komunitas Negara sahabat dari Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Lillin TB IX   Penonton

Penyelenggaraan Festival Tlatah Bocah IX di Dusun Klakah yang merupakan wilayah mata air yang mengalirkan air terjun Kedung Kayang sekaligus yang beriringan dengan puncak kemarau panjang seolah memberikan sebuah pesan mendalam bahwasanya air sebagai sumber kehidupan tidak akan pernah berhenti memenuhi kebutuhan makhluk Tuhan di muka bumi sebagaimana semangat perdamaian yang harus senantiasa menjadi jiwa dan nafas dalam pergaulan sesama manusia. Inilah pesan perdamaian yang sekilas dapat penulis serap dari pelaksanaan festival bocah terspektakuler di Nusantara ini.

Anak Merapi! Semangat budaya punya harga diri! Salam damai, sayuk rukun bagi kita semua!

Sumber foto-foto: Gunawan Juliyanto, @tlatahbocah

Ngisor Blimbing, 9 Agustus 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sayuk Rukun dari Tlatah Bocah

  1. annosmile berkata:

    aku nonton di hari kedua kang 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s