Ramadhan dan Sepasang Kucing


Amalan ibadah apapun, termasuk sholat dan puasa Ramadhan, tujuan utamanya adalah dalam rangka pencapaian akhlakul karimah. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad sendiri pernah ngendhika bahwa dirinya diutus ke tengah ummat manusia tidak lain dan tidak bukan dalam rangka memperbaiki atau membangun akhlak manusia. Jika ibadah disepadankan dengan sebuah proses, maka sholat dan puasa tadi merupakan inputan proses dan output proses itulah akhlakul karimah.

Adalah si Ponang kecil yang tahun ini sudah “lebih serius” belajar puasanya. Ketika suatu pagi kami sempat jalan-jalan sekedar menikmati dan menghirup segarnya udara pagi, di suatu gerombolan tebon di pinggiran jalan terdengar suara ngeong-ngeong mungil nan nyaring. Sejenak kami amati, keluarlah empat ekor anak kucing imut bin lucu. Melihat keempat kucing kecil tanpa induk semang tersebut, pikiran si Ponang langsung jatuh kasihan. Dengan merengek keras, ia meminta agar kucing tersebut dibawa pulang untuk dipelihara lebih layak.

Dengan segala keterbatasan kami untuk membawanya pulang kala itu, akhirnya hanya dua ekor anak kucing yang bisa dibawa pulang. Si Hitam dan si Coklat!

Hari-hari Ndalem Peniten yang biasa sunyi senyappun mulai hari itu bertambah riuh dengan keberadaan si Hitam dan si Coklat. Dengan telaten dan tekun si Ponang tak lupa ngurusi soal makan dan minumnya kedua kucing kesayangannya. Suatu malam teringat dengan dua saudara si Hitam dan si Coklat yang tidak sempat terbawa pulang beberapa hari sebelumnya. Si Ponang merasa tidak adil karena tidak semua kucing “menikmati” kenyaman memiliki juragan dan tinggal di tempat yang lebih layak. Maka iapun meminta pada keesokan harinya kami menyambangi kembali rumpun tebon tempat kami menemukan si Hitam dan si Coklat. Namun sungguh seribu sayang, malang tak dapat ditolak dan untungpun belum bisa diraih, kami tidak lagi menemukan jejak kedua saudara kucing yang lain tersebut.

Kasih sayang atau cinta merupakan puncak perwujudan akhlakul karimah seorang insan manusia. Tidak hanya terbatas kasih sayang terhadap sesama manusia, tetapi termasuk terhadap semua makhluk Tuhan dan tentu saja termasuk kucing yang saya kisahkan di atas. Anda semua tentu pernah mendengar kisah tentang serang sahabat Kanjeng Nabi Muhammad yang sangat welas asih terhadap seekor kucing hingga kemanapun ia pergi maka kucing kesayangannya senantiasa disunggi di atas surban kepalanya. Dialah sahabat yang kemudian terkenal dengan julukan Abu Hurairah, bapak dari kucing.

Perihal kemuliaan akhlak, termasuk dalam wujud sikap sayang terhadap binatang, sebagai orang tua tentu saja kita harus senantiasa memupuknya semenjak usia kanak-kanak. Alangkah bahagianya jika puasa kita, sholat kita, segala amalan ibadah kita menjadikan kita semakin berlembut hati kepada siapapun.

Ndalem Peniten, 7 Juli 2015

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ramadhan dan Sepasang Kucing

  1. Ping balik: Lebaran di Kampung Halaman | Exploration!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s