Ramadhan dan Diponegoro


Takdir DiponegoroSiapa yang tidak mengenal Pangeran Diponegoro? Sosok pahlawan nasional yang satu ini setidaknya pasti pernah dipelajari di bangku sekolah. Namun seberapa rinci pengetahuan kita berkaitan dengan tokoh ini, tentu saja sangat beragam spektrumnya bagaikan merah, kuning, hijaunya warna pelangi. Diponegoro dan bulan Ramadhan, apakah ada hubungannya?

Di samping dikenal luas sebagai seorang pangeran yang memimpin perlawanan terhadap Kompeni Belanda yang dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830), Diponegoro sejatinya juga sosok muslim yang sangat shaleh. Ia merupakan figur santri yang mendapat bimbingan dari bebera ulama terkemuka, diantaranya Kiai Mojo.

Diponegoro terlahir pada pertengahan Ramadhan 1785 dari seorang selir Kanjeng Sultan HB III. Semenjak kecil ia sengaja dididik oleh sang nenek di tengah sawah dan pategalan Tegalrejo, kurang lebih 3,5 km sisi barat daya Keraton Kasultanan Ngayojakarto Hadiningrat. Hal tersebut disengaja untuk mensterilkan jati diri dan kepribadian sang pangeran dari pengaruh maupun intrik istana yang sudah banyak dipengaruhi oleh pengaruh bangsa asing. Para sesepuh istana pada saat itu sudah melihat isyarat akan hadirnya calon pemimpin utama pada sosok bayi Diponegoro.

Jauh sebelum Kerajaan Mataram terbelah menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat, Sultan Agung pada saat kekalahannya yang ke dua pada penyerangannya ke Batavia tahun 1646 mengisyaratkan bahwa selepas kepergiannya Tanah Jawa akan sepenuhnya dikuasai Belanda selama tiga abad. Dalam masa kelam tersebut, akan muncul salah seorang keturunannya yang akan melakukan perlawanan sangat hebat. Meski ia tidak bisa memastikan apakah dalam perlawanan tersebut Jawa akan terbebas dari belenggu penjajahan asing, namun pihak lawan akan mengalami kebangkrutan yang sangat luar biasa.

Menginjak usia dewasa, Diponegoro atau Ngabdurahman melakukan peziarahan panjang. Dalam kurun beberapa bulan ia menyamar sebagai rakyat jelata. Dengan jalan kaki, tanpa naik andong ataupun kuda, ia menyuusuri Tegalrejo ke arah timur untuk kemudian berjalan sejajar dengan Kali Opak menuju Pantai Selatan. Di beberapa titik ia sering menjumpai gua dan di sanalah ia banyak memasu diri dari sunyi sepi untuk semakin bertafakkur mendekatkan diri kepada-Nya.

Di pajimatan yang merupakan gerbang ke makam leluhur mataram di bukit Imogiri, beberapa abdi mengenali sosok sang pangeran namun mendiamkannya karena tidak ingin menghalangi niat perjalanan Diponegoro. Dalam perjalanan panjang inilah ia mampu menyelami kehidupan nyata yang dialami rakyat jelata di pelosok Yogyakarta. Suramnya kehidupan rakyat akibat para pemimpinnya yang diperdaya oleh Kompeni Belanda hingga menggadaikan rakyat dan kekayaan kerajaan atas nama pangkat, jabatan, dan kenikmatan duniawi.

Takdir Diponegoro1

Puncak perjalanan Diponegoro pada saat ia mencapai Pantai Parangtritis. Di lokasi dimana biasa digunakan pihak keraton melakukan upacara labuhan, dengan jelas ia mendengar suara bisikan ghaib yang menuntunnya untuk mengangkat senjata melawan kesewenang-wenangan penjajah. Inilah titik awal bergejolaknya jiwa sang pangeran yang kemudian melakukan perlawanan terbuka terhadap Kompeni Belanda.

Perlawanan Diponegoro mendapat dukungan yang luas dari kalangan rakyat. Tidak ketinggalan para kaum ulama juga turut bergabung menjadi penasehat pasukan Diponegoro. Taktik gerilya yang dilancarkan benar-benar membuat pasukan Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Logistik dan persenjataan sering dirampas oleh pasukan Diponegoro.

Atas tekanan dari Gubernur Jenderal, Jenderal de Kock kemudian melancarkan taktik benteng stelsell dimana pada setiap titik yang berhasil dikuasai didirikan benteng pengawasan yang dijaga sepasukan bersenjata lengkap. Hal ini membuat ruang gerak pasukan Diponegoro menjadi sempit.

Pada Ramadhan 1830 Pangeran Diponegoro didera sakit malaria. Kesehatannya yang surut dan tekanan hebat pasukan Belanda menjadikan posisi pasukannya kian tersudut. Selama bulan puasa ia menjalani pengobatan di wilayah Menoreh Utara. Saat lebaran tiba dengan segala pertimbangan matang yang dilandasi sifat ksatria ia memenuhi undangan Jenderal de Kock untuk bertema di Karesidenan Kedu, di Magelang. Dengan taktik liciknya, dengan sangat culas dan pengecut, Belanda menangkap Diponegoro dan beberapa pengikut utamanya. Ia selanjutnya dibawa ke Semarang melalui Ungaran untuk menjalani masa pengasingan di Manado dan selanjutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam di Makassar hingga tutup usia.  Inilah takdir sang pangeran gagah perkasa dari Goa Selarong, Pangeran Diponegoro.

Takdir Diponegoro2

Uraian singkat kisah Diponegoro di atas merukan beberapa penggal isi buku Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 karya sejarawan Peter Carey yang merupakan salah satu Guru Besar Tamu bidang sejarah di Universitas Indonesia. Dalam acara bedah buku yang digelar oleh Komunitas Kota Toe Magelang, 5 Juli 2015 Peter Carey mengupas tuntas sisi riwayat hidup Diponegoro yang selama ini tidak seluruhnya diungkap secara jujur dan apa adanya. Banyak data dan fakta sejarah yang harus diluruskan kembali dalam rangka pembelajaran dan pewarisan nilai-nilai perjuangan Diponegoro untuk generasi penerus bangsa di masa depan.

Ndalem Peniten, 6 Juli 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s