Ramadhan dan Godaan


Memang sih kita selalu diberi pencerahan bahwa Ramadhan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, dan bulan penuh keistimewaan. Saking istimewanya bulan ini, setiap amalan wajib diganjar dengan pahala berlipat ganda. Amalan sunnah diberikan pahala sebagaimana amalan wajib. Setan dibelenggu untuk menggoda manusia, pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Betapa bulan ini seharusnya menjadi ladang panen pahala dan keberkahan bagi setiap ummat Islam.

Namun demikian, keistimewaan bulan Ramadhan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya tanpa ada usaha dan ihtiar manusia. Meskipun berbagai discount atau bonus kemurahan digelar murah meriah oleh Allah, namun jika si manusianya sendiri tidak memiliki itikad dan niat untuk lebih rajin lagi beribadah dalam bertaqarub kepadaNya tentu saja Ramadhan hanya akan berlalu tanpa makna sama sekali.

Untuk urusan puasa, mungkin sebagian dari kita bisa utuh menjalankannya dari awal bulan hingga akhir bulan Ramadhan. Namanya juga bulan puasa, puasa menjadi amalan wajib maka wajar jika ibadah utama yang mengisi bulan Ramadhan ya ibadah puasa itu sendiri. Lalu bagaimana dengan amalan ibadah lainnya? Terutama yang sunnah-sunnah? Bagaimana dengan sholat tarawihannya, dengan tadarusannya, dengan qiyamul lailnya?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap awal bulan Ramadhan, masjid-masjid dan mushola disesaki oleh jamaah pada saat pelaksanaan sholat tarawih. Tidak hanya menempati ruang utama sholat, jamaah tidak jarang tumpah hingga ke halaman bahkan jalanan di seputar masjid. Namun seiring bergulirnya hari-hari Ramadhan, barisan jamaah sholat tarawih bisa dipastikan senantiasa mengalami kemajuan dalam arti jumlah jamaah yang turut beribadah semakin sedikit. Demikian halnya untuk amalan-amalan ibadah yang lain. Ummat Islam senantiasa semangat di saat awal, tetapi seolah kehabisan stamina justru semakin mendekati saat-saat puncak Ramadhan.

Kondisi sebagaimana tergambar di atas, sebenarnya merupakan sebuah cermin bahwa meski segala rahmah dan kemurahan Allah telah digelar dengan murah meriah di sepanjang Ramadhan tetapi ternyata tanpa setan menggodapun manusia tetap menghadapi godaan dari kemalasannya sendiri. Dan bukankah Kanjeng Nabi sekalipun sangat menekankan pesan bahwa jihad terbesar bagi insan manusia adalah mengalah hawa nafsunya sendiri. Bukan mengalahkan setan atau iblis lho ya? Camkan ini!

Ndalem Peniten, 30 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s