Ramadhan dan Jalan-jalan


Jalan-jalan? Siapa yang tidak suka atau mau diajak jalan-jalan? Terlebih bagi manusia yang berjiwa petualang, jalan-jalan merupakan suatu cara untuk menyalurkan naluri menghibur diri ataupun menambah wawasan dan pengalaman. Jalan-jalan dan petualangan tentu membutuhkan stamina prima serta tenaga ekstra. Tuntutan kekuatan badan secara fisik tentu menjadi perhatian utama. Lalu seiring dengan bulan Ramadhan, apakah hasrat jalan-jalan Anda harus ditunda sementara waktu? Bukankah tatkala siang hari pada saat kita berpuasa, tenaga dan stamina tubuh jelas turun tidak seperti biasanya.

Sebenarnya kembali kepada model jalan-jalan apa yang kita lakukan. Jalan-jalan ringan sekitar tempat tinggal, taman kota, keliling kampung, atau jelajah alam hingga jelajah antar negara antar benua. Bukankah banyak pilihan?

Sebagaimana kebiasan di kampung halaman kami, justru yang namanya jalan-jalan di jalanan sekitar kampung eksis dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan. Tentu saja jalan-jalan yang saya maksudkan benar-benar aktivitas berjalan kaki.

Selepas sholat dan sekedar ceramah kuliah Subuh di masjid atau mushola, para remaja, muda-mudi, dan sebagian besar lagi terdiri atas golongan para bocah, menikmati cerahnya udara hawa pagi dengan berjalan-jalan di jalanan aspal antar desa yang membelah daerah kami. Jarak 3-4 km menjadi menu perjalanan yang terasa dalam nuansa yang sungguh sangat berbeda daripada nuansa di bulan-bulan yang lainnya.

Di samping aktivitas dalam rangka olah raga ringan, menikmati sejuknya hawa pagi, merasakan suasana pemandangan yang khas, jalan-jalan pagi sekaligus menjadi ajang silaturahmi diantara pemuda-pemudi, remaja-remaji, bahkan para bocah antar desa antar kampung. Melalui jalan-jalan pagi, tidak jarang kami saling diperkenalkan atau berkenalan dengan para pemuda-pemudi, remaja-remaji, dan para bocah dari kampung lain. Dengan demikian jalan-jalan pagi membawa hikmah bertambahnya teman dan kenalan di beberapa desa tetangga.

Aktivitas jalan-jalan pagi khas bulan Ramadhan pada umumnya ya hanya sebuah aktivitas berjalan bersama-sama dengan teman sebaya yang diisi dengan obrolan ringan ngalor-ngidul penuh ketawa-ketiwi khas anak muda. Beberapa pemuda terkadang juga menyandang gitar yang digenjrang-genjreng menyanyikan lagu ndangdut, campur sari, hingga keroncongan dan kasidahan.

Di samping para pejalan jalan-jalan pagi yang “santun nan sopan”, sebenarnya tidak sedikit pula diantara mereka yang berjalan pagi sambil membawa petasan. Istilah di dusun kami adalah long atau mercon. Ada yang berukuran mulai sebesar batang korek api yang disebut long ipret, hingga sebesar gelas minum. Kini bahkan telah banyak anak-anak yang menyulut kembang api yang juga dilengkapi dengan obat petasan sehingga menghasilkan ledakan menggelegar di angkasa tatkala percikan kembang api mengudara. Jangan heran jika pagi buta di bulan Ramadhan dipecahkan dengan suara dentuman atau ledakan petasan. Sepanjang hal ini tidak menciderai pihak lain atau menjadi sarana mengganggu pihak lain, secara umum masyarakat telah menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

Di samping keunikan, kemeriahan, keceriaan jalan-jalan pagi di bulan Ramadhan, aktivitas ini terkadang menjadi rawan jika sampai terjadi ejek-ejekan yang berujung kepada permusuhan diantara para pemuda antar desa. Pernah terjadi karena saling senggol, saling bercanda, saling mengejek lucu-lucuan, dua kelompok pemuda sempat beradu mulut, bahkan hingga berkelahi. Untuk hal terakhir ini, tentu saja kita semua sepakat sebagai sebuah ekses negatif yang harus dihindarkan sejauh mungkin.

Selain aktivitas jalan-jalan yang memang berjalan kaki dalam arti yang sesungguhnya, tidak ada salahnya pula jika Ramadhan diisi dengan perjalanan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan syiar dan penyebaran agama Islam. Mengunjungi berbagai masjid, bersilaturahmi ke berbagai pesantren, hingga perjalanan ziarah di makam-makan para wali dan aulia bisa menjadi alternatif perjalanan yang mendukung pendalaman makna ibadah puasa kita. Dengan tanpa mengabaikan kewajiban dan amalan ibadah di bulan Ramadhan, jalan-jalan semacam ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan keberagamaan kita dan lebih jauh lagi dapat mempertebal rasa iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME.

Apakah Anda juga memiliki pengalaman berjalan-jalan di bulan Ramadhan?

Ndalem Peniten, 16 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s