Ramadhan dan Ujian


UjianMasa kedatangan bulan Ramadhan tahun ini bersamaan dengan masa kenaikan kelas atau kelulusan bagi anak-anak sekolah. Sebelum masa tersebut tentu saja anak-anak harus menghadapi serangkaian tes atau ujian. Nah, apakah ada hubungan hikmah yang lebih mendalam antara Ramadhan dan serangkaian ujian bagi anak-anak kita tersebut?

Shahibul hikmah, setiap kejadian atau rangkaian kejadian yang dijalani oleh manusia senantiasa terkandung hikmah mulia sebagai tanda-tanda kebenaran ayat-ayat Allah SWT. Sebagaimana kita ketahui bersama, ayat-ayat Allah dapat dibedakan menjadi ayat-ayat kauliyyah dan ayat-ayat kauniyyah. Ayat-ayat kauliyyah merupakan ayat-ayat yang difirmankan dalam kitab suci Al Qur’an melalui pewahyuan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Adapun ayat-ayat kauniyyah merupakan bukti-bukti kebesaran Allah yang dihamparkan di alam semesta, termasuk peristiwa apapun yang terjadi di dalamnya. Ujian anak sekolah bisa dimaknai sebagai salah satu ayat kauniyyah tersebut.

Seorang siswa yang akan menghadapi ujian, tentu saja ia harus mempersiapkan bekal ilmu dan pengetahuan yang mencukupi. Untuk dapat lulus dari sekolah dasar, sejatinya seorang siswa sudah mempersiapkannya semenjak di bangku kelas satu. Bayangkan, masa enam tahun persiapan yang sungguh panjang dan melelahkan untuk menghadapi serangkaian ujian penentuan yang hanya berlangsung seminggu dua minggu. Demikian halnya seorang siswa sekolah menengah, butuh persiapan tiga tahun untuk menjalani ujian kelulusan.

Di dalam masa persiapan, tentu saja banyak latihan dan gemblengan yang harus ditempuh. Rangkaian pembelajaran dan pelatihan harian, pekerjaan rumah, ulangan, hingga dipuncaki dengan tes atau ujian.

Kita bergeser ke seorang olahragawan yang akan mengikuti suatu kejuaraan atau lomba. Untuk sekedar mengikuti perlombaan, terlebih untuk bisa menjadi pemenang, merekapun menggembleng diri dengan serangkaian proses latihan yang sangat panjang. Menggembleng fisik agar prima dan terjaga staminanya, menggembleng mental dan psikis agar kuat, juga berbagai teori permainan dan seluk-beluk pertandingan harus dipahami. Dan waktu, tenaga, biaya, pikiran harus dicurahkan hanya untuk sebuah perlombaan yang berlangsung dalam hitungan menit atau jam saja.

Seorang petinju profesional yang akan naik ring untuk merebut atau mempertahankan suatu gelar juara, berbulan-bulan ia sudah menggembleng diri. Latihan lari marathon untuk menjaga ritme dan stamina tubuh, latihan beban untuk meningkatkan tenaga dan daya hantam pukulan, mendalami teknik bertinju yang sempurna, melatih pukulan hook, jap, upper cut dan lain sebagainya adalah proses yang tidak ringan serta “berdarah-darah”. Namun semua proses itu secara sadar dijalani dengan penuh ketekunan demi sebuah prestasi, sebuah keberhasilan sebagai puncak pencapaian sebuah usaha. Hal yang sama berlaku pula untuk berbagai bidang kegiatan manusia.

Bagaimana dengan Ramadhan kita? Dengan puasa dan dan rangkaian ibadah yang mengiringinya? Sedari kecil kita mungkin senantiasa mendengarkan nasihat atau ceramah dari para kyai dan ustadz yang menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan bulan latihan untuk menghadapi sebelas bulan yang lainnya. Di bulan Ramadhan kita dilatih dengan puasa untuk membangkitkan rasa empati, rasa welas asih, rasa cinta dan kasih sayang sesama manusia. Dengan amalan sholat tarawih kita dilatih untuk memperkuat jamaah, untuk mengamalkan ibadah sunnah dan menghidupkan malam dengan sholat malam, untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan tadarus Qur’an kita dilatih untuk membaca, menyelami, menggali, mengkaji, dan kemudian mengamalkan perintah-perintahNya dengan lebih baik. Ramadhan dengan puasanya menjadi sarana latihan menuju kualitas manusia yang bertaqwa, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Jika kita cermat membandingkan latihan atau gemblengan seorang siswa untuk menghadapi ujian, ataupun kisah petinju sebelumnya, ada dua pendekatan pemikiran yang berbeda jika tidak dapat dikatakan bertolak belakang sama sekali. Seorang siswa, seorang petinju, menghabiskan sekian lama waktunya dengan penggemblengan diri untuk menghadapi puncak penentuan dengan waktu yang teramat singkat. Adapun Ramadhan justru rentang waktu yang pendek untuk mempersiapkan sebuah perjalanan yang panjang, satu bulan berbanding dengan sebelas bulan.

Jika seorang siswa digembleng selama berbulan-bulan, bahkan dalam bilangan tahun, setelah melalui masa tes atau ujian ia akan menggapai kenaikan kelas ataupun kelulusan untuk selanjutnya menempati peringkat kualitas yang lebih tinggi. Seorang petinju tadi, setelah sekian lama menempa diri dengan latihan yang keras, maka ketika bertanding ia mendapatkan kesempatan diri untuk membuktikan bahwa dirinya layak menyandang gelar juara, atau setidaknya layak berada di jajaran kelas para juara. Sebuah pencapaian prestasi kualitas yang lebih berkelas.

Adapun ummat Islam yang selama Ramadhan melatih diri dengan puasa, dengan tarawih, dengan tadarus dan lain sebagainya, apa yang tersisa di sebelas bulan selanjutnya? Dari seorang yang setiap hari rajin ke masjid, bersembahyang jamaah, bertadarus Qur’an setiap hari, apakah di sebelas bulan selanjutnya prestasi-prestasi ibadah itu masih bertahan atau dipertahankan? Adakah setelah Ramadhan berlalu masjid-masjid masih tetap makmur dengan aktivitas ibadah para jamaahnya? Apakah kemudian nilai-nilai ajaran Islam benar-benar bisa membumi dan menjadi rahmatan lil’alamin dalam kehidupan sehari-hari? Apakah selanjutnya tindak keji dan kemungkaran menjadi berkurang? Apakah korupsi di negeri dengan mayoritas kaum muslim ini kian susut? Secara jujur kita harus katakan bahwa pasca Ramadhan prestasi kita justru turun. Setelah Ramadhan kualitas kita kembali terpuruk. Setelah Ramadhan rem kita menjadi blong dan kita tabrak lagi segala aturan dan perintah agama. Inikah hikmah Ramadhan di jaman edan ini? Adakah sesuatu yang kurang tepat sehingga harus dimaknai dengan cara yang berbeda?

Bagaimana jika Ramadhan dipandang sebagai bulan ujian, sedangkan sebelas bulan yang lain hanyalah merupakan bulan latihan. Dengan cara pandang ini, kita mendudukan Ramadhan sebagaimana cara pandang seorang siswa, atau seorang olahragawan, atau seorang petinju, sebagai puncak ujian, sebagai laga perlombaan untuk meraih kelas yang lebih tinggi, untuk menggapai derajat yang lebih mulia, untuk meningkatkan kualitas diri menjadi insan yang lebih bertaqwa dan lebih bermartabat. Bukankah di Ramadhan ini segala pintu kebaikan menuju surga dibuka lebar-lebar dan segala pintu kemaksiatan menuju neraka ditutup rapat-rapat? Bukankah di bulan ini setan dan iblis dibelenggu untuk menggoda manusia? Bukankah kini semua amalan wajib dilipatgandakan pahalanya? Yang wajib lebih berpahala, yang sunnah diganjar pahala wajib. Alangkah ruginya jika bulan nan suci ini hanya dimaknai sebagai latihan. Bukankah lebih baik jika Ramadhan dimaknai sebagai saat panen pahala? Saat ujian untuk menentukan peningkatan derajat ketaqwaan kita di mata Allah SWT. Semoga bisa menjadi perenungan bersama? Wallahualam!

Ndalem Peniten, 19 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s