Ramadhan di Kampung


Marhaban RamadhanDulu sekali, sewaktu masih menjalani episode jadi mahasiswa di kampus, menjelang dan pada saat bulan suci Ramadhan sering mendengar sebuah akronim sakti khas bulan puasa. Bagi rata-rata mahasiswa muslim, tentu tidak asing dengan istilah RDK! Ya, RDK Ramadhan di Kampus. RDK merupakan sebuah program kemasan para aktivis muslim di kampus. Setidaknya untuk Kampus Biru Bulaksumur, RDK merupakan gawe tahunannya aktivis dan keluarga besar Jamaah Shalahuddin.

Di jaman itu, kampus semegah Gadjah Mada belum sama sekali memiliki Masjid Kampus. Untuk kegiatan rohani dan peribadatan civitas akademika muslim di masing-masing fakultas ataupun jurusan rata-rata telah memiliki mushola sendiri. Bahkan Jamaah Shalahudin sebagai organisasi kemahasiswaan otonom masih turut numpang di Gelanggang Mahasiswa samping Boulevard Bulaksumur. Namun dengan segala keterbatasan tersebut tidak pernah mengurangi gebyar dan makna kesakralan kegiata RDK.

Jika pada hari-hari biasa, puncak kegiatan Jamaah Shalahudin berpusat pada penyelenggaraan sholat Jum’at di Gelanggang, maka pada bulan Ramadhan banyak digelar acara bernuansa religius dan islamis. Sebagai menu utama tentu saja ibadah sholat tarawih dan subuh dengan masing-masing ceramahnya. Acara ceramah selalu menjadi perhatian para mahasiswa maupun masyarakat umum yang bergabung. Kultum maupun kuliahh subuh pada RDK di Gelanggang selalu menampilkan para tokoh ulama dan kaum cendekiawan muslim Jogja bahkan yang berkaliber nasional juga bertebaran.

Di samping program ibadah dan kajian-kajian spesial, kegiatan RDK lain yang paling diminati para mahasiswa adalah acara buka bersama alias bukber. Ratusan bahkan ribuan mahasiswa senantiasa antusias menunggu saat Maghrib dengan bergabung di acara bukber tersebut. Alasan yang sering terungkap dari celotehan mahasiswa kala itu sebenarnya bukan dalam rangka acara ceramah dan kajian pendahulunya, tetapi banyak yang didasari karena sajian takjilannya yang gratis. Maklum para mahasiswa yang anak kos tentu sangat tertarik dengan segala hal yang berbau gratis. Termasuk saya, tentu saja!

Cerita Ramadhan dengan RDK-nya memang tinggal kenangan di masa lalu. Di berbagai kampus di era jaman sekarang mungkin masih ada yang menggelar acara Ramadhan dengan istilah RDK atau mungkin telah menggantinya dengan istilah yang lain. Selepas merantau dan tenggelam dalam kesibukan dunia kerja, tentu saja RDK menjadi sebuah keistimewaan yang kini tidak bisa sembarang dinikmati oleh kaum yang kebetulan tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa ataupun civitas akademika.

Mirip dengan RDK, terkadang para pemuda kampung kala itu juga sering memplesetkan RDK dengan Ramadhan di Kampung. Nah, untuk RDK yang satu inipun merupakan hal yang sangat mustahil untuk dirasakan nuansanya bagi para perantauan. Namun demikian, khusus untuk Ramadhan tahun 1436 H ini kami sekeluarga sengaja mudik kampung untuk kembali menyelami dan menikmati suasana Ramadhan di Kampung halaman. Tarawih ramai-ramai, tadarusan tanpa absen, ngangklang bangun sahur dengan kemeriahan thethek kenthongan, kuliah Subuh penuh hikmah, jalan-jalan pagi muda-mudi, hingga tradisi takjilan dan jaburan yang selalu memikat hati. Siapa yang tidak ingin menikmatinya setelah sekian lama di rantau.

Marhaban Ya Ramadhan. Semoga Ramadhan tahun lebih baik bagi kita semua.

Ndalem Peniten, 17 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s