Transportasi Mati Suri


Mobilitas manusia masa kini sudah sangat tinggi. Meskipun dunia telekomunikasi sudah memberikan alternatif solusi akibat kendala jarak dan waktu, namun tetap saja ada suatu kegiatan manusia yang tidak bisa atau belum bisa dilakukan secara jarak jauh. Sebagai contohnya adalah mobilitas masyarakat dari tempat tinggal menuju tempat kerja. Masyarakat sub-urban dari pinggiran ibukota Jakarta, tentu saja banyak yang memerlukan menuju tempat kerja di kawasan pusat ibukota. Hal ini menjadikan perlunya ketersediaan sarana transportasi yang handal.

Bagi masyarakat kalangan menengah ke atas, untuk menuju tempat aktivitas sehari-hari tentu saja telah banyak yang memiliki sarana kendaraan pribadi, apakah roda dua maupun roda empat. Adapun bagi masyarakat kalangan bawah, sarana transportasi massa seperti bus antar kota, bus kota, angkot dan kereta api sudah menjadi santapan sehari-hari.

Persoalan nyata yang kini terjadi di ibukota adalah terus meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, sementara pertumbuhan sarana transportasi massa berjalan begitu lambat. Kereta api lokal atau yang lebih dikenal sebagai commuter line sebagai alternatif sarana transportasi massa memang menjadi pilihan termurah. Akan tetapi peningkatan minat pengguna belum diimbangi dengan bertambahnya jumlah rangkaian kereta. Hal ini mengakibatkan, pada jam-jam sibuk kereta api senantiasa dijejali dengan penumpang yang membludak. Permasalahan antrian penumpang saat keluar dari stasiun juga menyisakan masalah yang kian mendesak. Bisa dikatakan layanan kereta api lokal saat ini belum memenuhi harapan banyak penggunanya, bahkan belum bisa dikatakan memanusiakan manusia.

Bagaimana dengan layanan bus kota. Nah ini dia, saya ingin sedikit berkisah mengenai salah satu armada bus yang melayani sisi barat ibukota menuju pusat kota Jakarta. Perkembangan jumlah kendaraan pribadi, khususnya roda empat, telah semakin memperparah kemacetan di jalan tol ruas Tangerang – Tomang. Jarak tempuh yang tidak lebih dari 20 km, di saat jam macet harus ditempuh selama 2-3 jam. Tentu saja hal ini sudah sangat tidak sehat bagi konsep suatu jalan tol. Maka tidak mengherankan jika ada anekdot jalan TOL dipanjangkan menjadi “tetep ora lancar“.

Di tengah kondisi kemacetan yang semakin parah, justru komitmen layanan dari armada bus yang saya kisahkan ini semakin rendah. Sering armada berulah dengan mogok massal, berkaitan dengan protes terhadap pihak manajemen. Namun dalam aksi mogok tersebut seringkali tidak diumumkan kepada penumpang sebagai pelanggan setia. Seringkali penumpang yang akan berangkat kerja tiba-tiba “kecele” di pangkalan bus karena ketiadaan bus. Beberapa kali aksi pemogokan juga dilakukan berkaitan dengan kenaikan tarif jalan tol. Di setiap ujung aksi mogok, yang sering terjadi sebagai efeknya adalah kenaikan tarif secara sepihak tanpa instruksi ataupun keputusan organda, dinas perhubungan, dll. Akibatnya, para pelanggan semakin kecewa dengan layanan bus yang satu ini.

Kekecewaan penumpang setia dengan armada bus diperparah dengan keadaan jalan tol yang kian padat dan macet. Akhirnya banyak diantara penumpang setia yang beralih ke alternatif sarana transportasi yang lainnya. Yang memiliki kendaraan pribadi, mungkin terpaksa pulang-pergi ke tempat aktivitas dengan kendaraannya. Adapun yang tidak memiliki kendaraan pribadi, banyak diantaranya yang beralih dengan kereta commuter line. Ongkos transportasi tentu saja menjadi berlipat dengan kondisi seperti di atas.

Kedua keadaan yang tidak kondusif telah benar-benar menjadikan bus kota yang saya maksudkan ini mengalami kemunduran yang sangat berarti. Jika dulunya dengan masih banyaknya jumlah penumpang, mereka bisa memberangkatkan bus setiap 10-15 menit. Kini di jalam berangkat kerjapun belum tentu bus bisa penuh dalam waktu satu jam. Jika di jam pagi dulu bus terakhir sudah berangkat jam 06.45-07.00, kini hingga jam segitu masih banyak bus yang antri diparkir rapi. Terlebih di luar jam pergi-pulang kantor, bus semakin tidak jelas. Bisa dikatakan armada untuk trayek yang satu ini sudah benar-benar mati suri dan tinggal menunggu saat kepunahannya.

Namun yang menurut saya anehnya, perkembangan keadaan yang semakin tidak kondusif yang cenderung akan semakin merugikan banyak pihak, seperti penumpang, perusahaan bus, ataupun kru bus ini seolah tidak mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait. Tidak ada tanda-tanda tindakan dari dinas perhubungan setempat untuk mempertahankan atau justru mengganti layanan bus “bermasalah” ini dengan armada yang lain. Hal ini penting mengingat bahwa ratusan penumpang setia  menjadi telantar dan tidak mendapatkan pelayanan yang layak untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Lor Kedhaton, 8 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Transportasi Mati Suri

  1. dokteralif berkata:

    Seperti itulah menjadi dilema. Membawa kendaraan sendiri tambah macet, naik angkotan umum ya “tetep ora lancar”. Lalu gimana? Apakah harus jalan kaki meskipun jarak puluhan kilometer?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s