Hujan Nisfu Sya’ban


Nifsu SyabanSenja itu petang segera menjelang. Ketika saja tiba di Ndalem Ngisor Blimbing, rupa-rupa dua bedhes sudah riuh dengan isu nipsu sya’ban. Entah mendengar wejangan dari siapan, entah menerima pengajian dari ustadz mana, lha ini kok tiba-tiba saja anak-anak seumuran satu dan tujuh tahun pada merengek-rengek nipsu sya’banan. Mereka  meminta kami sekeluarga bergegas untuk turut berkumpul di mushola. Selepas magrhib hingga Isya akan digelar peringatan nifsu sya’ban. Saya sedikit heran dengan “keanehan” anak-anak ini.

Tapi kalau menurut diagnosis awal, saya kira kampung dimana kami tinggal memang memiliki tradisi unik setiap kedatangan pertengahan bulan Sya’ban. Seluruh warga kampung turut berperan mengikuti acara nifsu sya’an. Jadilah tidak mengherankan, bahkan di mata anak-anak kecilpun sudah demam nifsu sya’ban sejak pagi hari.

Akhirnya, selaku orang tua yang melihat antusiasme anak-anak dengan niat kebaikan, maka sayapun tidak bisa tidak ya harus menuruti keinginan duo bedhes kami. Bahkan tanpa sempat mandi dan sekedar berganti baju, saya hanya punya sedikit waktu untuk berwudlu. Maklum petang itu kepulangan saya ke rumah memang sudah sangat mepet dengan waktu Maghrib. Dengan menggendong si Noni, kamipun bergegas menuju mushola dekat tempat tinggal kami.

Rupanya petang itu memang petang istimewa. Gang-gang dan jalan-jalan kampung menuju mushola nampak penuh dengan jamaah yang ingin jamaah Maghrib. Hal ini memang sedikit berbeda dengan hari-hari biasa dimana jamaah mushola hanya terbatas yang itu-itu saja. Petang itu kampung kami seolah menjelma menjadi kota santri. Sungguh suasa yang penuh dengan kekhitmatan dan kesyahduan.

Tatkala memasuki mushola, tak salah lagi, ruang utama dan ruang tambahan untuk jamaah putri telah penuh sesak dengan jamaah. Bapak-bapak, kakek-kakek, anak-anak dan para bocah, juga ibu-ibu sudah gemrengeng bagaikan suara ratusan lebah yang tengah mengerumi sarang madunya. Semuanya nampak sumringah menyambut nifsu sya’ban. Hal ini juga ditandai dengan bawaan air putih, baik dalam kemasan botol, galon, hingga ceret dan panci yang segera memenuhi sudut mushola.

Selepas sholat Maghrib berjamaah ditunaikan, mulailah proses nifsu sya’ban dimulai. Rangkaian acara diawali dengan ceramah dari Pak Uztadz mengenai seluk-beluk nifsu sya’ban. Nifsu sya’ban bukan suatu ibadah wajib. Tidak ada tuntunan untuk menunaikan sholat tertentu. Acara ini hanyalah sebuah tradisi di dalam menyambut akan datangnya bulan suci Ramadhan.

Selepas ceramah, acara inti nifsu sa’ban diisi dengan pembacaan Surat Yaasin sebanyak tiga kali. Di masing-masing sela bacaan Yaasin, dipanjatkanlah doa nifsu sya’ban yang dipandu oleh Pak Ustadz. Arahan bagi kami waktu itu agar berdoa meminta tiga hal, masing-masing adalah kekuatan iman islam, kesehatan jiwa dan raga, serta kelimpahan dan keberkahan rejeki.

Selepas doa terakhir dipanjatkan, ndilalahlah seketika terlihat kilatan cahaya. Pada awalnya saya mengira ada seseorang yang memotret kami dengan pancaran sinar blitz-nya. Namun seketika juga pecah petir menggelegar yang diiringi dengan guyuran air hujan yang teramat deras. Tanpa menunggu komando, para jamaah yang sebelumnya telah mempersiapkan air putih segera mengambil air putih masing-masing. Mereka masih sangat meyakini bahawasanya air putih yang telah diolah dengan pancaran gelombang ayat suci dan doa dapat membawa keberkahan, bahkan dapat menyembuhkan penyakit dan memperlancar rejeki. Tentu saja atas izin dan perkenan Allah SWT.

Rangkaian peringatn nifsu sya’banpun berakhir dan ditutup dengan sholat Isya berjamaah. Hanya itu acaranya? Ya, memang hanya itu!

Beberapa tahun silam, selain menyiapkan air putih untuk didoakan, warga kampung juga membawa ketupat dan sayur lodeh yang khusus dipersiapkan untuk acara nifsu sya’ban. Saya tidak tahu persis makna dibalik simbolisasi ketupat dan sayur lodeh, tetapi satu sama lain diantara warga saling membagi-bagikan kedua jenis makanan tersebut. Di sana ada semangat kebersamaan yang terbangun. Di sana ada nilai saling berbagi asih. Di sana satu sama lain saling memberikan perhatian kepada para tetangga. Di sana terjalin ukhuwah dan silaturahim yang semakin erat.

Saya tidak tahu persis kenapa nifsu sya’ban beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi diwarnai dengan ketupat dan sayur lodeh. Namun bagaimanapun, sebagai sebuah tradisi kebaikan kita tentu sepakat untuk melestarikannya.

Ngisor Blimbing, 2 Juni 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s