Kreditor Patungan


Tengah tahun segera menjelang. Bagi para pelajar maupun mahasiswa, tengah tahun biasanya berbarengan dengan akhir masa ujian kenaikan kelas atau tingkat. Selepas ujian ditunaikan, maka liburan panjang segera tiba. Siapa yang tidak senang? Terlebih liburan kali ini digandeng-renteng sekaligus dengan liburan lebaran. Jadilah liburan nanti akan berlangsung lebih panjang lagi.

Ada yang bergembira di masa liburan panjang kenaikan kelas, tetapi ada juga yang justru dilanda pusing tujuh keliling pada masa liburan pajang. Diantara mereka adalah para pelajar yang baru lulus dari suatu jenjang pendidikan. Yang baru lulus TK akan memasuki bangku SD, yang lulus SD akan menempuh SMP, yang lulusan SMP akan melanjutkan ke SLTA, demikian halnya para lulusan SLTA ada yang tengah kasak-kusuk mencari tempat kuliah.

Di samping si anak atau calon mahasiswa yang pusing mencari tempat studi baru, tidak ketinggalan tentu saja para orang tua dari yang bersangkutan juga ikutan bersibuk ria. Selain dukungan moral dan doa, hal yang nampaknya merupakan suatu masalah tersendiri adalah soal biaya. Meskipun banyak jargon mengenai pendidikan dasar hingga bangku SLTP yang gratis, namun pada praktiknya di lapangan tidak ada yang namanya sekolah gratis full seratus persen. Terutama pada saat-saat pendaftaran dan penerimaan siswa baru.

Sebut saja Bang Saat, tetangga di sebelah rumah Ngisor Blimbing. Semenjak beberapa hari ini ketenangannya sedikit terusik dengan urusan si anak sulungnya yang akan segera lulus dari SD. Pilah-pilih beberapa sekolahan yang dapat dimasuki anaknya, akhirnya ia manut anaknya yang ingin mendaftar di sebuah SMP dekat rumah. Namun ya itu tadi tidak ada yang benar-benar gratisan, bahkan di luar hitungan biaya pendaftaran, registrasi, seragam dan lainnya. Menurutnya di samping biaya itu semua, yang menambah pusing adalah “biaya pesan bangku”.

Demi masa depan anaknya, tetangga yang berprofesi sebagai tukang ojek tersebut sempat berbincang dan mengutarakan sesuatu kepada saya. Dari penghasilan keseharian yang tidak menentu, tentu saja ia merasa membutuhkan bantuan pinjaman uang untuk kelanjutan sekolah anaknya tadi. Kebetulan istrinya yang seorang karyawati telah memiliki sekedar tabungan. Namun mengandalkan tabungan itupun belum mencukupi untuk ndaftar sekolah. Maka, ia memerlukan pinjaman uang untuk menggenapinya. Dan hajatnya itulah yang disampaikan kepada saya.

Terus terang saya sendiri tentu saja bukanlah orang yang serba berkelebihan sehingga bisa dengan pasti langsung mengiyakan keinginan tetangga saya itu, terlebih di saat hal itu diutarakan di puncak tanggal tua. Akhirnya saya hanya menyampaikan bahwa saya perlu membicarakannya dengan keluarga, dan mudah-mudahan di kesempatan setelah tanggal gajian nanti saya bisa memberikan jawaban dan syukur-syukur bisa membantu Bang Saat itu.

Selepas tetangga saya undur diri dari rumah kami, sayapun segera membicarakan hal di atas dengan istri. Saya sampaikan selengkapnya cerita tetangga kami. Nah di sela pembicaraan, si Ponang anak kami langsung turut nimbrung, “Udah Pak dikasih pinjam saja! Kan kasihan Bang Saat nggak punya uang. Nanti kita patungan saja, Bapak 500ribu, Ibu 500 ribu, saya juga urun 500 ribu.”

“Lha emang kamu punya uang?” spontan saya bertanya.

Si Ponang mantap menjawab, ” Ya dari tabunganku lah Pak!”

Dalam batin saya langsung mengucap puji syukur yang luar biasa. Satu hal berkaitan dengan urusan Bang Saat yang kemungkinan kami akan mendapatkan jalan untuk turut membantu persoalannya. Tetapi rasa syukur yang jauh lebih luar biasa itu tadi berkaitan dengan kegagahan si Ponang yang memberikan rasa empati terhadap permasalahan orang lain yang kebetulan juga tetangga dekat rumah kami tadi. Mudah-mudahan dari peristiwa kecil tersebut senantiasa membukakan pintu-pintu keberkahan bagi keluarga kami dan para tetangga kami.

Ngisor Blimbing, 31 Mei 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s