Aroma Mafia Haji


Seorang rekan beberapa pekan silam berkisah tentang krenteknya naik haji ke tanah suci. Meskipun baru sekedar mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji yang harus menunggu atrian 15 tahun, namun seolah ada kelegaan ketika ia telah membulatkan tekad untuk menjawab panggilan yang mungkin masih sangat sayup-sayup terdengar dari jarak waktu yang masih panjang tersebut. Hal ini tentu sangat berbeda dengan diri penulis yang masih terus merasa tidak memiliki modal iman dan ketaqwaan yang mencukupi sehingga mampu mendengar getar panggilan Tuhan. Terlebih soal modal biaya karena tanggungan sekolah anak-anak dan berbagai kebutuhan, ditambah lagi dengan sikap tak tega hati melihat diri sendiri dan sesama rakyat yang masih serba kekurangan.

Setelah akhirnya mendaftarkan diri melalui sebuah bank yang memberikan layanan pendaftaran calon jamaah haji, rekan saya tersebut sempat bercerita kepada rekan lain yang kebetulan istrinya bekerja di kementerian yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji. Mendengar antrian 15 menunggu untuk dapat berangkat, meskipun sebelumnya sudah harus melunasi sebagian besar biaya haji, rekan saya yang lainnya tadi memberikan sebuah saran urun rembug. Menurut dia, jika ingin ndesel alias melompati antrian sehingga dapat menyingkat waktu antrian, ada cara yang bisa ditempuh.

Menurut rekan yang satu ini, dikarenakan antrian yang panjang dan lama, tidak jarang ada calon jamaah yang menjelang saat keberangkatan batal dikarenakan berbagai sebab. Mungkin ada jamaah lanjut usia ataupun karena sakit meninggal dunia. Ada yang batal karena sakit berat. Ada yang batal karena mengundurkan diri (mungkin karena telah sempat beberapa kali naik haji, dan banyak lagi halangan yang lainnya.

Nah orang dalam kementerian yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji tentu ada yang bidang tugasnya menangani, termasuk mengelola informasi-informasi kebatalan tersebut di atas. Dalam kondisi ada jamaah yang batal berangkat, tentu saja nama yang bersangkutan akan dihapus dari data urutan antrian calon jamaah haji. Logika normal dan sederhananya kalau ada antrian panjang dimana beberapa orang dalam antrian tersebut mengundurkan diri atau batal mengantri, tentu saja pengantri selanjutnya akan maju mengisi urutan yang kosong tadi.

Namun bukan namanya di Indonesia jika celah seperti ini tidak ada yang memanfaatkannya sebagai celah untuk mengambil keuntungan pribadi. Lha kok bisa? Namanya juga Ngindonesya Mas! Jadi kekosongan antrian justru diperjual-belikan oleh oknum tertentu. Jika ingin menyodok antrian bisa diatur dengan bayaran senilai rupiah tertentu. Harganyapun bisa diatur dan bervariasi. Kalau nyodok antrian dari yang berada di urutan tunggu 20 tahun menjadi 10 tahun, tentu lebih mahal dibandingkan yang maju dari urutan tunggu 20 tahun ke 15 tahun.  Rupanya inilah permainan okunm di kalangan internal pegawai pemerintah yang notabene harus paling memiliki pengetahuan dan akhlak agama yang paling tinggi.

Lalu tawaran sodok-menyodok yang ditawarkan oknum tertentu tersebut apakah ada peminatnya? Apakah ada yang mau Mbak? Ya kembali lagi, namanya Ngindonesya! Ada demand ada supply, ada penawaran ada permintaan, ada jual ada pula pembelinya.

Bagi kita masyarakat awam tentu saja nggumun bin heran mendengar kenyataan seperti ini. Wong namanya ingin berhaji, beribadah menunaikan rukum dalam rangka menyempurnakan agama kok yang harus ditempuh dengan cara kolutif dan korup seperti itu. Lha gek kalau banyak oknum dan calon haji yang berkolusi jahat seperti itu, terus bagaimana dengan kualitas para haji kita ya? Semoga cerita yang seperti ini tidak banyak dan hanya merupakan sebuah kasustis kecil oleh oknum yang terbatas saja. Tetapi jika ternyata oknumnya banyak ya kita kembalikan saja hukumannya kepada Allah.

Lor Kedhaton, 20 Mei 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s