Randa Royal


Dalam khasanah bahasa Jawa, kata randa berbeda makna dengan ronda. Memang sangat kebetulan jika kata randa berarti janda. Berbeda satu huruf awal, berbeda bahasa, namun memiliki arti yang sama. Randa, ya janda itu tadi. Seorang perempuan yang pernah berumah tangga namun kemudian berpisah dari sang suami. Entah sebab suami meninggal dunia, maupun akibat proses perceraian. Itulah randa yang saya maksudkan.

Dalam jagad perkulineran masyarakat Jawa, randa royal sebagaimana yang saya tuliskan sebagai judul tulisan ini, juga merupakan nama jenis makanan yang dikenal di kalangan masyarakat umum. Randa royal merupakan gorengan yang terbuat dari tape ketela yang ditumbuk lembut seperti adonan tepung kemudian dibulat-bulat. Nah bulatan tersebut selanjutnya dibalut adonan tepung untuk kemudian digoreng dalam minyak panas. Kombinasi antara rasa tape dan kulit tepung yang gurih menghasilkan cita rasa randa royal yang sangat khas. Nyamikan sederhana ini sangat cocok menemani sajian kopi atau teh hangat. Terlebih pada saat suasana hujan gerimis. Wis, mak yuuus habis wis!

Melalui pengantar judul randa royal, saya sebenarnya sedang tidak ingin membicarakan makanan dari tape dan tepung tadi. Serius, randa royal yang saya singgung ini benar-benar berkaitan dengan janda yang ditinggalkan suaminya. Mbak Wina Lia? Jelas bukan! Meskipun kisah janda yang menawarkan menjual rumahnya sekaligus menawarkan diri untuk diperistri pembeli rumahnya tersebut telah menghangat kembali seiring telah ada pria yang menyanggupinya, namun jelas bukan sosoknya yang ingin saya ceritakan.

Randa royal yang satu ini masih terhitung tetangga dekat rumah. Belum satu tahun ini, tetangga tersebut ditinggal suaminya yang meninggal akibat komplikasi berbagai penyakit. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, ia harus melanjutkan hidup dengan tanggungan tiga orang anak yang dua diantaranya masih duduk di bangku SD dan SMP. Si sulung, atas kebaikan pihak pabrik tempat sang ayah bekerja, didaulat melanjutkan kerja ayahnya menjadi karyawan pabrik.

Hanya dengan mengandalkan topangan hidup dari si sulung, sebenarnya hidup keluarga kecil tersebut sangat pas-pasan. Untuk mengisi waktu si janda berjualan makanan ringan bagi anak-anak di lingkungan sekitar kami. Sekedar mie goreng, es sirup, gorengan dan snack anak-anak. Hanya saja, beberapa saat sebelum si suami meninggal, keluarga tersebut sempat menjual sepetak tanah warisan orang tua tepat di belakang rumah. Nilai rupiahnya tergolong lumayan, sekitar beberapa ratus juta. Niat awalnya dulu untuk menambah biaya pengobatan. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain dengan memanggil sang suami ke haribaan-Nya.

Mungkin merasa mengantongi uang yang lumayan banyak, bukan menjadikan si janda berhemat dan bijaksana dalam mengelola keuangan keluarga, justru yang terlihat oleh para tetangga adalah sifat royal alias borosnya. Si bungsu yang manja dan merengek ingin memiliki laptoppun tanpa berpikir panjang langsung dibelikan laptop baru nan kinyis-kinyis. Meskipun anaknya baru kelas dua SD dan hanya menggunakan laptop canggih tersebut untuk bermain game ria, tetapi ada semacam rasa bangga di benak ibu setengah baya tetangga saya tersebut.

Terakhir kemarin kebetulan si bungsu berulang tahun. Si anak meminta untuk diulang-tahuni secara meriah. Demi rasa sayang anak, beberapa tetangga dan kerabatpun dikerahkan untuk mempersiapkan sebuah pesta. Berbeda dengan kebanyakan warga di sekitar kami yang memperingati ulang tahun anaknya hanya ala kadarnya sebagai wujud syukur dan doa permohonan umur sarat keberkahan, tetangga saya mempersiapkan ulang tahun anaknya secara lebih serius. Jika pada umumnya kami sekedar menyuguhkan nasi urap, atau nasi kuning, dengan sedikit snack untuk anak-anak, maka ulang tahun yang satu ini sengaja memesan segala sesuatunya dari restoran ternama. Untuk anak-anak di lingkungan kami, ia memesan fried chicken puluhan dus. Lengkap dengan minuman teh gelas dan kelengkapannya. Dengar-dengar satu paket bingkisan tersebut tak kurang dari 15 ribu harganya.

Mendapatkan bingkisan makanan yang wah, tentu saja anak-anak merasa senang-senang saja. Tetapi sebagian orang tua merasa alangkah sayang dan kurang bijaksananya menuruti segala kehendak anak tanpa memberikan pengajaran moral yang memadai. Di tengah kondisi keluarga yang pas-pasan penghidupannya, mungkin lebih bijaksana jika sedari dini anak-anak dipahamkan dengan kehidupan yang bersahaja dan penuh kesederhanaan. Meskipun pada saat ini masih memiliki uang banyak dari hasil penjualan tanah tadi, akan lebih berguna jika uang tersebut dipergunakan secara lebih hemat tokh masa pendidikan anak-anaknya juga masih begitu panjang dan akan memerlukan banyak biaya.

Namun tampaknya hal-hal yang dipikirkan para tetangga tersebut tidak menjadi pertimbangan utama bagi si randa royal. Setelah ketiadaan suami yang dapat memimpin keluarga kecilnya dengan sikap yang lebih bijaksana, si janda seperti lepas kendali dan kurang kontrol dalam mempergunakan keuangan keluarga. Hal inilah yang menjadikannya mendapat julukan randa royal tadi.

Tulisan ini bukan bermaksud menyinggung perilaku tetangga yang memang memiliki hak penuh untuk mempergunakan segala harta benda miliknya untuk kehidupannya sendiri. Akan tetapi sebagai sebuah bagian dari kelembagaan masyarakat, hendaknya kita bijaksana dalam mendidik anak-anak sejak dini. Tidak setiap hal yang menjadi keinginan anak harus diturutkan. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan umur pendewasaannya. Segala hal pemberian orang tua harus diukur secara proporsional berdasarkan perkembangan psikologis dan psikis si buah hati. Jangan sampai atas nama sayang anak segala hal diperturutkan tanpa berpikir panjang dan bijaksana. Jangan-jangan anak menjadi merasa seperti raja yang segala keinginannya harus terwujud, tidak penduli bagaimana orang tua harus banting tulang untuk menurutinya. Sangat disayangkan jika sifat manja dan tak mandiri itu kemudian terlanjur terbawa hingga dewasa. Maka yang akan terjadi adalah lahirnya orang-orang dewasa yang masih tetap bermental kanak-kanak. Demikiankah yang kita inginkan terhadap anak-anak kita?

Lor Kedhaton, 18 Mei 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s